
SEJAK ada medsos dan media online, energi bangsa banyak yang terbuang percuma hanya karena mengurusi hal yang remeh temeh. Hal yang sebetulnya hanya sekedar guyonan kelas K-5, bisa menjadi pembahasan nasional. Misalnya soal klepon yang tidak Islami, beberapa hari lalu ramai di media online, sampai MUI pun menanggapi. Padahal jika merujuk ke ilmu “othak-athik mathuk” (dipas-pasin), justru jajanan klepon itu sangat Islami. Bukankah warna hijau identik dengan Islam?
Sebetulnya yang memposting kali pertama si klepon itu orang iseng yang kurang kerjaan belaka. Celakanya, yang kali partama iseng juga banyak yang menanggapi. Akhirnya persoalan iseng itu menjadi serius, apa lagi MUI ikut juga berkomentar. Kata KH Asrorun Niam Sholeh dari komisi fatwa MUI, ini guyonan (joke) yang berbahaya.
Dia beralasan, soalnya jika “si klepon” ditanggapi secara serius, salah-salah bisa memecah umat. Karenanya polisi diminta segera bertindak, agar menjadi pembelajaran bahwa jangan seenaknya posting sesuatu di medsos. Jika dibiarkan bisa melebar jadi bahan saling ledek di tengah masyarakat.
Bisa juga, pengunggah “si klepon” itu sekedar ingin bikin guyonan satire. Ini sebagai kelanjutan tersinggung atau protesnya masyarakat Sumbar karena ada Injil berbahasa Minang. Maka sekalian saja biar ramai, jajan pasar “si klepon” dibenturkan dengan kurma buah-buahan produk Timur Tengah. Dan ternyata berhasil, terbukti jagad maya menjadi heboh.
Guyon atau humor itu sangat manusiawi, orang Jawa menyebutnya sebagai rabuk jiwa, membikin orang awet muda, bahkan Insya Allah bikin panjang umur. Lebih-lebih di musim pandemi Corona yang menjadikan ekonomi sulit, bisa tertawa sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Tapi ingat, janganlah tertawa terbahak-bahak dengan bahu terguncang-guncang jika tanpa masker, karena –siapa tahu Anda terpapar– itu bisa membuka peluang virus Covid-19 menyebar ke mana-mana.
Yang namanya humor itu selalu makan korban. Di zaman yang serba maju ini perasaan umat menjadi tambah sensitip (sumbu pendek), karenanya harus lebih bijak ketika melempar humor. Janganlah menyentuh SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan), itu bisa menimbulkan luka publik. Makanya mantan Menpen Harmoko pernah bilang, “Berhati-hatilah melempar humor yang berkaitan dengan agama, jika audiensi (pendengar) tidak seiman dengan kita, bisa jadi masalah.”
Dalam soal “si klepon” ini misalnya, sebetulnya jika yang kali pertama membaca postingan itu sengaja diam tak bereaksi, pastilah yang mau iseng gagal total. Tapi karena ditanggapi, akhirnya jadi ke mana-mana. Soalnya, pengunggah pertama akan merasa puas dan bangga. Sebaliknya jika didiamkan, dia akan capek sendiri dan berhenti.
Dalam postingan “si klepon” itu kenapa musti ditambahi kata-kata provokatif: dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami. – Abu Ikhwan Azis. Padahal ketika dicari ke mana-mana sosok Abu Ikhwan dan tokonya tak pernah ketemu. Apakah postingan itu sekedar perang dagang antara penjual klepon dengan penjual kurma di suatu tempat?
Dalam postingan itu juga tak dijelaskan, apa alasannya “si klepon” tidak Islami. Padahal jika mau menggunakan ilmu “othak athik mathuk”, jawabannya adalah: justru “si klepon” sangat Islami. Bukankah warna hijau dalam makanan itu sangat identik dengan Islam? Taplak meja meja Pengadilan Agama berwarna hijau, plang-plang papan nama sekolah Islam kebanyakan berwarna hijau. Bahkan kain penutup keranda juga hijau.
Demikian juga parutan kelapa yang bertaburan di situ, itu kan mirip rambut ubanan. Padahal uban adalah pertanda tua. Itu bisa diibaratkan, ormas-ormas Islam sebagaimana Muhammadiyah (1912) dan NU (1926) adalah ormas tua yang selalu eksis di negeri ini, menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil kebijakan. Contoh sederhana, sidang isbat menentukan 1 Ramadan dan 1 Syawal, Kemenag selalu mengundang Muhammadiyah dan NU.
Maka jika mau mengikuti alur pikiran si pengunggah postingan “si klepon”, kalau begitu burung yang Islami adalah Emprit Kaji dong, karena kepalanya putih. Sedangkan burung gereja menjadi Nasrani karena pakai nama tempat ibadah umat Nasrani. Padahal di belahan bumi manapun tak ada burung beragama. Makanya burung gereja tak pernah ikut kebaktian, dan Emprit Kaji juga tak pernah Jumatan. Ini sebetulnya guyonan lama di tengah masyarakat.
Jika mau ditambahkan, bisa saja “menyoal” kenapa ada tokoh perwayangan bernama Abimanyu, Abiyasa, Abilawa. Memangnya pencipta lakon Mahabarata dulu politisi dari PKS? Itu semua kan sekedar humor, yang tak perlu dibikin baper. (Cantrik Metaram)




