Satu Dekade Konflik Suriah

Perang saudara di Suriah yang berlangsung sejak 2011 tak kunjung usai karena keterlibatan kekuatan kawasan dan global yang saling berebut hegemoni.

PERANG saudara di Suriah bermula dari aksi protes warga kota kecil di selatan negara itu, Deraa terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, Maret 2011 terinspirasi dari gerakan “Arab Spring” di kawasan Timur Tengah sampai kini tak kunjung usai.

Bashar sebagai penerus ayahnya, diktator beraliran Syiah yang memimpin negeri mayoritas Sunni itu sejak 1971 sampai wafat pada 2000 selain berhadapan dengan kelompok perlawanan, juga di tengah konflik Arab-Israel dan perebutan hegemoni di Timteng dan global.

Terkait konflik Arab-Israel, Suriah tidak pernah absen dalam tiga kali perang besar melawan negara Yahudi itu yakni pada 1948, Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973.

Di level kawasan, Iran melalui perpanjangan tangannya, milisi Hesbollah bermarkas di Lebanon, juga pasukan Garda Revolusi menggunakan wilayah Suriah untuk melancarkan serangan ke Israel.

Kekuatan kawasan lainnya, Turki juga menempatkan pasukan di wilayah utara Suriah dan Provinsi Idlib dengan alasan melindungi keamanan nasionalnya dari ancaman  milisi separatis Unit Pelindung Rakyat etnis minoritas Kurdi.

Suriah, bagi Rusia juga sangat strategis, apalagi negara berang merah itu bisa menempatkan kekuatan udaranya di pangkalan Khmeimim dan pangkalan AL di Tartus.

Walau tak lagi menempatkan pasukannya untuk membantu Kurdi di perbatasan Suriah untuk melawan NIIS yang sudah berhasil dilumpuhkan, AS juga memiliki pangkalan AL di Bahrain, sejumlah kam mliter di Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Secara geografis, Suriah berbatasan langsung dengan negara Yahudi seteru bersama negara-negara Arab, dengan Turki di utara, Lebanon sebelah barat dan Jordania sebelah selatan.

Suriah juga berada di tepi Laut Merah yang di bagian timurnya merupakan ladang cadangan gas sebesar 120 triliun meter kubik yang diperebutkan banyak negara.

Selama satu dekade ini, tercatat sekitar 387.000 orang tewas, terdiri dari sekitar 104.000 warga sipil termasuk prempuan dan anak-anak, 68.400-an aliansi Arab dan milisi Kurdi, 52.000 milisi Suriah, 68.000 pasukan pemerinah dan lasykar jihad (a.l.NIIS).

Yang paling menderita dan menjadi korban akibat perang berkepanjangan di Suriah tentu saja rakyatnya yang 5,58 juta orang mengungsi, terbanyak di Turki (3,65 juta), Lebanon (865.000), Jordania (663.500), Irak (243.000), Mesir (130.500) dan negara-negara Afrika Utara (31.500).

Selain itu, menurut catatan PBB, sebanyak 6,7 juta penduduk Suriah atau hampir separuhnya terlantar, tidak mendapatkan tempat berteduh yang layak, akses kesehatan dan pendidikan.

Entah sampai kapan, rakyat Suriah dijadikan tumbal para elite?

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement