
OPERASI gabungan SAR atau pencarian dan penyelamatan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 dan nomor registrasi PK-CLC yang jatuh di perairan P. Seribu, Sabtu siang (9/1) dilakukan oleh TNI-AU, Basarnas dan TNI-AL dengan mengerahkan sejumlah pesawat dan kapal.
Pesawat Boeing B737-500 nahas itu dalam rute Jakarta ke Pontianak bersama 62 penumpang dan awaknya hilang kontak , lalu dipastikan jatuh di perairan sekitar P. Lancang dan P. Laki, Teluk Jakarta, Sabtu siang pukul 14.40 atau empat menit setelah tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta.
Tim Basarnas dan patroli TNI-AL dilaporkan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat berupa gulungan kabel, kemungkinan bagian alat sensor dan juga serpihan tubuh manusia dan potongan celana jeans serta alat peluncur darurat yang jelas tertulis kode SJ 182. Sekantong serpihan tubuh manusia sudah dikirim ke RS Polri, Kramat Kati, Jakarta Timur.
Pesawat diduga jatuh empat menit setelah tinggal landas, mengingat titik lokasi ditemukannya serpihan hanya berjarak sekitar dua mil dari pantai Tanjung Kait, Tangerang atau berjarak sekitar 12 mil dari Bandara Soeta.
Menurut keterangan pihak Sriwijaya, bedasarkan komunikasi terakhir dengan pengatur lalu lintas penerbangan (Airnav) Bandara Soeta, pilot sempat meminta untuk menaikkan ketinggian sampai 30.000 kaki, namun setelah itu pesawat berbelok ke arah Barat Daya yang menyimpang dari tujuan, lalu menghilang dari layar radar.
Pesawat nahas itu dijadwalkan tingal landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng pukul 13.40 WIB, namun terjadi delai dan baru lepas landas pada pukul 14.36 dan dijadwalkan tiba di Bandara Soepadio, Pontianak pukul 15.15 WIT. Pesawat yang mengangkut 50 penumpang (40 dewasa, tujuh anak-anak dan tiga bayi serta 12 awak termasuk flight attendance).
Pesawat seri B-737-500 yang berkapasitas sampai 145 penumpang (tergantung konfigurasi bangku, ada yang cuma 122 penumpang (jika ada kabin kelas utama) yang diproduksi pada 1997 dioperasikan oleh Sriwijaya Air sejak 2012.
Juru Bicara Kementerian Perhubungan RI Adita juga mengonfirmasi bahwa pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1).
Adita mengungkapkan, hilang kontak terjadi saat pesawat berada di atas kawasan Kepulauan Seribu. “Informasi saat ini, ada lost contact Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak SJ 182, ada kontak pukul 14.40 WIB,” ujarnya.
Sementara Kepala Seksi Pemerintahan dan Transit Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Surachman mengatakan, nelayan Pulau Lancang mendengar dua kali ledakan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat .
Menurut dia, nelayan Pulau Lancang juga melihat pesawat Sriwijaya Air jatuh ketika hujan deras mengguyur lokasi kejadian.
“Nelayan sempat mendengar ledakan dua kali di permukaan laut dan dia melihat pesawat jatuh saat hujan lebat. Menurut mereka sekitar pukul 14.00 (pesawat jatuh),” kata Surachman.
Sementara Deputi Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas Mayjen Bambang Surjo AJi mengemukakan pihaknya sudah mengirimkan kapal pertolongan dan See Rider ke lokasi kejadian dan juga akan membawa peralatan selam (bawah air) mengingat lokasi kecelakaan berada di perairan pantai berlumpur.
Menurut Bambang, alat Emergency Locator Transmitter (ELT) yang ada di pesawat tidak mengirim signal ke Basarnas, kemungkinan tidak berfungsi, sehingga pihaknya baru menerima berita jatuhnya pesawat itu dari pengatur lalu lintas penerbangan (Airnav) Bandara Soeta. ELT memancarkan signal tanda bahaya yang diterima Basarnas.
Pencarian akan dilanjutkan esok hari, dengan mengerahkan sepuluh kapal perang TNI-AL termasuk satuan pasukan katak (Kopaska), Denjaka dan Intai Amfibi, Korps Marinir, sementara TNI-AU dan Basanas mengirimkan pesawat patroli maritim intai CN-295 dan dua heli jenis Carakal. Seluruhnya lebih 2.000 personil dilibatkan dalam opeasi gabugan itu.
Diperlukan waktu oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat, namun menurut catatan, pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh setelah beberapa menit tinggal landas pada 2018 karena kerusakan pada alat “angle of attack” (AOA).
AOA berfungsi mengatur posisi hidung pesawat, mendongak saat pesawat menambah ketinggian, lurus saat terbang normal, dan ke arah bawah saat hendak menurunkan ketinggian atau landing. Alat ini mengalami kerusakan, sehingga keseimbangan pesawat terganggu dan akhirnya menghunjam ke laut.
Belum bisa dipastikan apakah ada penumpang dan awak pesawat yang selamat dalam musibah Sriwijaya Air SJ-182 kali ini, namun tentunya kita berharap agar Allah menurunkan mukjizatnya.




