
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, tingkat transmisi komunitas Covid-19 di Indonesia sudah masuk kategori TC 4 (Transmission Community Level 4) atau tingkat penularan tertinggi.
Klasifikasi TC 4 atau yang tertinggi sesuai laporan WHO pada 3 Februari , berarti penularan telah terjadi pada tingkat komunitas terkecil sejak pekan keempat Desember tahun lalu saat rasio tes positif (PTR) rata-rata di atas 20 persen, jauh di atas batas toleransi WHO lima persen.
Sebelumnya saat PTR Covid-19 Indonesia antara 10 sampai 20 persen sejak Mei 2020 atau beada pada kategori TC3 menurut versi WHO atau penularan Covid-19 terjadi pada kerumunan massa misalnya saat unjukrasa, acara keramaian da di stasiun KA atau terminal bus.
PTR di Indonesia terus meningkat, bahkan pada akhir Januari lalu sudah mencapai 28,6 persen atau berarti satu dari tiga orang yang diambil specimennya, positif terinfeksi Covid-19.
Sampai Jumat (5/2), tercatat total kasus Covid-19 sebanyak 1.147.010 kasus dengan penambahan 12.156 kasus dari hari sebelumnya dan jumlah yang meninggal 31.393 orang atau bertambah 191 orang.
Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju penyebaran Covid-19 mulai dari PSBB yang diperkuat dengan PPKM untuk wilayah Jawa dan Bali dan kebijakan lainnya yang diambil masing-masing kepala daerah.
Pemrov DKI Jakarta misalnya semula mewacanakan pemberlakuan lockdown selama dua hari yakni tiap Sabtu dan Minggu, namun urung karena ditentang warga yang menghawatirkan semakian terpuruknya kondisi ekonomi.
Pemkot Bogor juga menerapkan kebijakan ganjil genap plat kendaraan bermotor baik roda empat mau pun roda dua (sepeda motor) di sejumlah ruas jalan utama sejak Sabtu (6/2) dalam upaya menekan mobilitas masyarakat.
Walikota Bogor Arya Bima mengaku, kebijakana ganjli genap nomor kendaraan berhasil menekan sampai 40 persen jumlah kendaraan yang memasuki kota hujan tersebut, namun apakah juga akan menekan angka kasus Covid-19 baru bisa dibuktikan dua pekan ke depan.
Sementara pakar epidemiologi dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai, keberhasilan kebijakan ganjil genap di kota Bogor juga dipengaruhi kebijakan yang diambil di wilayah sekitarnya termasuk Kab. Bogor sendiri, juga DKI Jakarta dan sekitarnya.




