Amonium Nitrat yang Meluluh-lantakkan Beirut

Kawasan pelabuhan Beirut, ibukota Lebanon luluh lantak akibat meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang ada di salah satu gudang (4/8) . 137 orang tewas, 5.000-an luka-luka dan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal.

RIBUAN ton Amonium Nitrat yang meluluh-lantakkan kawasan pelabuhan Beirut, Lebanon, Selasa sore (4/8) adalah senyawa kimia yang biasa digunakan sebagai bahan pupuk atau campuran bahan peledak untuk kegiatan pertambangan.

Dilaporkan, paling tidak 137 orang tewas, 5.000-an luka-luka, belum lagi yang masih hilang, dan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat meledaknya gudang yang menyimpan 2.750 ton bahan kimia itu.

Begitu dahsyatnya ledakan yang ditimbulkannya, diduga berkekuatan sampai magnitudo 3,3 atau setara seperlima kekuatan bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus, 1945 yakni 16 kilo ton TNT.

Ditemukan dan lalu ditambang pertama kalinya di kawasan gersang  Gn.  Atacama, Chili, Amonium Nitrat berupa kerak di tanah yang dalam perkembangannya kemudian  diproduksi sebagai bahan kimia sintetik.

Sebagai bahan peledak, Amonium Nitrat yang larut di dalam air, banyak digunakan di sektor pertambangan seperti pembukaan situs, kegiatan konstruksi sipil dan penggalian.

Namun penggunaannya juga berisiko karena dalam keadaan terurai menjadi gas dinitrogen oksida dan uap air, jika dipanaskan dapat terinduksi dan luruh secara eksplosif, sedangkan stok bahan dalam jumlah besar bisa memicu ledakan akibat oksidasi zat-zat campurannya seperti terjadi di kota Texas City, AS pada 1947.

Umumnya, Amonium Nitrat murni bersifat compact, stabil dan tidak mudah menyala , bahkan dalam berbagai kasus, senyawa kimia Amonium Nitrat yang tidak murni pun tidak mudah meledak di tengah  kobaran api.

Ledakan bisa terjadi akibat mekanisme transisi shock to detonation berasal dari muatan bahan peledak yang meledak dalam massa atau memantik campuran bahan peledak yang kontak dengan massa atau berasal dari api yang merambat ke Amonium Nitrat atau campuran  bahan yang mudah terbakar.

Banyan yang Membantu

Tawaran bantuan pada Lebanon berdatangan a.l. dari Australia, Inggeris, Itali, bahkan Presiden Perancis Emmanuel Macron langsung terbang ke Beirut, begitu pula PM Israel Benyamin Netanyahu yang negerinya “berseberangan secara politik” menyatakan kesiapannya membantu.

Lebanon yang  merdeka dari Perancis 1943 tak pernah lepas dari konflik dan gejolak politik, bak pelanduk di tengah gajah-gajah kekuatan regional (Arab Saudi, Iran dan Suriah) yang berebut pengaruh, juga terimbas perseteruan panjang antara negara-negara Arab dan Palestina melawan Israel.

Menjadi lokasi basis operasi bahkan di bawah kontrol PLO antara 1970 sampai 1972, sekitar separuh wilayah Lebanon pernah diduduki Israel selama beberapa bulan pada 1982 dan di bawah pengawasan Suriah (1983 – 2005).

Panglima Keamanan Lebanon Abbas Ibrahim mengimbau semua pihak untuk berhenti berspekulasi bahwa peristiwa itu dilakukan oleh teroris,  sebaliknya mantan Agen CIA di Timteng,  Robert Baer menduga,dari bola api  raksasa berwarna oranye yang muncul dari ledakan, diduga kuat ada bahan peledak militer selain NH4NO3 yang ikut terbakar.

Amonium Nitrat yang meledak itu semula diangkut oleh kapal kargo Rusia, MV Rhosus dari kota pelabuhan Batumi, Georgia menuju Mozambik pada September 2013, namun mengalami kerusakan sehingga sandar di pelabuhan Beirut.

Pemilik kapal karena satu dan lain hal melepaskan kepemilikan atas kapal itu, sementara pembeli membatalkan pembeliannya sehingga otoritas pelabuhan Beirut menempatkan di gudangnya sejak 2014.

Menurut otoritas pelabuhan Beirut, mereka sudah berkali-kali meminta  pengadilan yang memerintahkan penyitaan untuk memindahkan barang berbahaya itu, namun tidak digubris.

Penyelidikan terus berlangsung untuk memastikan penyebab peristiwa yang menelan banyak korban tersebut dan menyeret para pelaku atau pihak-pihak yang terlibat. (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement