
MATA dunia tertuju pada Pertemuan Para Pihak (COP 26) di Glasgow, Skotlandia, 1 – 12 November yang dihadiri 120 pemimpin negara termasuk Presiden Joko Widodo guna membahas isu perubahan iklim dan pemanasan global yang bisa menuai berbagai bencana alam.
Sangat disayangkan, pemimpin yang negaranya berkontribusi besar menyumbang emisi karbon seperti Presiden China Xi Jin Ping China, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brazil Jair Bolsonaro dan Presiden Turki Recep Tajjip Erdogan hanya mengikutinya dari kejauhan melalui daring.
COP 26 menjadi asa terakhir untuk menahan laju pemanasan global sejak era revolusi industri (1850 -1900) penyebab perubahan besar-besaran di sektor pertanian, manufaktur pertambangan dan lainnya akibat kemajuan teknologi dan mekanisasi.
Sebelumnya KTT G-20 di Roma, Itali (30 dan 31 Okt.) gagal menyepakati langkah kongkret untuk menguatkan komitmen bersama mematok kenaikan maksimal pemanasan global 1,5 derajat Celsius di atas era Revolusi Industri sesuai pertemuan Paris 2015.
Mayoritas negara G-20 termasuk Indonesia dan Uni Eropa yang menjadi emitter karbon terbesar dan lebih 80 persen PDB serta dihuni 60 persen populasi dunia ternyata gagal memenuhi kewajiban mereka menekan tingkat emisi global.
Faktanya, laju kenaikan permukaan laut global kian cepat sejak 2013 dan mencapai level rekor tertinggi baru pada 2021 disertai naiknya keasaman air laut (tulisan Ahmad Arif, Kompas, 2/11).
Suhu global Januari – September 2021 tercatat naik 1,5 derajat C di atas rata-rata antara 1850 – 1900, sedangkan kenaikan permukaan laut 2,1 mm per tahun dari 1993 sampai 2002 menjadi 4, mm antara 2013 dan 2002 per tahun akibat hilangnya massa es di kutub, dipercepat leh melelehnya gletser dan lapisan es di lautan.
Kesepakatan Paris 2015
Kesepakatan Paris pada 2015 sudah mematok kenaikan maksimal suhu global 1,5 derajat C sampai akhir abad ini, namun tanpa aksi kongkret bersama, suhu global sedang menuju kenaikan 3 sampai 4 derajat Celsius sampai 2050.
Seperti dilaporkan oleh Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Petteri Taalas, terjadi sederet fenomena cuaca ekstrim sepanjang 2021 a.l pertama kalinya turun hujan di puncak lapisan es sehingga lebih cepat mencair di puncak Gletser di Greenland, Kanada.
Sementara gelombang panas di Death Valley, California, British Columbia, AS mencapai 54,4 derajat C, dan sejumlah Kawasan Mediteranea mengalami rekor kenaikan suhu, sebaliknya, suhu ekstrim dingin terjadi di Amerika tengah dan Meksiko utara, medio Februari lalu, terparah di Texas.
Merespons laporan WMO, Sekjen PBB Antonio Gutteres mengingatkan, planet yang dihuni manusia sudah berubah drastis dari kedalaman laut hingga puncak gunung, dari gletser yang mencair sampai cuaca ekstrim berkepanjangan serta rusaknya ekosistem global.
Seperti juga yang diingatkan tuan rumah COP 26 PM Inggeris Boris Jhonson, jika pertemuan itu gagal merumuskan solusi, para pemimpin dunia yang hadir akan menerima hujatan dari generasi mendatang yang memikul beban tumpukan emisi karbon atau gas rumah kaca pasca Revolusi Industri.
“Generasi mendatang bakal menghadapi kenyataan, rentan dari bencana alam akibat perubahan iklim, sehingga berakibat kehilangan tempat tinggal, nafkah, sumber pangan, keanekaragaman hayati dan gangguan kesehatan.
Warga dunia harap-harap cemas, menanti komitmen para pemimpin dunia dalam pertemuan COP 26 yang diharapkan menjadi juru selamat akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
COP 26: Upaya Bersama Meruwat Bumi
MATA dunia tertuju pada Pertemuan Para Pihak (COP 26) di Glasgow, Skotlandia, 1 – 12 November yang dihadiri 120 pemimpin negara guna membahas isu perubahan iklim dan pemanasan global.
Presiden Joko Widodo termasuk salah satu yang hadir, namun disayangkan, pemimpin yang negaranya berkontribusi besar menyumbang emisi karbon seperti China, Rusia, Brazil dan Turki hanya mengikutinya dari kejauhan melalui daring.
COP 26 menjadi asa terakhir untuk menahan laju pemanasan global sejak era revolusi industri (1850 -1900) penyebab perubahan besar-besaran di sektor pertanian, manufaktur pertambangan dan lainnya akibat kemajuan teknologi.
Sebelumnya KTT G-20 di Roma, Itali (30 dan 31 Okt.) gagal menyepakati langkah kongkret untuk menguatkan komitmen bersama mematok kenaikan maksimal pemanasan global 1,5 derajat Celsius di atas era Revolusi Industri sesuai pertemuan Paris 2015.
Mayoritas negara G-20 termasuk Indonesia dan Uni Eropa yang menjadi emitter terbesar dan lebih 80 persen PDB serta dihuni 60 persen populasi dunia ternyata gagal memenuhi kewajiban mereka menekan tingkat emisi global.
Faktanya, laju kenaikan permukaan luat global kian cepat sejak 2013 dan mencapai level tertinggi baru pada 2021 disertai naiknya keasaman air laut (tulisan Ahmad Arif, Kompas, 2/11).
Suhu global Januari – September 2021 tercatat naik 1,5 derajat C di atas rata-rata antara 1850 – 1900, sedangkan kenaikan permukaan laut 2,1 mm per tahun dari 1993 sampai 2002 menjadi 4, mm antara 2013 dan 2002 per tahun akibat hilangnya massa es di kutub, dipercepat melelehnya gletser dan lapisan es di lautan.
Kesepakatan Paris 2015
Kesepakatan Paris pada 2015 sudah mematok kenaikan maksimal suhu global 1,5 derajat C sampai akhir abad ini, namun tanpa aksi kongkret Bersama suhu global sedang menuju kenaikan 3 sampai 4 derajat Celsius.
Seperti dilaporkan oleh Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Petteri Taalas, terjadi sederet fenomena cuaca ekstrim sepanjang 2021 a.l pertama kalinya turun hujan di puncak lapisan es sehingga lebih cepat mencair di puncak Gletser di Greenland, Kanada.
Sementara gelombang panas di Death Valley, California, British Columbia, AS mencapai 54,4 derajat C, dan sejumlah Kawasan Mediteranea mengalami rekor kenaikan suhu, sebaliknya, suhu ekstrim dingin terjadi di Amerika tengah dan Meksiko utara, medio Februari lalu, terparah di Texas.
Merespons laporan WMO, Sekjen PBB Antonio Gutteres mengingatkan, planet yang dihuni manusia sudah berubah drastis dari kedalaman laut hingga puncak gunung, dari gletser yang mencair sampai cuaca ekstrim berkepanjangan serta rusaknya ekosistem global.
Seperti juga yang diingatkan tuan rumah COP 26 PM Inggeris Boris Jhonson, jika pertemuan itu gagal merumuskan solusi, para pemimpin dunia yang hadir akan menerima hujatan dari generasi mendatang yang memikul beban tumpukan emisi karbon atau gas rumah kaca pasca Revolusi Industri.
“Generasi mendatang bakal menghadapi kenyataan, rentan dari bencana alam akibat perubahan iklim, sehingga berakibat kehilangan tempat tinggal, nafkah, sumber pangan, keanekaragaman hayati dan gangguan kesehatan.
Warga dunia harap-harap cemas, menanti komitmen para pemimpin dunia dalam pertemuan COP 26 yang menjadi juru selamat dari perubahan iklim dan pemanasan global.




