JAKARTA – Konferensi internasional aktivis Palestina yang diselenggarakan secara virtual ini dihadiri para tokoh kemanusiaan internasional.
Diantaranya, Zwelivellie Mandla Mandela (Cucu Nelson Mandela), DR. Ahmad al-Raysuni (Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional), DR. Abdullah al-Akaila (mantan anggota parlemen Yordania), DR. Ikrima Sabri (Khatib Masjidil Aqsha), Hasan Turan, Anggota Parlemen Turki, dan Ismail Haniyah (Kepala Biro Politik HAMAS).
“Saya ucapkan terima kasih kepada para panitia yang telah menggagas terlaksananya Konferensi Palestina Sedunia. Terima kasih pula kepada semua aktivis Palestina yang sudah bergabung dalam aliansi. Tentunya kita pun membutuhkan adanya aliansi ini, yang hadir untuk terlibat dan melakukan aksi nyata dalam membela Al Aqsha, kondisi Al Aqhsa saat ini, minim perhatian,” ucap Syaikh Ikrimah Sobri.
DR Hamam Sa’id, Ketua Global Coalition for Al Quds and Palestine mengingatkan, Palestina adalah tanah waqaf umat Islam yang tidak boleh dilupakan. Ia mengecam normalisasi hubungan yang dilakukan beberapa negara dengan Israel dan menyebutnya sebagai pengkhianatan.
Sementara itu, Hassan Turan menyebut normalisasi hubungan dengan Israel bukan hal yang positif. Pemerintah Turki secara kontinu terus membantu perjuangan bangsa Palestina.
“Itu menjadi prioritas kami dan juga ditegaskan oleh Presiden kami bahwa permasalahan Palestina adalah bukan hanya milik bangsa Palestina, tapi menjadi red line yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat,” ucap Hasan, Anggota Parlemen Turki.
Dalam konferensi juga dijelaskan, aneksasi lahan terus dilakukan sampai hari ini. Israel mencaplok lebih dari 30% wilayah di Tepi Barat. Selain itu, penjajah melakukan aksi penghancuran rumah dan sawah saat proses aneksasi. Warga Tepi Barat diusir dan tidak diizinkan kembali karena rumah mereka dikuasai penjajah. Israel terus melakukan pembangunan pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat, serta mengubah situs umat Islam menjadi tempat peribadatan Yahudi.
Di sisi lain, jumlah pejuang Palestina yang dipenjara semakin meningkat. Mereka tidak mendapat pelayanan kesehatan. Di masa pandemi, banyak tahanan yang terinfeksi virus corona.




