Perginya Ki Manteb & Harmoko

Mantan Menpen Harmoko saat Pos Kota nanggap Ki Manteb di PIK Penggilingan Jaktim tahun 2012.

SEMENJAK pandemi Corona semakin menggila di Indonesia, kita menjadi semakin sering mengucapkan innalillahi waina illaihi roji’un, melepas kepergian sejumlah tokoh penting di negeri ini. Tanggal 2 Juli dalang kondang Ki Manteb Sudharsono dipanggil Sang Pencipta, dan seperti kangsenan (janjian) saja, mantan Menpen Harmoko juga dipanggil Sang Khalik tanggal 4 Juli berikutnya.

Mereka ini bisa disebut sebagai tokoh ā€œsatu paketā€. Meninggal karena sebab yang sama, terpapar Covid-19.Ā  Ki Manteb – Harmoko juga sama-sama pecinta dan pejuang seni budaya Jawa, khususnya perwayangan hingga akhir hayatnya. Jika ada perbedaan, Ki Manteb tidak percaya akan adanya penyakit Corona, sedangkan mantan Menpen Harmoko dalam kolom ā€œKopi Pagiā€ di koran Pos Kota miliknya sering mengunggah pendapatnya tentangĀ  upaya yangg harus dilakukan pemerintah dalam membangun kebersamaan mengatasi Covid-19, termasuk mengatasi dampak sosial ekonominya.

Sebagai tokoh berlatar belakang Jawa, baik Ki Manteb maupun Harmoko sejak kecil memang mencintai wayang. Ki Manteb karena memang anak dhalang, sejak SR sudah bisa bisa mementaskan wayang. Dalam usia remaja sudah berani tampil mendalang semalam suntuk. Sedangkan Harmoko, di masa remaja pernah belajar mendalang di HBS (Himpunan Budaya Surakarta) dengan salah satu gurunya, dhalang Ki Samsudjin Probohardjono.

Karena perjalanan karier yang berbeda, Ki Harmoko mendalang hanya sebagai hobi belaka. Awal-awalnya menjadi Menteri Penerangan (1983), saat peresmian Museum Pers di Jl. Gajahmada Solo, Harmoko mucuki (mengawali) pertunjukan bersama Ki Samsudjin Probohardjono mantan gurunya di HBS. Sedangkan Ki Manteb, mendalang sebagai profesi dan hingga akhir hayatnya dikenal sebagai dalang papan atas dengan tarif Rp 250 juta sekali pentas di Jakarta.

Lewat titian karier masing-masing, keduanya sangat terkenal. Harmoko sebagai Menteri Penerangan mampu menjabarkan apa yang diinginkan Presiden Soeharto. Program-program pemerintah yang dibahas dalam sidang kabinet, oleh Harmoko kemudian disampaikan kepada pers melalui surat kabar, radio dan televisi. Diawali dengan kalimat khas ā€œbapak presiden memberi petunjukā€ atau ā€œmenurut petunjuk bapak presidenā€ soal harga gabah petani dan cabe keriting akan disampaikannya dengan detil.

Tak cukup dengan koran, radio dan televisi, Harmoko setiap bulan puasa juga mengadakan Safari Ramadan ke berbagai wilayah Indonesia. Ketemu ulama dan para kiyai, dia sampaikan apa yang dimaui pemerintahan Pak Harto. Dengan para petani Harmoko membentuk klompencapir (kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan), di mana lembaga itu menjadi ajang diskusi para petani untuk memajukan produksi dan mensejahterakan kehidupannya.

Sepak terjang Harmoko ini menjadikan Pak Harto tersenyum sambil manggut-manggut, sehingga dipercaya menjadi Menpen tiga periode (1983-1997) berlanjut sebagai Ketum Golkar dan Ketua MPR DPR. Tapi pada posisi terakhir inilah Harmoko berada di tikungan yang terjal, karena harus mendengarkan suara rakyat sesuai tugas lembaganya. Meski pahit Harmoko terpaksa menyarankan Pak Harto mengundurkan diri, dan itu dipenuhi Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 pagi sekaligus menjadikan Orde Baru tancep kayon (selesai) jika pinjam istilah perwayangan.

Ki Manteb Sudharsono seperti halnya Harmoko, juga sangat gemilang dalam meniti keriernya. Brbagai penghargaan diterimanya. Lewat pakeliran dia juga selalu memberi penerangan kepada rakyat, sekaligus mengajak rakyat untuk mencintai budayanya sendiri, khususnya wayang kulit. Cuma, ketika Harmoko sering mengatakan wayang sebagai tontonan dan tuntunan, Ki Manteb kurang sependapat. Sebagai tontonan itu jelas, tapi tuntunan? Bagi Ki Manteb, tuntunan itu pengertiannya ajaran agama (Islam). Yang tepat adalah ajaran moral. Logikanya, ajaran agama harus dilaksanakan (wajib), sedangkan ajaran moral mau dipatuhi silakan, tak digubris ya mangga. Tugas dhalang hanyalah ngudhal piwulang.

Agar wayang menarik minat generasi muda, sejak sebelum ada internet Ki Manteb sudah melakukan berbagai gebrakan dan terobosan. Pakeliran klasik diubahya, misalnya dengan menggeser posisi pesinden yang biasanya membelakangi penonton. Di tangan ki Manteb, pesinden atau waranggana itu posisinya ditaruh menghadap penonton, duduk berjajar sejajar dengan simpingan (jajaran) wayang. Jumlahnya juga tak hanya 1-2, tapi bisa sampai 5-6 dan muda-mudan nan cantik pula. Tentu saja penonton bertambah gairah.

Begitu soal tempo Limbukan dan Gara-Gara, oleh Ki Manteb diperlama hampir 2 jam setiap sesienya. Pelawak juga ditampilkan sebagai bintang tamu. Meski diprotes oleh para dalang klasik, Ki Manteb jalan terus. Faktanya dalang sekelas Ki Anom Suroto dan Ki Enthus Susmono beserta lain-lainnya meniru juga dan ikut sukses karenanya. Bahkan penonton yang tidak mengerti wayang meminta selama 8 jam itu diisi Limbukan dan Gara-Gara saja.

Demikianlah Harmoko dan Ki Manteb sama-sama memberi penerangan kepada rakyat lewat jalur profesi masing-masing. Mereka juga sering ketemu dalam tontonan wayang. Pada pertengahan April 1992, Harian Pos Kota milik Harmoko berulang tahun ke-22, wayangan 3 malam berturut-turut di Monas. Malam pertama Ki Manteb, malam kedua Ki TimbulĀ  Hadiprayitno dan malam ketiga Ki Sugito Purbacarita. Dari 3 dalang itu, kala itu Ki Manteb sendiri yang selama seminggu tak pulang ke Karanganyar Solo, karena pentas berurutan di Jakarta. Lewat Petruk kidalang sampai bilang, ā€œNek ngene iki apa apike aku pindhah Jakarta wae ya?ā€

Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā  Sayangnya pada pertunjukan tiga malam berturut-turut itu Harmoko sendiri tak hadir, karena sedang berada di luar negri. Tapi pada 20 tahun berikutnya, ketika Pos Kota kembali wayangan di PIK Penggilingan Jakarta Timur pada 15 April 2012, Harmoko – Ki Manteb kembali bertemu, bahkan Harmoko sendiri yang menyerahkan wayang Bima pada kidalang. Kebersamaan mereka ternyata berlanjut pada hari-hari akhir kehidupannya. Karena keduanya juga dipanggilĀ  Sang Pencipta nyaris bersamaan, hanya selisih satu hari. Selamat jalan Ki Manteb, selamat jalan Pak Harmoko! (Cantrik Metaram)

Advertisement