Kolonel Lupa Sapta Marga

Saat tabrakan di Nagreg, tiga pria berbadan tegap menggotong Handi ke dalam mobil.

SEBAGAI oknum, Kol. Inf. Priyanto yang dinas di Korem Gorontalo ini perlu belajar ke Kantor Pegadaian, salah satu BUMN Negara. Di sana dia biar tahu bagaimana caranya mengatasi masalah tanpa masalah. Soalnya dia ini meski sudah jadi pamen TNI, masih tak mampu membedakan mana manusia, mana kucing. Ketika mobilnya nabrak dua remaja di Nagrek, Garut, hingga satu tewas dan satu koma; bukannya para korban dilarikan ke Rumah Sakit, tapi malah dibuang ke kali seperti kucing saja. Di mana jiwa Sapta Margamu?

Kisah tragis sekaligus ironis ini bermula ketika Kol. Priyanto (48) njajal mobil Isuzu Panther miliknya dari Jakarta  ke Cilacap, lewat jalur selatan (Bandung – Ciamis) pada 8 Desember 2021. Tapi baru lepas tol Cileunyi dan masuk betulan Nagrek, mobil B 300 Q yang dikemudikan Kopda AS itu nabrak dua sejoli yang kemudian hari diketahui mereka bernama Handi (18) dan Salsabila (14) yang tengah boncengan motor. Keduanya langsung tak bergerak.

Mereka bertiga langsung menolong dua sejoli itu dinaikkan mobil. Kepada warga yang kemudian ikut menolongnya dikatakan bahwa akan dibawa ke RS terdekat, di Limbangan. Warga mempercayainya. Hari masih siang kala itu, sehingga ada warga yang berhasil memotret kejadian itu, termasuk nomer polisinya. Berkat potretan inilah pada akhirnya kejahatan Kol. Inf. Priyanto dan dua anak buahnya terbongkar.

Dalam mobil Isuzu Panther yang katanya hendak ke Limbangan untuk menmcari Rumah Sakit, Priyanto nampak karakter aslinya. Sopir Kopda AS menyarankan agar dua korban itu dibawa ke RS, didukung pula oleh Kopda AD. Mereka bertiga memang cukup dekat, sebab Kopda AS adalah bekas anak buahnya di Kodim Gunung Kidul (DIY) dan Kopda AD juga bekas anak buahnya di Kodim Demak.

Tapi Priyanto menolak saran dua anak buahnya tersebut. Dia ganti yang mengemudi dan bertekad untuk membuangnya. Repot amat, begitu pikirnya. Saat itu juga oknum pamen TNI itu mendadak dungu, tak bisa membedakan mana manusia, mana kucing. Yang bener saja. Dua jazad di jok belakang itu bukan kucing, masak mau dibuang seenaknya?

Pikiran Priyanto memang sedang kalut. Niat membuang jasad dua korban untuk menghilangkan jejak, sama saja oknum pamen ini sudah mengkhianati Sapta Marga. Sumpah prajurit nomer 3 itu mengatakan: Kami Kesatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. Nah, Dalam kondisi demikian dia mestinya  perlu konsultasi ke Kantor Pegadaian, bagaimana caranya mengatasi masalah tanpa masalah.

Sekitar pukul 21:00 mobil yang dikemudikan Priyanto tiba di jembatan Sungai Serayu Kabupaten Banyumas. Tanpa belas kasihan, dia perintahkan kepada Koptu AS dan Kopda AD untuk membuang jasad Handi yang saat itu masih hidup dan Salsabila yang memang sudah meninggal. Dengan berat hati kedua anak buah itu melakukannya. Setelah kembali di mobil, sambil menyetir Kol. Inf. Priyanto meminta keduanya merahasiakan hal ini, jangan cerita kepada siapapun.

Secara tak langsung dan tanpa disadarinya, ulah oknum TNI ini telah merusak cita rasa lagu keroncong “Di tepinya kali Serayu” karya R. Sutedjo. Lirik “di tepinya sungai Serayu waktu fajar menyingsing” mestinya “pelangi merona warnanya nyiur melambai-lambai” kok berubah jadi: waktu fajar menyingsing dua mayat melambai-lambai”. Kol. Inf. Priyanto Cs tak pernah berfikir sampai ke situ.

Beberapa hari berikutnya, tiga oknum TNI-AD ini sudah kembali ke posnya masing-masing, seakan tidak ada peristiwa apa-apa. Padahal sejak Rabu sore di tanggal kejadian, kedua orangtua Salsabila dan Handi kalangkabut mencari kedua anaknya yang katanya dibawa ke RS seputar Garut dan Bandung. Baru tiga hari kemudian terjawab, kedua putra mereka sudah dimakamkan orang di Banyumas dan Cilacap sebagai mayat tak dikenal.

Berkat foto yang diambil warga saat kejadian, misteri mobil Isuzu Panther bersama 3 orang tegap di dalamnya mulai terungkap. Namun demikian dalam pemeriksaan awal Kol. Inf. Priyanto tetap tak mengaku bahwa mobil miliknya yang terlibat tabrakan maut itu. Mungkin dia berfikir, karena pakai Isuzu Panther, kasus yang membelitnya pastilah nyaris tak terdengar.

Barulah setelah pemeriksaan dilakukan terhadap Koptu AS dan Kopda AD, semuanya jadi terang benderang. Otak pembuangan dua remaja itu ke sungai Serayu Kol. Inf. Priyanto sendiri. Kini mereka tengah diperiksa POM TNI Pusat. Mereka kena sanksi tegas, bukan terancam hukuman penjara seumur hidup, tapi juga dipecat dari TNI.

Seorang pamen TNI mestinya tak pernah lupa dengan Sapta Marga-nya. Dia telah salah bersikap. Padahal karena dia kala itu hanya sebagai penumpang, sanksi pelanggaran UU Lalulintas dikenakan pada Koptu AS selaku pengemudi, bukan Priyanto. Tapi gara-gara kekeliruan dalam mengatasi masalah, justru menimbulkan masalah besar.

Kehadiran Kasad Jendral Dudung Abdurachman ke rumah Handi dan Salsabila di Garut – Bandung sangat menghibur keluarga . Selain minta maaf, Dudung juga berjanji akan menghukum seberat-beratnya pada 3 anak buahnya yang telah mengkhianati Sapta Marga itu. (Cantrik Metaram).

Advertisement