
KABAR baik bagi warga dunia untuk tidak merisaukan lagi keberadaan Covid-19 jika nantinya tiga macam obat yang sedang diteliti oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) manjur mengatasi penyakit akibat virus corona itu.
Mendesaknya kebutuhan global mengenai terapi penyembuhan Covid-19 yang lebih efektif dan mudah diakses seluruh warga dunia disampaikan oleh Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam siaran persnya di Jenewa (11/8).
Di bawah skema Solidarity PLUS melibatkan 52 negara, uji klinis di bawah kordinasi WHO tersebut dilakukan terhadap obat artesunate, imatinib dan infliximab yang hasilnya diharapkan sudah bisa diumumkan bulan depan (September).
Menurut catatan, artesunate adalah obat anti protozoa seperti malaria, sedangkan imatinib adalah jenis kinase (inhibitor) yang bekerja dengan menghalangi aktivitas protein tak normal dan memberi signal pada sel-sel anti kanker untuk bereplikasi.
Sedangkan infliximab untuk mengobati rheumathoid arthritis, spondilitis ankilosa dan psoriasis plak khususnya untuk ibu-ibu hamil dan menyusui.
Sejauh ini memang belum ditemukan obat Covid-19 sehingga secara darurat, dokter meresepkan obat-obat anti virus seperti remdesivir dan avigan atau obat anti malaria hydrocloroquin dan lopinavir atau interferon.
Bahkan tujuh vaksin yang direkomendasikan WHO yakni Sinovac, Sinopharm, Novavax, Astra-Zeneca, Johnson & Jhonson, Pfizer-Biontech dan Moderna sejauh ini baru bisa digunakan untuk keadaan darurat (Emergency Use of Authorization -EUA).
Ketiga calon obat yang menjalani uji klinis tersebut dipilih oleh kelompok peneliti independen karena berpotensi menekan risiko kematian terhadap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
Uji klinis penggunaan ketiga obat pada pasien Covid-19 dilakukan di 600 rumah sakit di 52 negara melalui program Solidarity PLUS di bawah koordinasi WHO.
Terkait penyebaran Covid-19 yang saat ini sudah memapar lebih 209 juta warga dunia dan menewaskan 3,3 juta orang lebih, Adhanom mengingatkan, jika tdak ada terobosan untuk menghambatnya, angka penyebaran di atas 300 juta kasus tidak mustahil bakal terlampaui akhir tahun ini.
“Namun kita bisa mengubahnya jika uji klinis nanti keluar, September, “ kata Dirjen WHO dengan nada optimistis. (AFP/Reuters/ns)




