Indonesia juga Tangguhkan Vaksin AstraZeneca

RI bergabung dengan belasan negara lainnya yang menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca, Inggeris karena ada dugaan kasus thromboemboli.

INDONESIA bergabung  dengan belasan negara lainnya untuk menangguhkan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca-Oxford University, Inggeris yang diduga menyebabkan thromboemboli atau penggumpalan sel darah.

Sebenarnya, kasus thromboemboli atau penggumpalan sel darah yang dilaporkan relatif kecil yakni 30 kasus dari sekitar lima juta penduduk di sejumlah negara terutama negara-negara anggota Uni Eropa (UE) yang sudah divaksinasi vaksin AstraZeneca.

Di Austria dilaporkan seorang perawat berusia 49 tahun meninggal beberapa hari setelah menerima vaksin buatan Inggeris tersebut, walau akhirnya terbukti, penyebab thromboemboli yang diidapnya dan berujung kematian bukan akibat suntikan vaksin.

Sementara negara Skandinavia lainnya, seperti Denmark dan Islandia, memutuskan penundaan penggunaan vaksin AstraZeneca hanya untuk berjaga-jaga atau preventif sambil menanti perkembangan selanjutnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Obat-obatan Eropa (EMA) juga sebelumnya menegaskan, belum ada bukti bahwa kasus-kasus penggumpalan darah yang terjadi diakibatkan oleh penggunaan vaksin AstraZeneca.

“Kami lakukan tindakan preventif walau belum ada bukti kaitan antara kasus thromboemboli dan vaksin AstraZeneca, “ tutur Menkes Denmark Magnus Heunicke.

Hal senada disampaikan oleh Menkes RI Budi Gunadi Sadikin dalam Raker dengan Komisi VIII DPR, Senin (15/3).

“Sekarang WHO dan EMA  serta BPOM-nya Inggeris (MHRA) masih meneliti korelasi kasus pengumpalan daran dan penggunaan vaksin AstraZeneca, “  tuturnya, dan Indonesia memutuskan menunggu hasilnya dengan menunda vaksinasi dengan vaksin AstraZeneca.

Indonesia menerima 1,1 juta dosis pengiriman pertama vaksin AstraZeneca dalam skema Covac  atau pendistribusian vaksin global yang diprakasai WHO bersama Aliansi Vaksin dan Imunisasi Global (GAVI) pada 8 Maret lalu.

GAVI melibatkan 181 negara, 90 negara diantaranya adalah negara maju yang menjadi donator pengadaan vaksin, sementara 91 negara termasuk RI adalah negara berkembang dan aanegara miskin yang berhak menapatkan vaksin secara gratis.

Selain melalui skema Covac, RI juga melakukan pengadaan vaksin berdasarkan kemitraan bilateral seperti dengan Sinovac, China dan AstraZeneca, Pfizer-BioNTech (AS dan Jerman) dan Moderna (AS) serta  industri vaksin lain.

Semula, vaksin AstraZeneca akan didistribusikan ke satu wilayah di Indonesia agar memudahlan pelacakan jika terjadi efek samping bagi para penerimanya.

Negara lain yang menunda penggunaan vaksin AstraZeneca yakni Austria, Bulgaria, Denmark, Jweman, Itali, Islandia, Irkandia,  Indonesia, Norwegia, Perancis, lovenia, Spanyol, Thailand, Luksemburg, Latvia, Estonia dan Lithuania.

Penundaan penggunaan vaksin, hanya tindakan berjaga-jaga demi keamanan penerimanya sambil  menanti konfirmasi lebih jauh dari WHO, EMA dan MHRA.

 

 

 

 

 

 

 

19 AstraZeneca Di Austria seorang perawat berusia 49 tahun meninggal karena pembekuan

Advertisement