
FRANKLINE Ndifor, pendeta di kota Douala, Kamerun yang mengaku mampu menyembuhkan pasien Covid-19 hanya dengan menyentuhkan tangannya ke tubuh korban, tewas akibat virus tersebut.
Sampai akhir pekan lalu (16/5), tercatat 214 warga Kamerun tewas akibat terpapar Covid-19 dari seluruhnya 3.529 orang yang positif tertular virus yang sudah menewaskan 329.152 orang dan menjangkiti 5.079. 238 warga di 216 negara tersebut (sampai 21/5).
Harian “The Daily Mail” (19/5) mewartakan, para jemaah yang menganggap Ndifor sebagai “nabi” di kota Douala, Kamerun, berbondong-bondong melayat ke Gereja Kingship Int’l Ministeries yang didirikannya yang juga digunakan menyemayamkan jasadnya.
Testimoni kematian Ndifor akibat paparan Covid-19 disampaikan oleh dr. Galle Nnanga yang dipanggil untuk menyembuhkan almarhum dan bersaksi, ia menghembuskan nafas terakhir sekitar 10 menit setelah ditanganinya.
Polisi segera didatangkan untuk membubarkan kerumunan massa agar tidak terjangkiti Covid-19, sebaliknya massa memprotes rencana pemakaman Ndifor, karena menganggap ia tidak meninggal, tetapi sedang “berkonsultasi dengan Tuhan”.
Para pemuja Ndifor menolak pemakamannya, karena mereka memikirkan nasib para korban Virus-19 tanpa kehadiran sang pendeta, namun setelah diberi pengertian, akhirnya massa merelakan pendeta teresbut dimakamkan di depan rumahnya.
Selain dianggap mampu menyembuhkan korban Covid-19, Ndifor juga dikenal sebagai dermawan yang memberikan sumbangan a.l sabun sanitasi di tengah pandemi dan juga salah satu dari delapan calon presiden dalam Pemilu Kamerun 2018.
Sikap “sok jago” terhadap ancaman Covid-19 juga sering terjadi di Indonesia, misalnya orang yang ngamuk saat diminta untuk tidak shalat berjamaah di masjid dalam rangka physical distancing , menolak mengenakan masker, mengabaikan seruan untuk tidak mudik atau melanggar protokol kesehatan lainnya.
Berbagai klaim “temuan” obat anti Covid-19 juga bertebaran di medsos, misalnya pria di Pekalongan yang mengaku dapat wahyu bahwa tape singkong manjur untuk obat virus ganas itu atau juga yang mengatakan, virus Covid-19 amblas, cukup berkumur-kumur dengan air garam.
Bahkan jamu “Covid Organics” terbuat dari tanaman artemisia dari negara pulau di Samudera Hindia, Madagaskar konon manjur melawan Covid-19 sehingga diangkut khusus dengan pesawat terbang ke Nigeria, Guinea Equator dan Guinea Bissau.
Pengobatan altenatif boleh-boleh saja, tetapi AS saja menggelontorkan USD 2 triliun (sekitar Rp30 triliun atau 15 kali APBN RI) untuk Covid-19 termasuk menemukan vaksinnya , jadi jika ada orang mengklaim mampu menyembuhkan atau ada obat mujarab seperti garam atau tape, rasanya tidak masuk akal.
Akal sehat serta nalar diperlukan, agar kita tidak mudah termakan hoaks terkait temuan obat atau orang-orang sakti “mandraguna”yang bisa menyembuhkan penderita Covid-19. (the Daily Mirror/VOA/NS)
-19?




