JAKARTA, KBKNews.id – Populasi orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia, kembali menghadapi ancaman serius. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa hujan ekstrem dan longsor yang dipicu krisis iklim menyebabkan kematian puluhan individu orangutan Tapanuli di Sumatra Utara pada November 2025.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology itu memperkirakan sebanyak 58 orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) tewas setelah wilayah Sumatra Utara diguyur hujan lebih dari 1.000 milimeter selama empat hari berturut-turut. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 11 persen populasi lokal dan 7 persen dari total populasi spesies yang kini hanya tersisa sekitar 800 individu.
Seperti dilansir dari The Guardian, Rabu (17/6/2026), Profesor Serge Wich, primatolog dari Liverpool John Moores University sekaligus penulis penelitian, mengatakan kehilangan puluhan individu dalam satu peristiwa cuaca ekstrem merupakan tragedi besar bagi spesies yang populasinya sudah sangat kecil dan terfragmentasi. Menurutnya, kejadian seperti ini dapat memberikan dampak langsung terhadap kelangsungan hidup populasi.
Para peneliti mengombinasikan analisis citra satelit terbaru dengan estimasi kepadatan populasi orangutan untuk menghitung dampak Siklon Senyar terhadap habitat utama spesies tersebut di Blok Barat Ekosistem Batang Toru. Kawasan ini sebelumnya juga telah tertekan oleh aktivitas pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan proyek pembangkit listrik tenaga air.
Hasil pengamatan satelit menunjukkan sekitar 8.300 hektare hutan atau 11,7 persen habitat penting orangutan Tapanuli musnah akibat longsor yang dipicu curah hujan ekstrem. Tim peneliti menyebut perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil, meningkatkan intensitas hujan hingga 50 persen.
Ahli biologi konservasi dari Universitas Indonesia, Prof Jatna Supriatna, menyebut kematian 58 orangutan dalam satu peristiwa longsor sebagai guncangan demografis yang sangat besar bagi spesies kera besar paling langka di dunia. Ia menegaskan perlindungan permanen terhadap Ekosistem Batang Toru menjadi langkah penting untuk mencegah kepunahan modern pertama pada spesies kera besar.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kehilangan populasi orangutan Tapanuli sebesar 1 persen per tahun saja sudah cukup untuk mendorong spesies tersebut menuju kepunahan dalam jangka panjang. Karena itu, kematian 7 persen populasi global dalam satu kejadian dinilai sebagai ancaman yang sangat serius bagi masa depan spesies tersebut.
Sebagai respons, pemerintah Indonesia telah menghentikan sementara aktivitas industri berskala besar di kawasan Batang Toru guna memberi kesempatan bagi para ilmuwan melakukan kajian lebih lanjut. Para peneliti juga mendesak diberlakukannya moratorium terhadap aktivitas yang merusak habitat orangutan Tapanuli serta perluasan kawasan lindung untuk memastikan populasi spesies langka ini dapat bertahan dan pulih di masa mendatang.





