“Cuti”-nya Kyai Slamet

Malem 1 Suro 1442 H kali ini rombongan Kyai Slamet absen dulu.

KETIKA di Jakarta sekelompok orang bikin aksi hendak menyelamatkan Jakarta, di Surakarta Sinuwun PB XIII juga mencoba menyelamatkan kebo Kyai Slamet dari paparan Covid-19. Maka pada malam 1 Suro 20 Agustus lalu, kirab pusaka plus kebo Kyai Slametnya tak digelar. Dikhawatirkan kebo dan rakyat penontonnya terpapar.

Bagi Kraton Surakarta (Solo), kerbau Kyai Slamet merupakan asset tak ternilai dan tak tergantikan. Kyai Slamet adalah kerbau legendaris. Meski sekedar hewan memamah biak, tapi kerbau ini sangat dihormati bahkan dianggap keramat oleh warga kota Solo pada umumnya.

Tempat tinggalnya di kandang alun-alun Kidul. Tapi sering juga ngelayab ke mana-mana. Keluar dari kandangnya dan kemudian tindak-tindak ke mana suka. Bukan saja di seputar kota Solo, bisa juga sampai kota-kota sekitar Solo. Tapi uniknya, setiap menjelang peringatan 1 Suro kerbau itu pasti komplit di kandangnya.

Masyarakat Sala begitu mengkeramatkan mereka. Di jalan rombongan Kyai Slamet bisa makan apa saja yang dijumpai, tapi pemilik malah merasa dapat “berkah”. Bahkan, ketika kerbau itu buang kotoran, tletongnya ada yang memanfaatkan untuk obat. Begitulah manusia, jika sudah percaya betul, akhirnya menafikan logika.

Kerbau-kerbau itu secara turun-temurun dipelihara Keraton sejak Sinuwun Paku Buwono (PB) II. Konon kerbau itu awalnya pemberian seorang Kyai di Ponorogo, ketika Sinuwun PB II keplayu (mengungsi) ke Ponorogo gara-gara Geger Pecinan (1740). Ketika siatuasi sudah aman, PB II kembali ke Keraton Kartosura yang ternyata sudah hancur. Dibangunlah istana baru di Keraton Surakarta sekarang.

Kerbau Kyai Slamet oleh-oleh dari Kyai Ponorogo anak keturunannya sangat dikramatkan warga Solo. Setiap malam 1 Suro kerbau-kerbau itu selalu disertakan dalam kirab pusaka, keliling kota. Ini tradisi yang juga turun temurun sejak jaman Balanda. Dalam barisan paling depan, tepat pulul 24.00 rombongan Kyai Slamet kaluar dari kandangnya dan mengikuti prosesi sakral sekali setahun itu.

Tapi beberapa kali kirab pusaka, Kyai Slamet pernah mogok. Artinya dia keluar dari iring-iringan pergi entah ke mana. Pernah katanya ngambeg karena tak tahan oleh lampu blits. Maka kini wartawan dilarang memotret dengan lampu blitz.

Tapi gara-gara Corona, di mana di Solo juga banyak korban berjatuhan, Pemkot dan Keraton Solo menghormati seruan pemerintah pusat. Maka sesuai protokol kesehatan,  kali ini malam 1 Suro beberapa hari lalu di Solo tanpa kirab pusaka.

Maka ketika di Jakarta ada aksi menyelamatkan Indonesia, Keraton Surakarta kecil-kecilan sajalah, membuat gerakan menyelamatkan  kerbau Kyai Slamet. Soalnya jika kerbau-kerbau itu terpapar Corona dan mati, ke mana cari gantinya? Ini asset Keraton yang tak ternilai dan harus dijaga.

Ketika kerbau-kerbau itu dikerubuti massa tanpa kontrol, sangat rawan untuk terpapar Covid-19. Keraton Surakarta pun tak mau ambil resiko. Kerbau-kerbau Kyai Slamet kali ini bisa cuti lenggah sekeca (duduk manis) di kandangnya dan Suran di Kraton Solo juga diselenggarakan secara climen (sederhana) dan terbatas. Hidup Kyai Slamet! – (Cantrik Metaram)

Advertisement