
PADANG–Hidup sendiri dengan penglihatan yang terganggu, Lismawati (53) tetap menjalani aktivitas se-normal orang biasa. Bahkan, perabotan di dalam kontrakan kecil yang ia huni di Kampung Tanjung, Jl. Talago Permai, Kelurahan Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, terlihat tersusun sangat rapi saat dikunjungi tim Dompet Dhuafa Singgalang, Fauzi Yandri.
Percampak, begitu bahasa kampung yang digunakan masyarakat sekitar mengenai gangguan mata yang diderita Lismawati semenjak kecil. Akibat penyakit ini, sewaktu kecil kornea mata kanannya pecah, ia harus mengikhlaskan kehilangan mata kanannya saat operasi di waktu kecil.
Lismawati sehari-hari bekerja sebagai pengemis. Mengandalkan penglihatan dari mata kirinya, setiap hari ia menyusuri daerah-daerah sejauh yang bisa ia capai di kota Padang. Mau bagaimana lagi, Lismawati sudah semenjak tahun 2009 hidup menjanda ditinggal cerai sang suami. Tanpa anak, tanpa keluarga tempat ia bisa bertopang. Hanya dengan mengemis ia bisa menyambung hidupnya.
Namun, sekarang kenyamanan Lismawati dalam berktivitas mulai terganggu. Percampak yang ia derita kini mulai menggerogoti mata kirinya. Penglihatan dari mata kirinya mulai mengabur. Terdapat lapisan lemak yang meliputi, disamping korneanya yang memang bermasalah.
Lismawati merasa gundah, ia tetap ingin mandiri menjalani aktivitas. Namun tentu saja mengobati mata kirinya akan memakan biaya besar. Ia memutuskan meminta bantuan ke berbagai lembaga sosial di Kota Padang. Salah satunya ke DOmpet Dhuafa Singgalang.
Beruntung, ia mendapat respon positif dari berbagai lembaga yang ia datangi. Dompet Dhuafa Singgalang, langsung mengutus Fauzi untuk survey dan pendampingan pemeriksaan mata Lismawati. Oleh Mitra Dompet Dhuafa Singgalang, dr. Heksan dan dr. Tessa, Lismawati langsung diperiksakan di RS Mata Padang Eye Center (PEC). Diagnosa penyakit yang ia derita bernama Keratopi OD, perlu dilaksanakan operasin pencangkokan kornea mata, sehingga ia akhirnya di rujuk untuk ditangani di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Pada Rabu (30/3) lalu, Lisnawati telah diberangkatkan ke Jakarta untuk mendapat penanganan. Lisnawati begitu gembira dengan respon dari berbagai lembaga sosial yang mendukung pengobatannya ke Jakarta, terutama Dompet Dhuafa Singgalang yang merujuknya untuk bertempat tinggal di Shelter Mustahik Dompet Dhuafa di Jakarta selama penantian jadwal operasi dan perawatan.
“Alhamdulillah, Makasih Dompet Dhuafa Singgalang dan pendampingannyo, raso punyo keluarga tinggal di Shelter Dompet Dhuafa ko,” tutur haru Lismawati yang menunggu jadwal operasi yang direncanakan 20 April 2016 mendatang. – nisa




