JAKARTA – Dwita Okta Amelia Herdian, salah satu pasukan pengibar Sang Saka Merah Putih di Istana Negara pada Rabu, 17 Agustus 2021 merupakan putri dari tukang kebun di Perkebunan Sawit Nusantara V, unit kebun Sei Intan di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.
Kepada wartawan, karyawan Pabrik Kelapa Sawit itu mengaku tak pernah menyangka Dwita bakal menjadi perwakilan Provinsi Riau untuk ambil bagian dalam momen bersejarah tersebut. Terlebih lagi, Dwita berasal dari SMA Negeri I Kunto Darussalam, sebuah sekolah yang awalnya jauh dari perhitungan, namun mampu mengalahkan ratusan peserta sekolah favorit nan unggulan.
“Saya mendukung. Teman-teman di kantor juga memberikan doa. Tapi tidak pernah saya berani membayangkan dia akan berada di sana. Berdiri mengibarkan bendera di Istana Merdeka,” katanya dengan mata berkaca-kaca, dikutip Antara.
Hal itu tak lain karena Dwita dikenal anak yang nyaris jarang keluar rumah sepulang sekolah. Tapi, satu yang pasti, Dwita anak berprestasi. Melahap semua pelajaran dan ekstrakurikuler di sekolahnya dengan mantab.
Heri telah mengabdi di perusahaan perkebunan milik negara PTPN V sejak 1991. Namun, dia mengatakan Agustus 2021 inilah yang menjadi momen paling besar pernah ia rasakan. Selain Dwita mengharumkan nama keluarga, ia akan menancapkan 30 tahun masa kerja di bulan kemerdekaan ini.
Heri mengisahkan, perjalanan Dwita yang bercita-cita menjadi anggota Polri tersebut untuk menjadi bagian Paskibraka di Istana Merdeka cukup panjang. “Saat itu dia bilang ke saya, meminta doa saya dan ibunya untuk ikut seleksi Paskibraka. Dia ingin sekali menjadi bagian pengibar bendera di Jakarta,” ujarnya.
Perjalanan panjang Dwita hingga ke Jakarta diawali dari tingkat paling bawah, tingkat kecamatan. Satu per satu tahapan di jalani dengan tekun dan doa. Hingga akhirnya, nama siswa kelas Xl MIPA 1 itu muncul untuk lanjut ke tahapan seleksi kabupaten. Terdapat ratusan siswa yang mengikuti seleksi itu.
Ia terpilih untuk lanjut seleksi tingkat provinsi di Pekanbaru. Bendera perjuangan kembali dikibarkan dengan ratusan pelajar terbaik Bumi Lancang Kuning ini.
Sempat khawatir akibat pandemi Covid-19, Heri pun ikhlas melepas putri kesayangannya dari desa ke kota. Seleksi di Pekanbaru berlangsung selama empat hari, sejak 19 Mei hingga 22 Mei 2021. Pada hari terakhir, telefonnya berdering, terdengar isak tangis nun jauh di ujung gawai. Dwita terpilih untuk berada di Istana Merdeka, mengibarkan Merah Putih di hadapan Kepala Negara.
Sempat tidak percaya. Namun dia yakin inilah berkat doa. Doa orangtua yang tak pernah putus, dibarengi usaha yang tak kenal lelah. “Saya bangga sekali. Teman-teman di tempat kerja juga begitu bangga. Ada anak kebun yang berhasil lolos ke tingkat nasional,” ujarnya.
Anak kebun adalah istilah yang akrab disematkan kepada para anak karyawan PTPN V. Heri mengatakan dukungan perusahaan bagi pengembangan prestasi anak-anak karyawan perusahaan sangat besar. Dia mengapresiasi kebijakan PTPN V yang tidak melupakan pendidikan anak-anak karyawan dan masyarakat di sekitar perkebunan akan pentingnya pendidikan.
“Jika saya bukan karyawan PTPN V, mungkin tidak akan pernah melihat Dwita berada di sana. Saya tidak berhenti bersyukur atas semua ini,” ujarnya.





