
JAKARTA (KBKNEWS) – 118 – TAIWAN diberitakan tengah memacu pengembangan armada pesawat nirawak (drone) dan pesawat tempur secara besar-besaran guna mengantisipasi potensi agresi militer China.
Taiwan yang yang memisahkan diri dari China daratan sejak 1949 sampai saat ini masih terus dalam status siaga, sebaliknya China masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang akan diambil alih jika saatnya sudah memungkinkan.
Mengusung taktik yang dijuluki “Hellscape” atau “skenario neraka”, CNNI melaporkan (11/8) komando pertahanan Taiwan bersama Amerika Serikat (AS) berencana membanjiri pasukan penyerang dengan gelombang drone, rudal, serta artileri presisi di sepanjang Selat Taiwan.
Doktrin pertahanan asimetris ini dirancang untuk menciptakan risiko tinggi pada operasi pendaratan amfibi militer China sehingga diharapkan mampu membatalkan niat Beijing sebelum invasi dimulai, dikutip dari New York Times, Minggu (9/8).
Terinspirasi dari keberhasilan taktik perang Ukraina, Taiwan mempercepat pembentukan industri drone dalam negeri.
Kementerian Pertahanan Taiwan mengonfirmasi peningkatan porsi integrasi drone dalam latihan militer tahunan Han Kuang, yang melibatkan pengintaian garis depan hingga pengujian prototip perusak armada musuh.
Pemerintah Taiwan bahkan menargetkan produksi hingga 100.000 unit drone per bulan pada 2030, serta memproyeksikan pengadaan lebih dari 210.000 unit drone udara dan laut untuk memperkuat pertahanan nasional.
Untuk menguasai efektivitas perang drone, para ahli menilai, Taiwan tidak hanya perlu membeli unit senjata, melainkan harus mereformasi total doktrin, organisasi, dan strategi pelatihan militernya.
Peneliti dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional di Taipei, Shu Hsiao-Huang, menjelaskan bahwa taktik tempur angkatan darat di garis depan harus diubah secara mendasar.
Pertempuran saat ini harus menempatkan pasukan yang jauh lebih lincah dan berorientasi mobilitas tinggi, menghindari posisi statis yang rentan dihancurkan oleh artileri lawan.
Reformasi militer ini ditandai dengan pembentukan Komando Tempur Pesisir yang mengintegrasikan drone, sistem rudal bergerak, dan perisai pertahanan pantai.
Kendati demikian, peneliti senior dari Center for a New American Security, Stacie Pettyjohn mengingatkan, Taiwan masih harus berbenah agar tidak sekadar berfokus pada kecanggihan teknologi semata, tetapi juga memperkuat penyesuaian doktrin tempur di lapangan.
Selain itu, dinamika politik dalam negeri dan perdebatan anggaran antara pemerintah dan partai oposisi terkait alokasi dana pengadaan drone sebesar miliaran dollar AS, juga masih menjadi ganjalan tersendiri.
Di tengah ancaman potensi pemblokiran jalur logistik oleh China, Taiwan juga berambisi memperkuat kemandirian industri drone internal sekaligus menjadi pemasok komponen vital bagi negara-negara sekutu.
Berkolaborasi dengan AS
Produsen pertahanan lokal Taiwan telah mulai menjajaki kolaborasi strategis dengan perusahaan teknologi militer AS, seperti Shield AI dan Thunder Tiger, untuk mengembangkan prototipe drone laut pemukul kapal perang.
Di sisi lain, ekspor produk dan komponen drone buatan Taiwan mencatatkan lonjakan signifikan.
Kementerian Urusan Ekonomi Taiwan melaporkan, nilai ekspor drone pada tiga bulan pertama 2026 telah menembus angka 115 juta dollar AS, melampaui total nilai ekspor sepanjang tahun sebelumnya.
Dengan permintaan komponen drone bebas komponen China yang terus meningkat di pasar global, Taiwan kini menempati posisi kunci sebagai pusat manufaktur alutsista tanpa awak yang tepercaya di tingkat internasional.
Kekuatan militer China jauh lebih unggul dibandingkan Taiwan dalam hal skala, anggaran, dan jumlah alutsista.
China memiliki sekitar dua juta personel aktif dan anggaran lebih dari $266 miliar dolar AS (sekitar Rp4.778 triliun), sedangkan Taiwan hanya sekitar 250.000 personil militer dengan anggaran 30,2 milyar dolar AS (Rp543,6 triliun).
Taiwan mengandalkan pasukan yang lebih kecil namun berfokus pada strategi pertahanan asimetris (Porcupine Doctrine), tentara yang terlatih dan mengaplikasikan teknologi tinggi. (CNNI/ns)




