Rakyat Mabok Sinetron

Salah satu adegan pada sinetron "Ikatan Cinta" menjadikan para istri lupa suami.

DI musim pandemi Corona ini, rakyat semakin menggemari sinetron yang disajikan TV. Habisnya mau ke mana-mana harus dibatasi, apa lagi daerah zona merah. Maka nonton TV jadi pilihan, dari pagi sampai malam memelototi TV terutama program sinetron. Padahal sinetron banyak mendatangkan kue iklan, sehingga digeber terus. Menyadari publik kadung mabuk sinetrin, stasiun TV dan rumah produksi (PH) jadi kurang selektip. Sampai-sampai Indosiar kena semprit KPI lantaran sinetron “Suara Hati Istri” malah promosi perkawinan usia muda. Karenanya pemeran tokoh Zahra harus diganti.

Sebelum ada Covid-19, masyarakat kita sudah menjadi penonton TV setia. Tapi setelah wabah Corona melanda dunia termasuk Indonesia, penonton TV semakin meningkat. Berbagi dengan medsos, menurut data Nielson penggemar TV masih 85 persen. Sebab nonton TV di rumah menjadi pilihan paling aman. Buat apa kelayapan ke mana-mana bila didapat resiko bisa kampiran Covid-19. Jangan terlalu pede setelah divaksin 2 kali, sebab tak ada jaminan bisa bebas dari serangan virus Corona.

Mengapa sinetron lebih banyak ditonton, karena ceritanya sangat menghibur, tidak perlu perenungan serius. Emosi kita bisa terbawa, kalau lucu ikut tertawa, jika ada adegan dramatis penonton bisa ikut menahan napas dan tegang. Jam sekian nonton sinetron A, jam berikutnya nonton sinetron B. Begitulah dari pagi sampai malam, tinggal remot berulang kali dipencet untuk mencari chanel TV mana yang tengah tayangkan sinetron. Pokoknya tak ada habisnya.

Ketika sinetron menjadi favorit penonton TV, di situlah sumber uang berkubang. Rating yang tinggi, akan menjadikan banjirnya iklan. Semua stasiun TV tahu itu,  demikian juga PH-nya. Saking asyiknya berburu iklan, mereka jadi kurang selektip. Betapapun buruk mutu sebuah sinetron produk sebuah PH, pasti dilalap penonton sampai habis. Menurut catatan, dewasa ini sinetron paling top markotop adalah “Ikatan Cinta” karya sutradara Doddy Djanas dan Theresia Fransisca ini. Bila sudah nonton sinetron ini di RCTI, istri bisa lupa suami, pacar bisa acuhkan doi.

Ada juga sinetron lain yang memukau, misalnya “Suara Hati Istri” di Indosiar. Tapi sinetron ini belakangan dapat kecaman pemirsa lewat medsos, karena isinya seakan promosi perkawinan dini dan permisif pada pidofilia, yakni keganasan seksual pada gadis ABG. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) pun turun tangan, minta TV Indosiar dan PH-nya mengubah alur cerita dan juga ganti pemain wanita Lea Ciarachel Forneaux  pemeran tokoh Zahra.

Bukannya apa-apa, gadis belia usia 15 tahunan ini didapuk jadi wanita lebih dewasa dan menjadi istri ketiga pula! Jika pada tontonan ketoprak sebetulnya hal-hal seperti ini soal biasa, tinggal di make up sedemikian rupa, jadilah gadis ABG berubah jadi AGB alias Anak Gede Banget. Tapi dalam sinetron pemeran kan harus alami, tampil apa adanya tanpa polesan dan dempulan.

Mengganti pemeran Zahra memang lebih mudah ketimbang mengeja nama pesinetron Lea Ciarachel Forneaux tersebut. Meski dhalang ora kurang lakon, tuntutan KPI untuk mengubah alur cerita “Suara Hati Istri” lumayan susah juga. Apa cukup ditambah tokoh baru yang menentang pidofilia dan perkawinan dini? Bisa-bisa tidak sinkron dengan kisah-kisah sebelumnya.

Ini pelajaran bagi PH-PH saat bikin sinetron, jangan hanya mengejar nominal lalu melupakan pertimbangan moral. Bagaimanapun juga segala tayangan di TV sangat mempengaruhi pemikiran dan perilaku publik. Pemerintah lewat revisi UU Perkawinan No. 01/1974 telah mengubah pasal 7 yang berbunyi: Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

Kini dengan adanya revisi UU tersebut oleh DPR, baik pria maupun wanita batas usia pernikahan adalah 19 tahun. Karenanya sinetron yang tampilkan pemeran istri ketiga dalam usia 15 tahuan, sama saja menafikan dan menyepelekan UU Perkawinan. Soal menjadi istri ke-3atau ke-4 tak masalah, sebab dalam Islam beristri sampai 4 dibolehkan sebagaimana termaktub dalam Surat Anisa ayat 3. (Cantrik Metaram)

Advertisement