MARAH itu naluri dan sangat manusiawi. Dari tukang becak sampai presiden pasti pernah mengalami. Jika ada perbedaan, kemarahan tukang becak hanya berimbas pada keluarga dan tetangga, kemarahan seorang presiden bisa berdampak se-nusantara bahkan internasional. Maka kemarahan seorang Kepala Negara akan dicatat dalam sejarah. Bung Karno pernah marah karena dikentuti Soeharto (Supersemar), Soeharto pernah marah karena digrecokin Ali Sadikin Cs (Petisi 50), dan Jokowi marah karena menterinya kerja lamban di tengah krisis Corona.
Sekitar pertengahan Maret 1966 Bung Karno marah-marah pada Jendral Soeharto, karena dia merasa dikentuti. “Supersemar itu dibuat untuk mengamankan keadaan, bukan pengalihan kekuasaan,” kata Bung Karno. Sekian puluh tahun kemudian Pak Harto berkuasa gentian memarahi Ali Sadikin Cs karena lewat Petisi 50 hendak mengkritisi pemerintahannya. Pak Harto siap menggebuk siapa saja yang melanggar konstitusi.
Ternyata alasan serupa digunakan Jokowi, dia juga akan menggebuk siapa saja yang bertindak di luar koridor hukum dan demokrasi sesuai konstitusi. Dan kali ini lagi-lagi Presiden kembali marah, tapi bukan masalah konstitusi melainkan karena para menterinya tak punya intuisi. Bagaimana tidak? Dalam kondisi genting karena Corona para menteri kerja standar saja. Pinjam istilah sekarang, “Santai saja Coy.”
Ada media online yang sempat mencatat, sudah berapa kali Jokowi marah sebagai presiden. Dari periode pertama hingga sekarang ini, tercatat 11 kali marah-marah. Masalahnya macem-macem, dari kecewa akan kinerja kabinetnya, pihak luar yang merongrong program kabinetnya. Dalam kemarahan itu jika tak mengancam dengan reshuffle kabinet, juga akan menggebug, ngomel sontoloyo, menggigit dengan caranya sendiri, sampai akan membubarkan lembaga dan ganti menteri.
Tapi kata pakar semiotika (gesture) dari UI, Ibnu Hamad, tingkat kemarahan Presiden Jokowi kali ini sudah sampai ke level 9, karena pakai wajah menyeringai segala. Namun demikian kemarahan Presiden Jokowi masih terkontrol, tidak sampai seperti Prabu Baladewa wayang kulit yang memaki “ongkak-angkik bedagan ala” atau meremas-remas nasi dan membalikkan meja seperti Aryo Penangsang, gara-gara menerima surat tantangan perang dari Sultan Hadiwijaya.
Dalam dunia perwayangan, tokoh paling kondang pemarah memang Prabu Baladewa sebagaimana telah disinggung di atas. Dia memang tokoh yang mudah tersinggung, gara-gara punya penyakit ludira inggil (darah tinggi) tapi nggak mau kontrol. Siapapun berani meledeknya sebagai bule, langsung voltasenya naik dari 110 ke 220 volt.
Tokoh wayang lainnya adalah Prabu Puntadewa dan Prabu Sri Batara Kresna. Mereka kondang tidak pernah marah. Tapi jika tersinggung harga dirinya, mereka bisa menjelma sebagai raksasa luar biasa besar. Prabu Puntadewa menjadi Dewa Amral dan Prabu Kresna menjelma jadi raksasa Brahala.
Marah paling “ideal” adalah gaya Presiden Soeharto. Karena begitu lamanya memerintah (32 tahun), dia jadi sangat berkuasa dan ditakuti lingkaran elit politik dan rakyatnya. Jangankan sampai mau menggebuk, baru Pak Harto mendehem saja, para menteri dan kepala lembaga sudah kuncup nyalinya. Mereka baru berani mengangkat mukanya mana kala Menpen Harmoko menyampaikan petunjuk Bapak Presiden.
Presiden yang tak pernah memperlihatkan kemarahannya di depan publik justru Megawati – SBY, tapi dampakya terasa lamaaaa sekali di mata publik. Bagaimana tidak? Gara-gara SBY diam-diam menyelinap menjadi Capres dan mengalahkannya, Megawati tak mau bertegur sapa dengan SBY selama dua periode pemerintahan arek Pacitan itu.
SBY dan Megawati memang lebih pandai memenej kemarahannya. Sedangkan Jokowi, meski sudah berkali-kali menunjukkan kemarahannya, bahkan ada ancaman reshuffle segala, para menteri tak menjadi takut dibuatnya. Soalnya, dalam kasus Corona ini misalnya, beliaunya pernah bilang, “Menghadapi wabah Corona jangan panik.”
Nah, karena Presiden sudah mengatakan demikian, para menteri ya kerja satitahe (santai saja). Makanya jika Jokowi benar-benar menumpahkan kekesalannya, paling-paling para menteri dalam hati akan bilang seperti lagunya Is Haryanto (Favorit Group) tahun 1970-an, “Ingin marah silahkan, ingin diam silahkan, asalkan jangan kau putus cintamu…..Oo ya! (Cantrik Metaram)





