BANJARNEGARA (KBK)—Akibat terjadi pergerakan tanah di Desa Clapar Banjarnegara, jalan yang menghubungkan Madukoro-Clapar terputus. Namun demikian, anak-anak Desa Clapar yang terisolasi tetap gigih berangkat ke sekolah.
Masyarakat dibantu TNI, Polisi, dan relawan lembaga kemanusiaan pun harus “babat alas” untuk membuat jalan alternatif. “Kita membuka jalur yang membelah perkebunan salak milik warga,” ujar Arif, tim kemanusiaan Dompet Dhuafa yang berada di lokasi kepada KBK, Senin (28/3/2016).
Arif menambahkan, jalanan yang curam dan licin itu harus dilalui warga untuk bisa beraktivitas keluar desa. Panjangnya kurang lebih 1,5 kilometer. Relawan pun mendampingi anak-anak sekolah atau warga yang ingin melintas untuk memastikan mereka aman.
“Setelah melintasi kebun salak, ada mobil yang standby untuk mengantar warga,” tambah Arif.
TNI, Polisi, dan BNPB sudah menyediakan kendaraan, mulai dari jenis truk hingga minibus untuk mengangkut warga. “Kami hanya mem-back up, jika mobil yang dibutuhkan kurang,” tukasnya.
Sebagaimana diketahui, Jumat (25/3) lalu, terjadi pergerakan tanah di Desa Clapar Banjarnegara. Sedikitnya 15 rumah rusak berat atau hancur, sementara puluhan lainnya mengalami rusak ringan. Ratusan warga yang mendiami area sekitar bencana dievakuasi ke tempat aman.
Ada 230 warga yang mengungsi. Sebagian di rumah keluarga, sebagian lainnya menempati bangunan TK Pertiwi yang difungsikan sebagai pusat pengungsian. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebelumnya memerintahkan warga untuk direlokasi ke tempat aman. Pasalnya, pergerakan tanah diprediksi akan terus terjadi.





