Vaksin Nusantara untuk Seumur Hidup?

Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menkes Agus Putranto, diteliti oleh RS dr. Karyadi, Undip, UNS dan UGM dan digarap PT REMS sedang dalam uji klinis tahap I. Vaksin diklaim, bisa menciptakan antibodi seumur hidup terhadap Covid-19.

SELAIN Vaksin “Merah Putih” yang sedang dikembangkan oleh Lembaga Biomolekuler Eijkman, Indonesia juga mengembangkan Vaksin Nusantara yang digagas oleh mantan Menkes Terawan Agus Putranto.

Vaksin berbahan dasar sel dendritik tersebut, menurut rilis PT Rama Emerald Multi Sukses (REMS) baru-baru ini  diklaim mampu menciptakan antibodi atau kekebalan tubuh terhadap virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 seumur hidup.

Vaksin Nusantara semula diprakasai oleh mantan Menkes Terawan berdasarkan hasil penelitian tim RSUP dr Karyadi Semarang, Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret dan Universitas Gajah Mada.

Sebelumnya, vaksin berbasis sel dendritik ini sudah pernah muncul pada Desember 2020 dengan nama ‘Joglosemar’ yanga kini diubah menjadi Vaksin Nusantara.

Untuk selanjutnya, proses produksinya digarap oleh PT REMS, sedangkan teknologi denditrik diperoleh dari   industri farmasi Aivita Biomedical Inc. asal California, Amerika Serikat

Namun produksi dan distribusinya nanti, menurut rilis REMS,  dilakukan secara independen mengandalkan peralatan dan bahan baku yang dipasok sendiri.

Vaksin yang digagas mantan Menkes Terawan didukung pula oleh Kemenkes dan Balitbangkes termasuk pembiayaan uji klinik tahap pertama yang didanai oleh Balitbangkes.

Sementara mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengungkapkan, mantan Menkes Terawan menggandeng Hans Keirstead yang dikenal sebagai pendiri California Stem Cell Inc. pada Mei 2014 dan Ability Biomedical Corp untuk mengembangkan Vaksin Nusantara.

Keirstead juga menjabat sebagai AiVita Biomedical Inc. AiVita Biomedical, Inc., perusahaan bioteknologi swasta yang mengembangkan vaksinuntuk pengobatan kanker dan pencegahan virus corona (Covid-19).

Sel dendritik adalah komponen sistem imun yang dikembangbiakkan di luar tubuh, kemudian dijadikan vaksin Covid-19 melalui pembentukan antibodi. Vaksin Nusantara diklaim efektif untuk segala usia , mulai dari anak-anak hingga lansia dengan komorbid.

Sejauh ini pengembangan Vaksin Nusantara masih mennggu hasil evaluasi uji klinis Fase I yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dilanjutkan pada uji klinis fase III.

Namun pengembangan vaksin dengan sel dendritik juga menuai kritik karena dinilai terlalu rumit, misalnya oleh ahli penyakit tropic dan infeksi Universitas Indonesia, dr Erni Juwita Nelwan SpPD.

Menurut dia, menjadikan sel dendritik sebagai dasar pembuatan vaksin, secara keilmuwanan luar biasa rumit dan juga mahal kalau sampai ke tahap proses produksi.

Hal senada disampaikan Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban yang menyebutkan, belum ada vaksin Covid-19 yang dibuat dengan sel dendritik, apalagi Vaksin Nusantara belum sampai ke tahap uji klinis II dan III.

“Apalagi klau diklaim bisa menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya, “ tanya Zubairi.

 

Advertisement