“Cuci Gudang” Senjata Rusia di Nagorno-Karabakh

Konflik militer antara dua negara sempalan Uni Soviet yakni Armenia dan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh terulang lagi. Sebelumnya terjadi pada 2016 dan 1991.

KONFLIK militer yang pecah antara Armenia dan Azerbaijan di wilayah kantong Nagorno-Karabakh sejak pekan terakhir September lalu diwarnai dengan duel persenjataan atau alutsista yang sebagian besar buatan Rusia atau eks-Uni Soviet.

Armenia dan  Azerbaizan adalah dua dari 16 negara sempalan Uni Soviet yang merdeka pasca Perang Dingin, sementara kawasan pegunungan atau Nagorno Karabakh adalah wilayah kantong (enclave) di Azerbaijan yang mayoritas penduduknya etnis Armenia.

Nagorno Karabakh dengan luas wilayah sekitar 4.000 Km2 dan 145.000 penduduk, mayoritas etnis Armenia pemeluk Kristen sudah mendeklarasikan kemerdekaannya secara sepihak dari Azerbaijan walau sejauh ini masih belum diakui oleh komunitas int’l.

Isu Nagorno-Karabakh menjadi pemicu konflik berkepanjangan antara kedua negara, terakhir kali pecah pada 2016 dan sebelumnya pada 1991, sementara pertempuran yang berkecamuk sejak  27 Sept. lalu sudah menewaskan sekitar 1.000 orang termasuk warga sipil.

Di lapangan, untuk sementara, dengan jumlah pasukan lebih besar dan dilaporkan didukung ratusan kombatan eks-milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS)  yang didanai Turki, pasukan Azerbaijan mampu mendesak pasukan Armenia dan Nagorno Karabakh.

Klaim Armenia terkait jatuhnya dua pesawat tempur Sukhoi SU-25 miliknya oleh pesawat-pesawat tempur F-16 Turki menunjukkan bukti keterlibatan Turki dalam sengketa tersebut walau hal itu dibantah oleh rezim Ankara.

Dari sisi anggaran militer, Azerbaijan yang kaya dengan hasil migas lebih besar yakni tercatat pada 2020 sekitar 1,7 milyar dollar AS (sekitar Rp 25 triliun) dibandingkan Armenia dengan hanya 430 juta dollar AS (sekitar Rp6,34 triliun).

Kedua negara yang dulu tergabung dalam Uni Soviet, sama-sama mengandalkan alutsista peninggalan negara beruang merah itu yang sekarang menjadi Rusia. Bedanya, Azerbaijan mengoleksi lebih banyak.

Satuan AD Azerbaijan didukung 450 tank tempur utama (MBT), 100 unit diantaranya T-90  yang masih lumayan baru, T-72 yang lebih tua dan dua ratusan unit kendaraan lapis baja seri BMP dan BMD serta 750 unit panser pengangkut personil BTR-70 dan BTR-80.

Sebaliknya, Armenia hanya mengoperasikan 228 unit tank T-72 dan T-55 buatan awal pasca Perang Dunia II yang relatif tua (mulai diproduki 1948), 20 unit T-80 yang lebih baru, serta 420 unit panser BTR-70 atau BTR-80 serta seri BMP.

Tentara Nagorno-Karabakh yang bahu membahu dengan Armenia, berkekuatan sekitar 20 ribu personil didukung 170 tank tua T-55 dan dua ratusan panser seerta beberapa puluh peluncur roket multi laras (MLRS) Grads eks-Rusia.

Armenia dan Aerbaijan juga menggunakan MLRS Shmerz dan Grads (eks-Rusia), WM-81 (China) serta sistem rudal taktis jarak dekat Iskander dan Tochka

Sedangkan sistem rudal pertahanan udara Azerbaijan dan juga Armenia a.l. menggunakan  rudal-rudal S-125, S-200, S-300 (eks-Rusia) serta Barrack (buatan patungan Israel dan India).

Matra udara Azerbaijan juga lebih unggul, dengan 16 unit pesawat tempur MiG-29, 19 unit Sukhoi SU-25 dan masing-masing dua unit SU-24 dan IL-76, 60 unit heli MI-17 dan 24 unit heli serang MI-35M, sebaliknya AU Armenia hanya memiliki 24 unit SU-25 ditambah 12 unit heli serang  MI-25 dan heli angkut MI-8.

Di atas kertas, Azerbaijan lebih unggul dari sisi kalkulasi perimbangan militer, walau tidak mudah untuk memastikan siapa pemenangnya, mengingat Armenia dan rezim Nagorno-Karabakh diuntungkan oleh  medan pegunungan untuk mengincar dan melumpuhkan tank-tank lawannya dengan senjata anti tank jinjing (portable).

Rusia yang sejauh ini berupaya netral mungkin saja bakal berbalik mendukung Armenia yang  kewalahan menghadapi campur tangan Turki, anggota NATO yang memiliki mesin perang cukup tangguh. Selanjutnya, jika Rusia terjun ke dalam perang di wilayah Kaukasus Selatan ini, ujung-ujungnya juga bakal memancing keterlibatan AS dan negara-negara NATO lain.

Namun para pengamat sejauh ini tidak melihat konflik di Nagorno-Karabakh akan berekskalasi melibatkan pemain global, mungkin sebatas menghabiskan stok persenjataan Rusia yang digunakan oleh para pihak yang bertikai. (Central Asia Caucasus Instiute/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement