
“JIKA China benar-benar jadi menyerang, kami akan melawan sampai titik darah penghabisan, “ ujar Menlu Taiwan Joseph Wu seperti dikutip Reuters (7/4) lalu.
Nuansa konflik antara dua negara serumpun itu memang sudah lama terasa. Pesawat-pesawat pengebom China nyaris tiap hari mengancam Taiwan dengan melintasi zona identifikasi pertahanan udara negeri pulau yang memisahkan diri dari China daratan itu pada 1949.
Beberapa waktu lalu China juga melakukan latihan gabungan besar-besaran dekat wilayah Taiwan dengan mengerahkan armada lautnya termasuk kapal induk Laioning dengan skenario operasi pendaratan amfibi.
Panglima Pasukan Gabungan AS di Asia-Pasifik, Laksamana Philip Davidson beberapa waktu lalu melontarkan peringatan bahwa Beijing dapat menyerbu Taiwan dalam kurun waktu enam tahun ke depan.
“ China berambisi menggantikan hegemoni militer AS di kawasan Asia, sehingga untuk mewujudkannya, Taiwan bakal menjadi sasaran pertama, “ kata Laksamana Davidson mengingatkan.
Sedangkan Menlu Wu menyatakan, Taiwan akan terus meningkatkan kemampuan militer mereka dengan mengalokasikan lebih banyak anggaran pertahanan.
“Pertahanan Taiwan adalah tanggung jawab kami. Kami akan mencoba segala cara yang kami bisa lakukan, “ tandasnya. Taiwan juga tak kalah gertak, beberapa waktu lalu menggelar latgab Han Kuang tahap I dengan simulasi menghadapi serangan amfibi.
Dalam latihan perang yang digelar di Provinsi Changhua, (28/5) Taiwan memanfaatkan jalan raya yang dengan cepat dialihfungsikan menjadi pangkalan udara dan landas pacu pesawat-pesawat tempur.
Han Kuang II yang berlangsung delapan hari melibatkan 8.000 personil akan digelar pada Juli nanti, selain untuk menghadapi pendaratan pasukan musuh, juga simulasi kesiapan rumah-rumah sakit menampung pasien jika perang tak terelakkan.
Taiwan juga terus mengasah pertahanannya dengan mengembangkan kapal selam, rudal-rudal jarak jauh dan memayungi koridor udaranya dengan sistem pertahanan rudal anti rudal Patriot yang dimutakhirkan (PAC 3) buatan AS.
Sistem Pertahanan Udara Patriot yang dioperasikan Israel dianggap sukses dalam Perang Teluk I pada 1989 merontokkan puluhan rudal balistik Scud buatan Uni Soviet yang ditembakkan Irak.
China Jauh Lebih Kuat
Dari perimbangan militer, tentu saja kekuatan Taiwan jauh di bawah China.Anggaran pertahanan China pada 2020 sebesar 237 milyar dolar AS (Rp 3.365 triliun) berada di ranking ke-2 setelah AS dengan 750 milyar dolar AS (Rp10.650 triliun), sementara Taiwan ranking ke-22 dengan 13,1 milyar dolar atau sekitar Rp186 triliun.
Tentara Pembebasan China (PLA) berkekuatan tiga juta personil, AU-nya didukung 3.170 pesawat, AL diperkuat 714 kapal perang, sedangkan AD dengan 13.500 tank dan 30.000 kendaraan lapis baja.
Militer China juga terus memodernisasikan peralatan tempurnya yang sampai era ’70-an masih bergantung pada Uni Soviet atau mengopi pastenya, kini telah mendesain dan membangun sendiri.
Matra laut PLA diperkuat dua kapal induk: Liaoning dan Shandong, 74 kapal selam, 50 destroyer, 46 fregat, 72 korvet dan berbagai jenis kapal pendukung lainnya
AD China mengoperasikan berbagai seri rudal Dong Feng, salah satunya untuk menyasar kapal induk dan jenis rudal-rudal balistik jarak pendek sampai antarbenua. Tank-tanknya sebagian dari pemutahkhiran tank-tank eks Soviet seperti T-62, T-72 dan T-80.
AU China juga berkembang pesat dengan 3.170 pesawat udara, mulai dari pembom Q-5 (copy MiG-19 Soviet), JH-6 (copy-TU-16 Soviet), JH-7 sampai produksi sendiri seperti siluman J-20 Chengdu yang konon bisa diseterakan keandalannya dengan pesawat tempur Raptor J-22 AS.
Sebaliknya, Taiwan walau hanya didukung 163.000 personil tetap, menggunakan alutsista canggih, sebagian besar buatan AS. Negeri ini juga selalu siap siaga menghadapi China, misalnya dengan menyulap jalan raya menjadi landas pacu pesawat tempur.
AU Taiwan yang didukung 400-an pesawat, sebanyak 113 diantaranya pesawat tempur F-16 Fighting Falcon seri Viper (AS), 46 Mirage 2000 buatan Perancis dan 103 pesawat tempur produksi lokal, Chingkuo dan puluhan heli serang AH-64 Apache dan UH-60 Black Hawk.
AD Taiwan didukung 1.100 tank, termasuk M1A1 Abrams dan M-60 Patton , artileri swagerak M-109, rudal AMRAAM, sistem rudal pertahanan udara anti rudal Patriot, AGM Maverick (semua AS), Sky Sword dan Tian Kung (lokal) serta Magic (Perancis).
Sementara matra lautnya a.l didukung empat destroyer, 20 fregat, 31 kapal peluncur rudal, empat kapal selam, sembilan penyapu ranjau dan satu korvet.
Tentu saja, jika Taiwan diserang, AS yang berada di belakangnya tidak akan tinggal diam.




