Bakso Ber-“micin” Ludah

Gara-gara ulah Windra, pedagang bakso cuanki sebagaimana gambar di atas bisa dijauhi konsumen. Tapi biasanya hanya sementara.

TUKANG bakso Windra Suherman (21), agaknya kebanyakan makan micin. Bagaimana sih, ludahnya sendiri dijadikan “micin” untuk penyedap dan penglaris bakso dagangannya. Masya Allah….., era milenial begini masih ada orang percaya dukun.  Apa dia nggak mikir bahwa sekarang CCTV ada di mana-mana? Padahal ulahnya itu salah-salah bisa merusak pasar perbaksoan di Jakarta, meski hanya sementara.

Ludah dan lidah itu satu paket, saling berhubungan. Tak percaya, coba saja saat mau menempel perangko atau meterai. Jika tak ada lem, ke mana larinya? Paling praktis dan ekonomis ya tinggal melet, dijilat itu perangko atau meterai, lalu ditempel. Selesai itu masalah. Begitu pula orang baca buku, banyak juga yang membuka lembarannya dibantu dengan olesan air ludah. Pasti anak sekarang akan bilang, ih…..jorok!

Ludah memang menjijikkan,  sehingga orang diludahi bisa tersinggung. Meludah seenaknya juga dilarang, sehingga sering ada papan peringatan: jangan meludah sembarangan. Masalahnya, jika pemilik ludah itu pengidap TBC atau pembawa virus Covid-19, bisa menular ke orang lain, yakni bagi penginjak ludah tersebut.

Tapi beda lagi dengan ludahnya kiyai atau dukun supit (khitan). Olesan ludah kiyai yang diiringi doa komat-kamit, bisa menyembuhkan penyakit. Bahkan dukun khitan juga mengolesi luka khitan pasiennya dengan ludah agar cepat kering. Maka dalam kultur orang Jawa ada istilah “idu bacin”.

Dalam dunia anak muda, pacaran sampai “tukar ludah”  juga sering terdengar. Itu terjadi ketika ciumannya kelewat hot. Padahal kata dokter, pertukaran ludah itu sama saja menstransver 278 jenis bakteri ke pasangannya. Apa lagi musim Corona begini, berciuman kelewat hot jadi perantara efektif Covid-19.

Bagaimana dengan ludahnya tukang bakso cuanki ala Windra Suherman? Ini baru saja viral di medsos. Gara-garanya, dia percaya omongan dukun Joko –tapi jelas bukan Ki Joko Bodo– bahwa agar baksonya laris, ludahi saja setiap mangkok untuk konsumen. Maka saat meracik bakso pesanan pelanggan, dia mencuri-curi untuk meludahi semangkok bakso itu sebelum dihidangkan ke pembeli.

Tapi Windra lupa bahwa sekarang ini CCTV ada di mana-mana, sampai-sampai orang ke toilet saja ada yang diintip CCTV. Ketika dia jualan di Kembangan Jakarta Barat, aksi jorok dan jahatnya itu terekam oleh CCTV. Pembeli yang bukan orang sumbu pendek, membayar saja tapi tak dimakan. Namun beberapa saat kemudian dia unggah ke medsos.

Bakso itu makanan rakyat sampai presiden. Buktinya Presiden Obama dari AS dan Jokowi juga senang. Maka ketika video bakso Windra Suherman diunggah ke medsos, gemparlah masyarakat penggemar bakso. Terutama untuk konsumen yang kadung makan bakso Windra beberapa hari belakangan ini. Dia bisa muntah kadaluwarsa, gara-gara makan baksonya sudah beberapa hari lalu, tapi muntahnya baru sekarang.

Tak ayal tukang bakso itu diperiksa di Polsek Kembangan.  Awalnya dia berkelit dengan argumentasi bahwa hanya untk meyakinkan sudah diberi sambel atau belum racikan bakso itu, karena kondisi gelap. Tapi setelah dicecar pertanyaan berdasarkan videonya, dia akhirnya mengaku bahwa aksi peludahan itu untuk penglaris, karena ini menurut petunjuk bapak dukun.

Kata pakar budaya dan dosen Sastra Arab UGM, Abdul Jawat Nur, jamp-jampi untuk penglaris dagangan kuliner, sudah biasa terdengar. Banyak yang melakukannya. Ciri-cirinya adalah, jika menu itu hanya terasa nikmat ketika dimakan di situ, tapi ketika dibawa pulang menjadi hambar.

Windra Suherman rupanya juga seperti itu. Kepada polisi dia mengaku ke dukun Joko seminggu lalu saat pulang kampung ke Jabar. Jika sudah 5 hari saja meludahi bakso-baksonya, berapa orang saja yang jadi korban kejahatan Windra? Seandainya dia mengidap Covid-19 yang masuk kategori tanpa gejala, berapa orang yang bakal ketularan. Semoga saja tidak separah itu.

Yang jelas ulah Windra ini salah-salah bisa merusak pasar perbaksoan keliling di Ibukota, meski hanya sejenak. Konsumen jadi tak mau membeli bakso gara-gara ludah setitik Windra. Dulu pernah rame diberitakan pedagang bakso ditangkap karena pakai bakso daging anjing. Tapi biasanya hanya berpengaruh seminggu dua minggu saja, setelah itu konsumen sudah melupakannya. (Cantrik Metaram)

Advertisement