Perlunya Pelajaran Etika

Pelajaran tentang etika harus diberikan pada anak didik di sekolah-sekolah sejak dini, jika tidak, gegara saling tatap mata, bisa merenggut nyawa.

ETIKA, tatakrama atau dalam bahasa Jawa disebut unggah-ungguh selain menunjukkan peradaban suatu bangsa, juga bisa berakibat fatal jika tidak dilakukan saat berinteraksi dengan orang atau pihak lain di ruang-ruang publik.

Contoh teranyar ditunjukkan oleh Rojali (32), warga Kampung Rawa Jambe, Desa Teluknaga, Kec. Teluknaga, Tangerang yang tega membunuh R (22) seorang petani hanya karena bertatapan muka saat berpapasan.

Aksi brutal Rojali, menurut Kasi Humas Polres Metro Tangerang Kompol. Abdul Rochim, tersebut dilakukan, Jumat (31/12) tahun lalu, berawal dari ketersinggungan pelaku yang sedang berboncengan dengan dua rekannya bersepeda motor di jalan kampung diperhatikan oleh korban.

Pelaku berhenti lalu menegur korban: “Ngapain lu lihat-lihat?” yang langsung dijawab oleh korban: “Kalau mau tidak dilihat, jangan keluar rumah”, sehingga selanjutnya terjadi adu mulut.

Korban yang kesal kemudian mengambil sebilah arit dari warung sembako di sekitarnya dan mengacungkan kepada pelaku dan kedua temannya. Saat itu mereka pergi. Namun tak lama pelaku kembali dengan membawa golok dan langsung membacok korban.

Melihat keberingasan  pelaku, tiga orang yang saat itu bersama korban menyelamatkan diri dan baru setelah pelaku pergi, mereka kembali dan melihat korban sudah tergeletak dengan luka sobek di kepala dan dada.

Polisi yang mendapati laporan tentang kejadian itu langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi korban ke rumah sakit untuk dilakukan visum. Tak lama, polisi menangkap pelaku – seorang buruh – di rumahnya di Rawa Jambe, Teluknaga, Tangerang. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa sebilah golok yang digunakan pelaku membacok korban.

Perilaku Primitif

Bayangkan!, jika hanya karena bertatapan mata, di era now, di negeri ini perilaku primitif semacam itu yang berujung maut banyak terjadi.  Kejadian serupa yang tidak sempat diberitakan atau menjadi viral,  bagai fenomena gunung es yang terjadi di mana-mana..

Bahkan, seperi tawuran yang sering terjadi antarsekolah atau antarkampung juga tanpa alasan pemicunya, terkadang tantang-menantang atau provokasi yang dilontarkan pihak lain melalui medsos.

Sebaliknya, di negara-negara maju,  etika bertatap mata pun diatur, pada orang tak dikenal yang melintas druang publik, tatapan mata harus segera dialihkan agar tidak terjadi kesalahpahaman, membuat orang yang ditatap tersinggung atau merasa dilecehkan.

Materi pendidikan sampai sedetil itu di negeri ini tampaknya tidak masuk dalam kurikulum pembelajaran, padahal, saling bertatapan mata saja bisa membuat nyawa melayang, saling bunuh-bunuhan.

Mungkin pendidikan etika masuk dalam mata pelajaran budi pekerti yang terlalu umum, klise dan “diawang-awang” sehingga tidak menyentuh persoalan keseharian anak didik saat terjun atau berinteraksi di tengah publik.

Selayaknya, etika, tatakrama atau unggah-ungguh dimasukkan lagi dalam  kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah mulai TK agar tidak jatuh korban sia-sia.

Etika, sopan-santun atau unggah-ungguh, walau tampaknya hal sepele,  mencerminkan “kelas” peradaban suatu bangsa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement