
SEJAUH ini belum ada teknologi yang bisa mendeteksi gempa bumi yang memicu tsunami, baik dalam hitungan tahun, bulan, apalagi hari, sehingga kesiapan harus selalu dilakukan mengacu pada kejadian-kejadian lalu.
Hasil penelitian tim dipimpin Guru besar Seismologi ITB Prof. Dr. Sri Widiantoro dalam paparannya yang diterbitkan Jurnal Natur Scientific Report cukup mengejutkan, karena menyebutkan, implikasi gempa megathrust (gempa berkekuatan besar) di selatan jawa berpotensi memicu tsunami setinggi 20 meter. (Kompas, 29/9)
Pakar tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Ing. Widjo Kongko mengamini temuan tersebut dan meyakini, potensi ancaman gempa megathrust dan tsunami di zona subduksi selatan Jawa memang ada.
Mengacu pada katalog Wichman, ia memperkirakan, potensi gempa besar dan tsunami mengacu pengulangan 400-500 tahun gempa besar di zona subduksi selatan Jawa bisa terjadi dalam waktu dekat ini.
Gempa megathrust yang berpotensi gelombang tsunami setinggi 20 meter, menurut dia, bisa terjadi kapan saja walau tingginya di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera bisa bervariasi. “Perlu diingat, gempa bumi dan tsunami merupakan siklus , jadi warga yang tinggal di pesisir harus selalu siap siaga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Prof. Dwikorita Karnawati M.Sc, Ph.D (CNBC, 26/9) yang menyebutkan, pihaknya juga menyertakan pakar geofisika Dr. Pepen Supendi dalam penelitian potensi tsunami yang dilakukan ITB tersebut.
Menurut dia, riset dilakukan secara multidisiplin dan lintas instansi untuk mengkaji potensi gempa bumi yang terjadi di zona seismic gap pada sumber gempa megathrust selatan Jawa dan memodelkan dampak serta tingginya gelombang tsunami.
Jejak Tsunami 400-an Tahun Lalu
Sementara Kepala Pusat Geoteknologi LIPI Dr. Eko Yulianto yang melakukan penelitian di bekas area tsunami yang melanda pantai Pangandaran, Jawa Barat pada 17 Juli 2006 menemukan jejak tsunami yang terjadi 400-an tahun lalu sekitar 350 meter dari garis pantai.
Kurun waktu 400 tahun lalu tersebut ditandai oleh temuan lapisan pasir halus yang kaya dengan fosil kerang foraminifera di permukaan tebing Sungai Cikembulan yang biasanya ada di laut dalam. Fosil diperkirakan terangkat akibat tsunami besar saat itu.
Eko menyimpulkan, tsunami yang terjadi sekitar 400 tahun lalu itu lebih dahsyat dari dibandingkan yang melanda Pangandaran pada 2006, bahkan Aceh pada 2004 karena menyapu lebih 800 meter garis pantai.
Bahkan Peneliti Paleotsunami Pusat Geoteknologi LIPI, Pura S Putra MT menyebutkan, pihaknya juga menemukan deposit fosil dari 1.000 tahun, 1800 dan 3.000 tahun lalu. “Mungkin lebih banyak lagi jejak tsunami yang belum ditemukan akibat keterbatasan dana riset, “ tuturnya.
Yang mencemaskan, semakin maraknya pengembangan kawasan pesisir selatan Jawa, termasuk Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Pantai Kulon Progo yang dibangun di atas jejak tsunami temuan tim ITB yang melakukan penggalian sepanjang dua Km dari pantai pada 2018.
Potensi tsunami di area bandara YIA juga sudah diiingatkan oleh Widjo Kogko sebelum pembangunannya dimulai dengan menyarankan agar dicari lokasi yang lebih aman.
Jika gempa pada 7,7 Skala MMI dan tsunami di pantai Pangandaran pada 2006 menewaskan 668 orang dan sekitar 9.300 orang luka-luka, kehadiran Bandara YIA yang menciptakan magnit ekonomi baru di kawasan sekitarnya patut ditata dengan mitigasi risiko bencana. “Siapkah jika terjadi bencana 9,0 MMI?,” tanya Widjo.
Mitigasi mutlak harus dilakukan mulai kini, karena gempa bumi dan tsunami datang tiba-tiba, tanpa permisi!
(26/9/2020).




