Berlomba Dalam Kebaji…ngan

Meja kerja ini sangat mewah, tapi harganya apakah sampai Rp 1 miliar?

 

ALQUR’AN surat Albakarah 148 telah mengingatkan: berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan. Maka ketika seorang menantu loyal pada mertua, sudah jamaknya, karena mertua telah memberikan “kebahagiaan” pada menantunya. Tapi ketika manusia modern banyak yang dalam lindungan syaiton,  justru ada mertua dan menantu yang berlomba-lomba dalam keba……jingan!

Senin malam lalu (01/06) KPK menghadirkan ganjilnya kehidupan itu. Seorang mertua, Nurhadi eks Sekretaris MA, dan seorang menantu Rezky Herbiono, secara bersama-sama ditangkap KPK dari persembunyiannya di sebuah rumah di Simprug, Kebayoran Lama, Jaksel. Bayangkan, mertua-menantu kompak menjadi penjahat negara, karena selama bertahun-tahun keduanya mengumpulkan uang suap dan gratifikasi sebanyak Rp 46 miliar.

Mereka ini dicari dan diintai KPK sejak 4 bulan lalu, alias menjadi buronan negara. Sebelumnya, keduanya telah dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi. Tapi ketika dipanggil pertengahan Februari lalu untuk diperiksa KPK, ternyata mereka wasalam alias kabur.

Di sebuah rumah di Simprug inilah mereka kena batunya, meski bukan penderita penyakit ginjal. Tak jelas di rumah siapa mereka. Sebab rumah Nurhadi memang ombyokan. Maka eks Sekretaris MA ini memang luar biasa. Anak kecil punya balon lima saja hatinya sudah sangat kacau, ini bocah kelahiran 63 tahun lalu, punya 13 rumah sempat bikin bingung penyidik KPK. Didatangi rumah itu satu persatu, tak pernah ada. Tahu-tahu eh….nyempil di Simprug.

Nurhadi MA (bukan titel) ini  memang bisa bermuka dua. Saat masih aktif di MA, dia bisa bikin program “kawasan bebas korupsi”. Tapi ironisnya,  diam-diam dia sendiri selintutan rajin menampung suap dan gratifikasi dalam berbagai kasus hukum yang ditangani MA, hingga mencapai jumlah Rp 46 miliar.

Secara langsung memang negara tak dirugikan, sebab yang digerogoti Nurhadi MA ini bukan dari dana APBN. Tapi kebijakan dan hukum negara yang dirugikan, karena pejabatnya tega menyelewengkan gara-gara terima uang swasta. Dan Nurhadi selama ini melakukan secara “rapi”, tanpa disadari oleh para Hakim Agung yang menyidangkan perkara.

Tapi orang Jawa punya filosofi becik ketitik ala ketara (baca: kejahatan lama-lama terungkap juga). Dan akhirnya Sekretaris MA yang sok suci itu kena batunya. Ketika bukti-bukti sudah banyak dikantongi KPK dia sempat menggelontor setumpuk uang dalam kloset untuk menghilangkan barang bukti.

Bayangkan, uang kertas ratusan juta bahkan mungkin miliaran hanya dibuang percuma ke dalam septitank. Tapi begitulah uang, jika mencarinya gampang, membuangnya juga gampang. Di mata Nurhadi, uang rupiah seperti tak ada harganya. Dia pernah beli meja kerjanya di kantor dengan uang pribadi, seharga Rp 1 miliar. Mungkin meja ini dilapisi emas sampai ke kaki-kakinya.

Rezki Herbiono terseret dalam pusaran korupsi, karena dia menjadi juru tampung uang haram itu. Bisa dia dapat fee, bisa juga karena sekedar berbakti pada mertua. Sebab sebagaimana kata dalang Ki Anom Suroto, berbakti pada mertua adalah juga kewajiban seorang menantu. Sebab mertua itu telah memberikan jumbuhing rasa nikmat (baca: kebahagiaan cinta) lewat anaknya.

Istri Nurhadi, Tin Zuraida, yang jadi pejabat di Kementrian PAN-RB, sebetulnya tak terlibat secara langsung dengan aksi suaminya. Tapi karena berulangkali dipanggil sebagai saksi selalu mangkir, maka ketika ada pula dalam penangkapan di Simprug, sekalian pula dibawa serta. Ini benar-benar “swarga nunut nraka katur” (ikut saja atas nasib suami).

Paling unik adalah laporan Neta S. Pane, Ketua Presedium Indonesia Polisi Watch, sudah 5 kali Nurhadi dipergoki salat duha di 5 mesjid ibukota. Tapi setiap hendak ditangkap selalu lolos. Rupanya dia sudah bertobat, tapi kok masih kucing-kucingan ketika hendak ditangkap KPK? Logikanya, jika sudah bertobat mestinya pasrah saja, bahkan menyerahkan diri, apa pun resikonya siap menjalani. (Cantrik Metaram)

Advertisement