Korsel dan Korut Berdamai?

Rudal balistik Korut yang membuat ketar-ketir lawannya dalam parade. Korut dan Korsel dikabarkan sedang PDKT untuk berdamai?

JIKA benar, di penutup akhir 2021 sungguh suatu berita mengejutkan dan sekaligus  mengembirakan, Korea Utara dan seteru bebuyutan serta juga tetangganya, Korea Selatan sepakat ingin berdamai.

Mengutip keterangan Presiden Korsel Mon Jae-in, harian Inggeris Independent melaporkan, kedua negara dan juga Amerika Serikat dan China secara “prinsip” sepakat mengumumkan diakhirinya perang di Semenanjung Korea.

Dua negara serumpun yang terlibat Perang Korea antara 1950 dan 1953, Korsel didukung AS dan koalisi PBB, sementara Korut didukung China, Uni Soviet dan negara blok Timur lainnya terakhir kali hanya melakukan gencatan senjata, namun tetap masih dalam status perang.

Sejak itu, pemerintahan AS, China dan PBB gagal menyelesaikan persyaratan untuk mengakhiri permusuhan secara resmi sehingga membuat kedua negara secara teknis masih dalam status perang.

Namun, Moon menambahkan bahwa pembicaraan belum dimulai untuk menyatakan perdamaian secara formal karena Korea Utara masih mempermasalahkan “sikap permusuhan” yang ditunjukkan AS.

Pyongyang terus-menerus mengaitkan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang dengan kehadiran 28.500 tentara AS di Korsel, latihan militer tahunan kedua negara serta sanksi ekonomi yang dikenakan AS untuk merespons uji-uji coba rudal balistik dan bom nuklirnya.

Adik perempuan Presiden Korut Kim Jong Un, Kim Yo Jong September lalu juga mengisyaratkan kemungkinan dukungan negaranya bagi penyelenggaraan perundingan damai, namun dengan syarat   AS harus mengakhiri “kebijakan bermusuhan” terlebih dahulu.

“Karena itu kami tidak dapat duduk besama untuk berdiskusi atau bernegosiasi mengenai deklarasi tersebut. Kami berharap pembicaraan akan dimulai,” kata Moon pada konferensi pers bersama dengan PM Australia Scott Morrison di Canberra, Selasa lalu (14/12).

Pemimpin Korsel itu juga berharap, mengakhiri perang secara resmi akan mendorong Kim untuk menghidupkan kembali negosiasi yang macet mengenai program nuklirnya.

Jika perdamaian bisa diwujudkan, tentu bakal mendorong kemajuan ekonomi dan kesejahteraan kedua bangsa dan negara Korea.

Korsel menggelontorkan anggaran militer sebesar 43,8 miliar dollar AS (sekitar Rp621,4 triliun) pada 2021,  sementara Korut di tengah embargo pihak Barat dan keterpurukan ekonominya, masih menganggarkan 3,6 miliar dollar AS (sekitar Rp51,2 triliun).

Kekuatan Militer

Dari jumlah personil, anggota tentara tetap Korut 950.000 orang, cadangan 5,5 juta orang, sedangkan Korsel 627.000 anggota pasukan tetap dan 5,2 juta cadangan.

AU Korut mengoperasikan 950 pesawat tempur berbagai jenis Warisan Uni Soviet seperti seri MiG (MiG-15, MiG-21, MiG-23 dan MiG-29) yang relatif lawas, sebaliknya AU Korsel didukung 1.600 aneka pesawat tempur buatan AS seperti F-16 Fighting Falcon dan F-15 EX Eagle dan T-50 Golden Eagle buatan lokal.

Di darat Korut didukung 4.100 tank eks Soviet seperti T-55,    T-62, 4.300 pucuk meriam tarik, 2.250 meriam swagerak serta 2.400 peluncur roket buatan lokal mau pun Soviet, sebaliknya, Korsel mengoperasikan 2.660 tank termasuk M2A1 Abrams buatan AS dan Black Panther buatan lokal, 5.37 pucuk meriam tarik dan 1.990 pucuk meriam swagerak serta 210 rudal.

Sedangan matra laut Korut dilengkapi 76 kapal selam kelas Kilo dan Whisky serta 11 fregat (semua eks-Soviet), sedangkan Korsel memiliki satu kapal induk, 15 kapal selam, 13 fregat dan 12 kapal perusak, buatan AS mau pun galangan lokal.

Yang ditakuti lawannya, Korut diperkirakan memiliki puluhan rudal seri Taipodong, Nodong atau Swasong  yang mampu menjangkau ribuan Km dan bisa mengangkut hulu ledak nuklir.

Di tengah himpitan ekonomi, bai akibat embargo pihak Barat mau pun kemarau panjang, Korut terus mengembangkan rudal-rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan menjangkau daratan AS.

Sebaliknya, Korsel walaupun tidak memiliki arsenal nuklir,  termasuk negara pengekspor alutsista terkemuka didukung industrinya yang kuat. Baru-baru ini Korsel mengekspor 600 pucuk  meriam tarik K-9 kaliber 155 MM produksinya ke Australia.

Selain diperkuat 28.500 anggota tentara AS, Korsel juga menerima pasokan alutsista mutakhir seperi sistem pertahanan udara altitud tinggi (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD) dan sistem Aegis buatan AS

Jika perdamaian bisa diwujudkan, yang paling gembira tentu rakyat Korut yang hidup puluhan tahun di tengah kemiskinan, juga tetangganya Korsel yang tidak perlu was-was lagi terhadap serangan rudal nuklir dan juga membawa suasana tenteram di kawasan Asia Pasifik.

 

Advertisement