Bogor Kekurangan Tenaga Medis untuk Tangani Pasien Covid-19

Minimnya jumlah dokter dan tenaga medis lain serta kapasitas RS mencemaskan jika terjadi outbreak Covid-19 di bulan-bulan mendatang. Sebanyak 25 dokter dan puluhan tenaga kesehatan dilaporkan tewas akibat minimnya perlindungan karena terpapar saat menangani pasien.

BOGOR – Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan jika Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kekurangan tenaga kesehatan untuk menangani pasien positif Covid-19 yang terus meningkat jumlahnya dirawat di rumah sakit dan pusat isolasi.

Menurut Dedie, kekurangan tenaga medis menjadi kendala pihaknya menangani pasien positif Covid-19 yang terus meningkat. Di sisi lain, sejumlah tenaga kesehatan juga terpapar Covid-19.

Dedie mengatakan pihaknya telah memperbanyak ketersediaan tempat tidur untuk pasien Covid-19 dengan menyiapkan Asrama A5 IPB serta mengoperasikan kembali Rumah Sakit Lapangan yang saat ini diberi nama Rumah Sakit Perluasan RSUD.

“Setelah ketersediaan tempat tidurnya bertambah, kendalanya saat ini adalah tenaga kesehatannya yang kurang,” katanya, dikutip Antara.

Menurut Dedie, Pemkot Bogor saat ini sedang membuka lowongan penerimaan tenaga kesehatan untuk mengisi kekurangan tenaga kesehatan di rumah sakit dan pusat isolasi.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan penanganan pasien Covid-19 di Kota Bogor menjadi kurang optimal karena dari 11.214 tenaga kesehatan di Kota Bogor, sebanyak 336 tenaga kesehatan terpapar Covid-19.

“Saat ini ada 336 orang tenaga kesehatan di Kota Bogor terpapar Covid-19 dan masih sakit, sedangkan peningkatan kasus Covid-19 di Kota Bogor pekan ini mencapai 78 persen,” kata Bima.

Kota Bogor juga mengalami kelangkaan gas oksigen menyusul meningkatnya pasien positif Covid-19 yang membutuhkan oksigen untuk membantu pernapasan.

Dari beberapa depot gas oksigen di Kota Bogor seperti di Jalan Raya Otista, di Jalan Kebon Pedes, Jalan Raya Semplak, dan Jalan Lawanggintung, pasokannya dari agen gas di Jakarta berkurang.

Advertisement