
EDUA belah pihak negara yang bersereru, Amerika Serikat dan Iran agaknya masih tarik ulur soal kelanjutan negosiasi damai atau perang lagi, di balik manfaat politis yang juga diharapkan masig-masing, sementara retorika perang juga terus digelorakan.
Pesiden Donald Trump mengatakan, Amerika Serikat tidak mau terburu-buru mencapai kesepakatan apa pun dengan Iran.
Dalam unggahan terbarunya, Minggu (24/5), Trump menegaskan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku sepenuhnya, sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.
“Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar,” tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip Reuters.
Belum ada tanggapan langsung dari Iran soal ucapan Trump. Namun laporan media setengah resmi Iran, Tasnim menyebut AS hingga kini masih menghalangi beberapa bagian dari kesepakatan, termasuk permintaan Iran untuk melepaskan dana yang dibekukan.
Sehari sebelumnya, Trump sempat mengeklaim bahwa kedua negara telah menegosiasikan sebagian besar kesepahaman tentang kesepakatan damai untuk membuka Selat Hormuz.
Namun seorang pejabat senior pemerintah Trump menyebut kesepakatan itu tidak akan ditandatangani pekan ini, gara-gara sistem Iran yang “tidak bergerak cukup cepat”.
Menurut pejabat itu, Iran sejauh ini setuju “pada prinsipnya” untuk membuka Selat Hormuz, sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS. Namun negosiasi detail langkah-langkah yang terkait dengan nuklir, membutuhkan lebih banyak waktu.
Mojtaba Khamenei dukung
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga disebut telah mendukung kerangka umum kesepakatan ini.
Seorang pejabat lainnya mengatakan dalam kerangka kerja yang diusulkan, para negosiator akan diberikan waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir.
Bagi Trump, popularitas dirinya harus terus dijaga agar tidak terus melorot menjelang Pemilu sela November nanti.
Ia tentu tidak meragukan keunggulan teknologi dan kekuatan militer raksasa yang menempatkan AS di ranking pertama dari 145 negara yang dinilai, dibandingkan Iran yang berada di posisi ke 36.
Namun perlawanan dari Partai Demokrat yang mementang kebijakan Trump memerangi Iran, juga meningkatnya jumlah rakyat yang menentang perang karena ikut melonjakkkan harga BBM dan tujuan perang dianggap tidak jelas, membuat Trump tidk bisa gegabah memaksakan kehendaknya.
Selama beberapa bulan terakhir, peringkat popularitas Trump terpukul oleh dampak perang terhadap sektor energi di AS.
Ia juga berulang kali menggembar-gemborkan prospek kesepakatan, untuk mengakhiri konflik yang dimulai AS dan Israel pada 28 Februari.
Bagi Iran sendiri, bombardemen masif yang dilancarkan koalisi AS dan Israel pada perang 12 hari, Juni tahu lalu, dan dilanjutkan lagi sejak 28 Februari lalu, mau tidak mau membuat aktivitas ekonomi dinomor duakan.
Apalagi blokade laut yang dilakukan kapal-kapal perang AS terhadap tanker pengangkut minyak dan gas yang keluar masuk Selat Hormus, membuat ekspor komoditi primadona komoditi ekspor negara itu terhalang.
Para pengamat menyebut kesepakatan apa pun yang bisa mendorong gencatan senjata saat ini akan membawa kelegaan bagi pasar, walau tidak akan langsung meredakan krisis energi global. (CNN/ns)




