
ORANG tua yang sudah mengeluarkan uang untuk menitipkan anaknya di Daycare atau penitipan anakĀ mestinya dengan tenang bisa bekerja atau beraktivitas lainnya tanpa mencemskan keselamatan anaknya.
Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Kasus dugaan kekerasan anak kembali terjadi di sebuah tempat penitipan anak atau daycare Little Aresha, Yogyakarta.
Kasus ini seperti ditulis kompas.com mencuat setelah polisi melakukan penggerebekan di lokasi penitipan anak tersebut di kawasan Porosutan, Umbulharjo, kota Yogyakarta,Ā Jumat sore (24/4).
Orangtua wali yang menitipkan anaknya di tempat tersebut mengaku terkejut dan kecewa setelah mengetahui kondisi asli fasilitas serta dugaan perlakuan tidak manusiawi yang dialami anak-anak mereka.
Salah satu orangtua korban mengungkapkan, fasilitas yang dijanjikan oleh pihak Little Aresha hanyalah klaim semata. Saat diperbolehkan masuk ke ruang penitipan oleh polisi, ia menemukan kondisi yang jauh berbeda dari apa yang ditawarkan di brosur.
Awalnya, pihak daycare menjanjikan fasilitas lengkap seperti pendingin ruangan (AC), kasur, beragam mainan, hingga pendidikan tiga bahasa (Jawa, Indonesia, Inggris) dan dasar agama.
“Dilihatin semua video-video dan foto-foto dan akhirnya dipersilakan masuk ke daycare-nya yang tidak sesuai fasilitasnya dengan brosur yang ada,” ujar Hita, Sabtu (25/4).
Kenyataannya ruangan tersebut tidak dilengkapi AC maupun kasur yang layak. “Fasilitas yang dijelaskan lengkap yaitu ada AC, kasur, mainan, dapat makan di usia dua tahun, mandi, dan lain-lain.
Yang kenyataannya tanpa AC, tanpa kasur, hanya matras puzzle,” tuturnya. Padahal, Hita telah menitipkan anaknya sejak usia 3,5 bulan pada tahun 2024. Biaya penitipan pun mengalami kenaikan dari Rp 1 juta menjadi Rp 1,2 juta per bulan pada tahun ini dengan alasan kenaikan biaya pendidikan.
Kekecewaan orangtua semakin memuncak saat kepolisian mengungkap praktik keji yang dilakukan oleh pengasuh.
Polisi Saksikan adanya kekerasan
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, membeberkan bahwa pihaknya menyaksikan langsung perlakuan tidak manusiawi saat penggerebekan.
āAda yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,ā tegas Adrian di Mapolresta Yogyakarta.
Aldewa, orangtua korban lainnya, baru menyadari anaknya menjadi korban setelah melihat video yang beredar di media sosial.
Sebelumnya, ia sempat menemukan luka lebam di kaki anaknya namun mengira hal tersebut terjadi karena jatuh saat bermain.
āSaya baca jam 5 sore. Ada ibu jemput anaknya, memperlihatkan anak-anak ditayangkan di video ada yang diikakat tangan atau kakinya, ” tutur Aldewa.
Terakhir kemarin dijemput mbahnya itu ada luka lebam di kaki. Istri saya bilang kayaknya jatuh, jadi saya tidak tanya pihak sekolah,ā kata Aldewa.
Trauma jangka panjang
Menanggapi kasus ini, praktisi psikologi dan pemerhati perkembangan anak, Dr. Shinta, M.Si., M.A., memperingatkan dampak jangka panjang bagi para korban.
Menurutnya, kekerasan pada usia dini dapat merusak persepsi anak terhadap keamanan dunia. “Kekerasan dapat mengganggu proses dia (korban) dalam beradaptasi, sehingga anak membentuk persepsi bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman baginya,” jelas Shinta yang akrab disapa Bunda Cinta.
Secara psikososial, merujuk pada teori Erik Erikson, kekerasan oleh figur otoritas seperti pengasuh dapat menghancurkan rasa percaya (trust) anak.
Dampaknya bisa fatal, mulai dari hilangnya kemandirian, munculnya rasa malu, ragu, hingga harga diri yang rendah.
Untuk memulihkan trauma, Dr. Shinta menyarankan orangtua untuk memberikan ruang bagi anak mengekspresikan perasaannya tanpa paksaan.
“Berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui cerita, bermain, atau menggambar tanpa paksaan. Jangan menuntut anak segera pulih,” tegasnya.
Ia juga mengimbau para orangtua untuk segera mencari bantuan profesional seperti psikolog anak jika ditemukan gejala trauma yang menetap pada buah hati mereka.
Sejauh ini Polresta DI Yogyakarta telah menersangkakan 13 orang pengelola sekolah dan pemilik yayasan, sementara 53 dari dari 103 anak yang dititipkan, terindikasikan mengalami penganiayaan fisik.
Di tengah krisis moral dan kejujuran di negeri ini dituntut kehati-hatian para orang tua terutama menyangkut keselamatan anaknya termasuk menitipkannya di daycare dengan biaya mahal sekalipun. (kompas.com/ns)




