KETIKA kita belajar Bahasa Indonesia di SR maupun SD dulu, pasti pernah mendengar ungkapan ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Lalu Pak Guru atau Bu Guru menerangkan bahwa kita hidup di dunia jangang melupakan jasa orang lain. Dan mantan Presiden SBY ketika menyikapi kemelut Partai Demokrat sempat mengatakan, “Saya malu mengangkatnya jadi Panglima TNI, bla bla bla……” Terlepas siapa yang disindirnya, budi seseorang memang harus selalu diingatnya dan bila punya peluang wajib membalasnya.
Orang bijak mengatakan, kita berbuat baik pada seseorang cukup kita catat dalam air. Sebaliknya bila kita menerima budi baik seseorang, harus dicatat dalam hati dan jangan sampai terlupakan. Tak mudah memang berbuat sebagaimana kata bijak tersebut. Yang sering terjadi, justru orang bejek sana bejek sini demi memperoleh sebuah keuntungan. Bahkan kalau perlu, mengkhianati budi seseorang juga bukan masalah besar.
Banyak pula orang yang tak mampu mencatat budi baiknya dalam air. Ya memang susah, lalu nulisnya pakai pulpen atau balpoinnya cap apa? Justru untuk sebuah kebanggaan semu, dia suka cerita ke mana-mana bahwa si Polan atau si Bejo bisa jadi kaya atau jadi pejabat karena dia yang membawanya. Dia selalu pamer budi jasanya, padahal sekarang ini sudah begitu banyak budi, ada Budi Gunawan, Budi Gunadi Sadikin, Budi-man Sudjatmiko, Budiono sampai Budi Anduk almarhum.
Sebaliknya jika orang yang berutang budi itu berkhianat atau melupakan jasa-jasanya, gantian dikorek-korek atau diundhat-undhat kata orang Jawa. “Coba, kalau nggak ada aku, jadi apa kau dulu?” Dengan bahasa lain, dia mau mengatakan bahwa “untung ada saya”. Padahal sih, “untung ada saya” itu sudah merk dagangnya almarhum Gepeng pelawak Srimulat.
Gara-gara takut dikorek-korek pada saatnya nanti, banyak orang pantang merepotkan, tapi juga tak mau direpoti orang. Dia telah menjadi makhluk a sosial yang benar-benar sialan! Padahal sebagai makluk sosial, sudah jamaknya orang saling tolong menolong, ada ketergantungan satu sama lain, simbiosis mutualif. Jika tak mau merepotkan orang menjadi sebuah prinsip, jangan kawin dan berumahtanggalah. Padahal rumahtangga adalah juga praktek saling meropotkan antara suami dan istri. Mereka harus bekerjasama, dan dari kerjasama nirlaba itulah akan tercipta kebahagiaan rumahtangga.
Tak ada manusia di dunia ini bisa lepas dari jasa seseorang. Begitu lahir saja, sudah minta jasa dukun bayi atau bidan untuk memperlancar persalinan. Di masa bocah, remaja, dewasa, sampai jadi orang tua anggur kolesom, tetap membutuhkan jasa seseorang. Begitu juga saat meninggal nanti, pasti membutuhkan bantuan orang paling tidak saat pemakaman. Tak ada mayat berangkat dan ngglundhung dhewe ke liang lahat.
Oleh karenanya agama selalu mengajarkan, selain berbakti pada Allah Swt, manusia juga wajib berbakti pada orangtua, guru dan mertua. Berbakti pada Allah Swt karena kita telah diciptakan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi, tanpa harus menjadi negara khilafah. Berbakti pada orangtua karena mereka menjadi wasilah (perantara) kita ada di dunia. Begitu juga berbakti pada guru, karena mereka yang yang mengajari kita menjadi pandai. Dan…..tanpa jasa mertua, Anda akan hidup “kedinginan” sepanjang masa.
Maka jasa mereka dan siapapun, kita harus pandai membalasnya. Tapi jangan pula dibalas dengan body. Itu mah orangtua asuh atau orangtua angkat nan celamitan. Setelah anak angkatnya itu dewasa, dia angkat sekalian jadi istri dengan alasan tidak mau tanggung-tanggung menolong seseorang. Jaman sekarang, orangtua model begini ombyokan jumlahnya.
Paling kejam adalah balas budi dalam politik, yang biasa disebut politik balas budi. Karena menjadi tim sukses dalam sebuah konstatasi politik, begitu menang dijadikanlah mereka Kepala Dinas, Komisaris, bahkan Menteri. Padahal tak semua yang dingkat itu sesuai bidangnya dan cakap. Kalau mereka bodoh, yang dirugikan rakyat. Sebab kebijakan pejabat bodoh itu akan menyengsarakan rakyat, sedangkan rakyat bayar pajak untuk menggaji dua kali. Rakyat pun jadinya rugi dua kali. (Cantrik Metaram)





