
DUA kekuatan regional utama di Timur Tengah, Arab Saudi dan Iran yang selama ini berseteru dan bersaing keras menanamkan hegemoninya di kawasan itu mulai melakukan pendekatan satu dan lainnya.
Kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat melawan petahana, Donald Trump dari Partai Republik dalam Pemilu Amerika Serikat 3 November lalu berkontribusi besar yang membuat wacana normalisasi hubungan Saudi dan Iran menggeliata kembali.
Dialog tentang isu nuklir Iran yang macet sejak AS dipimpin Presiden Trump mulai dihidupkan lagi dengan kesediaan Iran kembali ke meja perundingan dalam pertemuan yang digelar di Wina, Austria 1 Mei lalu walaupun hanya dihadiri oleh delegasi China, Jerman, Inggeris, Perancis dan Rusia selain Iran tanpa kehadiran AS.
Jika saja Trump terpilih lagi pada jabatan keduanya dalam pemilu lalu, hampir dipastikan pertemuan Wina tidak bakal terwujud karena kebijakan garis keras yang diambil Trump terhadap negara yang dianggap lawan-lawan AS termasuk Iran.
Sementara Iran, selain adanya gesekan ideologi, dimana mayoritas penduduknya mengikuti aliran Syiah, sebaliknya penduduk Arab Saudi berpaham Suni, kaitan hubungan keduanya dengan negara adidaya AS, juga bertolak belakang.
Relasi AS dan Saudi cukup erat, khususnya terkait ekplorasi dan ekspolitasi minyak di Arab Saudi yang didominasi perusahaa AS, begitu pula dari sisi militer dimana Saudi menerima pasokan alutsista canggih.
Sebaliknya, hubungan AS dan Iran putus pasca revolusi Iran yang dimenangkan oleh Ayatullah Khomaini ditandai tumbangnya rezim Shah Iran Reza Pahlevi pada Februari 1979.
Sedangkan terkait permusuhan antara negara-negara Arab dan Israel, Iran berada di garis depan dan sering terlibat saling ancam dengan negara Yahudi itu, sebaliknya Saudi diam-diam menjalin hubungan dengan negara Yahudi itu.
Sementara dalam konteks konflik sipil di Yaman, Saudi mendukung rezim Presiden Yaman, Abdurabuh Mansour Hadi yang digulingkan, sebaliknya, Iran di belakang milisi Houti, lawannya.
Jika normalisasi hubungan antara Iran dan Saudi bisa diwujudkan, beban Saudi membiayai perang di Yaman bisa dialihkan bagi pembangunan ekonomi, juga tidak ada lagi serangan-serangan rudal oleh milisi Houti yang menyasar kota-kota di Saudi.
Tentu saja, walau pendekatan yang dilakukan antara Saudi dan Iran menjadi sinyal positif bagi negara-negara Islam termasuk Palestina dan kabar buruk bagi Israel, masih terlalu dini untuk memprediksi apa yang bakal terjadi ke depannya.
Hembusan angin padang pasir, kadang-kadang tak terduga arahnya.




