Boikot Saipul Jamil

Keluar dari LP Cipinang Saipul Jamil dielu-elukan bak pahlawan Olympiade.

SEBENARNYA kasihan juga! Sudah 5 tahun Saiful Jamil kehilangan kebebasannya, kehilangan sumber pencahariannya. Tapi begitu telah keluar dari LP Cipinang dan ingin kembali ke dunia hiburan yang menjadi habitatnya selama ini, ditolak publik. Bahkan TV pun ditekan lewat 500 ribu petisi, agar memboikot Bang Ipul dari layar kaca. Sampai kapan? Tapi itulah sanksi sosial yang harus diterimanya. Seakan hukuman kurungan badan selama 1.980 hari di Lapas Cipinang itu tak juga menghapus dosanya sebagai pelaku pedophilia.

Saipul Jamil belum pernah ke Philadelphia, Amerika Serikat. Tapi takdir Allah menjadikan dia sebagai penderita pedophilia, menyenangi anak kecil untuk kepuasan syahwatnya. Gara-gara menggerayangi DS (14), nasibnya jadi terpuruk. Dia harus masuk penjara selama 8 tahun. Berkat remisi sampai 30 bulan, dia awal September lalu sudah bebas murni. Padahal mestinya baru tahun 2024 nanti.

Sebetulnya kebebasan Bang Ipul 2 September lalu takkan jadi heboh, seandainya pacar dia si Indah Sari bisa menahan diri. Tapi saking senengnya sang gacoan bebas, sedangkan dia duit juga punya, maka Bang Ipul dijemput secara gegap gempita. Mobil mewah Forche merah disiapkan, tambah lagi dikalungi bunga dan diberi bucket segala. Indah Sari yang sama-sama penyanyi dangdut itu kehilangan sensitivitasnya. Mengelu-elukan eks penjahat kelamin, sama saja mengusik nalar orang-orang waras.

Seperti Indah Sari, penggemar Bang Ipul juga sudah mengalami pergeseran nilai-nilai moral. Bagaimana mungkin, Bang Ipul yang pernah mencabuli bocah di bawah umur, kok begitu dielu-elukan bagaikan pahlawan Olyimpiade atau Asian Games yang pulang ke Indonesia dengan membawa sejumlah medali emas dan piala. Ingatlah nasib DS yang 6 tahun lalu dilecehkan oleh Bang Ipul. Mungkin sekarang orangnya masih trauma. Dan ketika melihat sosok yang telah menciderainya justru dipahlawankan publik, di hatinya bisa terjadi luka di atas luka.

TV swasta tentunya tahu juga standar moral bangsa kita. Tapi demi mengejar rating ikut latah menayangkan pembebasan Bang Ipul secara berlebihan. Tak hanya diliput saat pembebasan, tapi justu diundang sebagai bintang tamu. Dan di layar kaca kembali Saipul Jamil dan pemandu acaranya cengengesan, seakan lupa siapa dia sebenarnya. Karena publik marah, meski telat KPI pun mengingatkan agar TV bisa menghormati perasaan publik.

Publik kecewa pada sikap TV-TV swasta, tapi warganet dan aktivis medsos tak hanya itu. Mereka mengajukan petisi ke TV, agar tidak lagi menayangkan segala kegiatan Saipul Jamin. Hingga kini aksi boikot Bang Ipul di TV itu telah ditanda tangani lebih dari 500.000 netizen. Kasihan sebetulnya. Menekan TV agar memboikot Bang Ipul di layar kaca, sama saja mematikan rejeki bekas suami Dewi Persik. Padahal orang-orangtua kita selalu menasihati, jangan menghambat rejeki orang, jika tak ingin rejekimu juga dihambat orang.

Bila TV-TV swasta patuh pada petisi warganet, tamatlah sudah karier keartisan Bang Ipul. Masuk kotak! Dia tak mungkin lagi malang melintang di layar kaca. Karena habitatnya dunia musik dangdut, apa berani dia ngamen dangdutan di gang-gang kampung? Dia sudah habis-habisan untuk membiayai langkahnya yang salah. Dia pernah nyuap panitera pengadilan sampai Rp 250 juta, agar hukuman diringankan. Tapi yang terjadi justru hukumannya ditambah.

Bang Ipul harus merintas dari nol lagi, karena rumah dan mobilnya sudah terjual demi membiayai perkara dan hidupnya gara-gara kasus pencabulan itu. Hartanya yang masih ada tinggal rasa cinta pada Indah Sari yang setia menunggu selama dia di penjara. Tapi apakah itu cinta yang sebenarnya? Walahu alam!

Sebab karena “kelainan” itu Bang Ipul ketika menikahi Dewi Persik tahun 2005, rumahtangganya hanya bertahan selama 2 tahun saja. Kepada Ruhut Sitompul yang waktu itu masih jadi politisi Demokrat, Depe –begitu dia dipanggul– pernah curhat bahwa selama jadi istri Bang Ipul tak pernah dijamah sama sekali, sehingga selama 2 tahun masih utuh buntelan plastik. Padahal jika Bang Ipul lelaki normal, tak mungkinlah Dewi Persik hanya dijadikan hiasan di sangkar madu, atau wastra lungset ing sampiran. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

Advertisement