
DULU orang sukar membayangkan, negara Yahudi Israel akan hidup berdampingan secara damai dengan tetangganya, negara-negara Arab, walau ternyata, tak ada musuh atau kawan abadi, yang ada cuma kepentingan sejati.
Spekulasi bahwa PM Israel Benjamin Netanyahu dan Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengadakan pertemuan rahasia untuk membahas normalisasi hubungan kedua negara makin santer beberapa hari ini.
Jika kesepakatan itu tercapai, Saudi akan menjadi negara Arab ke-6 yang mengakui Israel setelah Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Sudan tahun ini selain Mesir yang sudah lebih dulu (1979) dan Jordania (1994).
Saudi dan Israel selama ini saling menganggap musuh bebuyutan mengingat keduanya pernah delapan kali terlibat peperangan akibat okupasi sebagian tanah Palestina oleh negara Yahudi itu.
Perang besar antara Israel dan lima negara Arab (Palestina, Mesir, Lebanon, Suriah an Jordania) terjadi pada 1948 ditandai pembentukan negara Israel, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973 yang semuanya dimenangkan oleh negara Yahudi itu.
Perang Enam Hari 1967 membuat Israel menguasai sebagian tanah Palestina di Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai (Mesir) dan Dataran Tinggi Golan (Suriah).
Namun hubungan diam-diam antara Israel dan Saudi agaknya sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir ini, misalnya kedua negara kabarnya saling tukar informasi intelijen dan Saudi juga mengijinkan maskapai penerbangan Israel El Al terbang di koridor udaranya.
Menlu Saudi sendiri, Faisal bin Farhan al-Saud membantah adanya pertemuan antara Pangeran MBS dan PM Netanyahu, kecuali dengan Menlu AS, Mike Pompeo, di Riyadh, Minggu (22/11), sebaliknya Menteri Pendidikan Israel, Yoaf Gallant seperti dikutip US News (23/11) membenarkan adanya pertemuan antara Pangeran MBS dan PM Netanyahu tersebut.
Normalisasi hubungan Israel dan Saudi jika terwujud tentu saja pukulan beruntun bagi Palestina karena satu persatu negara pendukung utamanya dalam upaya mewujudkan kemerdekaan dan kembalinya wilayah yang diokupasi Israel berpaling. (AFP/ns)




