Trump dan Jong Un, Beda Gaya Hadapi Covid-19

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korut Kim Jong Un, keduanya punya cara masing-masing menyikapi pandemi Covid-19.

LAIN padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya” ungkap pepatah lama, begitu pula tokoh dunia yang sering membuat heboh, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un yang berbeda gaya menghadapi Covid-19.

Trump dan Jong Un menjadi viral di media sejagat saat keduanya bertemu di Singapura (Juni 2018) dan Hanoi, Vietnam (Feb. 2019) karena diharapkan warga dunia bakal mengakhiri perseteruan panjang antara Korsel yang didukung AS dan tetangganya, Korut.

Sejak Perang Korea antara 1950 sampai 1953 melibatkan AS, negara- negara Barat dan Australia di belakang Korsel, sebaliknya Uni Soviet dan China mendukung Korut, sampai kini kedua negara serumpun itu masih dalam status perang.

Trump (74) baru saja dinyatakan terpapar Covid-19 pada 1 Oktober lalu,  sempat dirawat dan diisolasi beberapa hari di RS Militer Walter Reed, Bethesda, Maryland sampai Minggu (4/10).

Saat divonis positif Covid-19, presiden petahana dari Partai Demokrat yang sedang berkampanye untuk jabatan kedua (2021 -2024) pada pilpres yang digelar 9 November baru saja menyelesaikan debat pertama melawan pesaingnya, Joe Biden dari Partai Demokrat.

Trump, walau rakyatnya korban paling terbanyak paparan   Covid-19 (sampai 6/10 tercatat  7.674.566 positif dan 214.959 meninggal), sering tampil di publik tanpa mengenakan masker wajah dan  meremehkan upaya yang dilakukan untuk mengendalikan wabah pernyakit tersebut.

Di berbagai kesempatan Trump selalu sesumbar pada pendukungnya bahwa Covid-19 tidak berbahaya sehingga tak perlu ditakutkan , bahkan ia mengolok-olok Biden, dari jauh sudah dapat mengenali lawannya itu dari maskernya.

Trump dilaporkan sudah membaik dan bisa berkantor lagi di  Gedung Putih, namun karena absen beberapa hari akibat sengatan Covid-19  dalam jajak pendapat, ia semakin jauh tertinggal dari Biden, hanya didukung 40 persen responden, dibanding 51 persen untuk lawannya.

Sementara Kim Jong Un beberapa bulan terakhir ini sering “menghilang” sehingga membuat penasaran lawan dan kawannya, baik di dalam mau pun di luar negeri, apalagi beredar isu yang menyebutkan ia sakit berat, bahkan sudah meninggal.

Pada saat Covid-19 menjangkiti warga dunia di 216 negara, memapar 35.701.674 orang dan  menewaskan 1.045.953 orang (sampai 6/10),  di Korut yang serba tertutup itu, tidak bisa dikonfirmasi ada tidaknya, apalagi jumlah  warga yang yang terinfeksi wabah tersebut.

Hanya tersirat, menjelang Kongres Partai Buruh – satu-satunya partai di negeri itu –  yang akan digelar Januari mendatang, Presiden Kim Jong Un memerintahkan warganya untuk memerangi Covid-19 dalam upaya menggerakkan roda-roda ekonomi .

Walau mungkin tidak ada warganya yang terpapar, pandemi Covid-19 yang menjangkiti hampir seluruh dunia tentu berimbas pada perekonomian Korut, apalagi di tengah sanksi embargo yang dikenakan int’l akibat pecobaan nuklir dan rudal balistik yang terus dilakukannya.

Pandemi Covid-19 yang jadi persoalan dunia, juga menunjukkan respons, kiat dan cara tiap-tiap pemimpin negara menyikapinya. (AP/Reuters/ns)

 

 

Advertisement