Afghanistan Pasca Kemenangan Taliban

Masa yang trauma terhadap Taliban saat berkuasa (1996 - 2001) berebutan untuk dievakuasi keluar Afghanistan, dengan nekat bergelantungan di badan pesawat, sehingga 37 orang tewas terhempas ke bumi.

MILISI Taliban dengan serangan kilat selama sepuluh hari berhasil mengambil alih ibukota, Kabul, Minggu (15/8) tanpa perlawanan dari pasukan rezim Presiden Ashraf Ghani yang tidak berdaya tanpa dukungan pasukan Amerika Serikat.

AS yang pernah menempatkan 100.000 personil pasukannya saat kampanye menggusur pemerintah Taliban pasca peristiwa pengeboman di New York dan Washington oleh kelompok al-Qaeda (11 Sept 2001), melakukan penarikan bertahap sampai 31 Austus nanti, sehingga saat itu hanya tersisa sekitar 2.500 personil saja.

Sejumlah milisi Taliban tampak santai di ruang Istana Kepresidenan yang sudah ditinggal oleh Presiden Ashraf Ghani, di rumah bekas panglima pasukan pemerintah yang juga kabur atau bermain boom-boom car di pusat hiburan anak-anak di tengah kota Kabul.

Sebaliknya, kepanikan terjadi di bandara Kabul ketika ribuan warga, sebagian pegawai pemerintah, orang-orang yang bekerja atau membantu pasukan AS atau mereka yang trauma dengan aksi brutal Taliban saat berkuasa di negeri itu antara 1996 sampai 2001.

Selain memberlakukan peraturan ekstrim, misalnya perempuan tidak boleh keluar rumah, anak-anak perempuan dilarang ssekolah, atau dicambuk gegara tidak mengenakan burka, Taliban juga tidak ragu-ragu memenggal orang yang dianggap lawan.

Massa berebut menaiki pesawat A-17 Globe Master milik AS yang akan mengevakuasi mereka keluar Afghanistan, bahkan ada yang nekat bergelantungan di roda pesawat, sehingga tragis, 37 orang diantaranya tewas terhempas ke bumi.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sudah kabur lebih dulu saat Taliban mendekati Kabul, terbang dengan pesawat pribadi ke Tajikistan, lalu ke Oman, berdalih demi menghindari pertumpahan darah di negaranya, sehingga selain dicap pengecut oleh rakyat pendukungnya, kabar miring juga beredar, ia kabur membawa setumpuk uang.

“Taliban telah menang menggunakan senjata dan pedang mereka, dan sekarang harus bertanggungjawab  atas kehormatan, kekayaan dan keamanan rakyat Afghanistan “ serunya melalui FB yang dikutip AFP (15/8).

Sementara Presiden AS Joe Biden menanggapi kritik terkait penarikan pasukannya menyebutkan, misi AS  menghukum Taliban yang memiliki hubungan dengan pelaku peristiwa 9/11 (Osama bin Laden, pimpinan al-Qaeda sudah selesai.

Namun ia juga menunjukkan kekecewaannya  pada  para komadan militer Afghanistan  yang melarikan diri, padajal AS sudah memasok berbagai persenjataan canggih untuk mereka.

“Kami sudah memberi peluang bagi mereka menentukan masa depan Afghanistan, tetapi tidak bisa memberi mereka tekad untuk berjuang mendapatkannya, “ tutur Biden.

Sudah Berubah, Ingin  Jalin Kerjasama

Sebaliknya Jubir Taliban, Suhail Shareen menyebutkan bahwa Taliban (kini) tidak akan mengobarkan permusuhan, baik internal mau pun eksternal dan menyatakan ingin bekerjasama dengan pihak mana pun.

Pada intinya, Shareen ingin menjelaskan,  sosok Taliban saat ini sudah berubah, tidak perlu ditakutkan, ingin bekerjasama dengan semua  pihak, termasuk di dalam negeri, tidak ada aksi permusuhan atau balas dendam pada pihak-pihak yang berseberangan.

Shareen juga mengaku sudah berkomunikasi dengan pemerintah China, Rusia dan India, namun pertanyaannya, jika hubungan terwujud,  apa bakal langgeng?, mengingat ketiganya juga bermasalah dengan kelompok-kelompok Islam minoritas (Rusia dengan Chechnya, India terkait Kashmir dan China dengan Uighur).

Di tataran internal, rakyat Afghanistan yang tidak sepaham dengan Taliban masih trauma dengan wajah kelam yang ditampilkan kelompok garis keras itu saat berkuasa antara 1996 sampai 2001 untuk bisa mempercayainya begitu saja.

“Taliban menyatakan akan berubah karena tekanan politik, terutama dari dunia internasional, bukan karena ideologi mereka (garis keras-red) berubah, “ ujar Direktur Jarngan Pengamat Afghanistan Thomas Ruttig pada Washington Post.

Selain terkesan normatif, yang disampaikan Shareen agaknya bersifat politis, karena tentu saja rezim Taliban sebagai penguasa baru Afghanistan saat ini memerlukan dana, bantuan dan kerjasama dengan negara lain dan badan-badan dunia.

Sebaliknya, di tingkat akar rumput, stigma buruk Taliban di masa lalu, tentu mencitrakan  trauma berkepanjangan dan dicemaskan oleh mereka yang berseberangan bakal berulang kembali.

Taliban untuk sementara telah sukses meraih kemenangan gemilang seperti yang diinginkan, tetapi ke depannya, kesulitan bakal menghadang untuk menjalankan pemerintah dan mempertahankan kekuasaan.

Siapa yang bakal mengakui pemerintahnya, yang mau bekerja sama, menggelontorkan bantuan dan bagaimana agar persatuan terwujud, tanpa ekses-ekses dan aksi-aksi balas dendam? (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement