Temuan Astronom: Bintang Pernah Memangsa Planet

Sejumlah peneliti menyebutkan bintang pernah memangsa planet raksasa pada awal pembntukannya walau bukti absolut belum ada. (ilustrasi: kompas.com

JAKARTA – (KBKNEWS) 289 – SEJUMLAH astronom menemukan bukti mengejutkan terkait sejarah kelam sistem tata surya di mana Bintang induk yang menjadi sumber kehidupan di Bumi dan  Matahari, diduga pernah memangsa sebuah planet raksasa di masa awal pembentukannya.

Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Prof. Mutlu Yildiz dari Ege University di Turki mengungkapkan bahwa Tata Surya kemungkinan pernah memiliki planet kesembilan berjenis Super-Earth yang akhirnya tertarik dan tertelan oleh gravitasi Matahari.

Dalam studinya yang diterbitkan pada jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, Yildiz menjelaskan bahwa planet teoretis tersebut diperkirakan memiliki massa lima hingga 10 kali lebih besar dari Bumi.

Meski Matahari merupakan bola plasma raksasa yang sangat panas, planet yang melintasi lapisan luar Bintang tersebut diyakini meninggalkan “sidik jari kimiawi” yang dapat dideteksi sebelum akhirnya lebur sepenuhnya.

Temuan ini berawal dari adanya ketidaksesuaian antara model evolusi Matahari dengan data observasi terbaru.

Tim peneliti menemukan dua petunjuk utama, yakni perubahan halus pada struktur internal Matahari serta kelangkaan unsur lithium pada permukaan Bintang

tersebut.

Proses Bintang Memakan Planet

  • Fase Raksasa Merah: Saat bintang mirip Matahari kehabisan bahan bakar hidrogen, bintang akan membengkak dan berubah menjadi raksasa merah.
  • Menelan Orbit Terdekat: Ukuran bintang bisa mengembang hingga ratusan atau ribuan kali lebih besar dari ukuran aslinya, sehingga menelan planet yang mengorbit terlalu dekat.
  • Gesekan dan Kehancuran: Planet yang terseret gravitasi akan mendekati permukaan bintang, lalu hancur dan meleleh perlahan akibat panas serta gesekan atmosfer bintang.

Matahari diketahui kehilangan lebih banyak kandungan lithium daripada perkiraan teoretis para ilmuwan.

Melalui simulasi dampak pertumbuhan lapisan luar Matahari, hasil paling memungkinkan menunjukkan bahwa dampak tubrukan dari penelanan planet Super-Earth mendesak sebagian besar kandungan lithium ke lapisan yang lebih dalam.

Di lapisan dalam tersebut, lithium hancur lebih cepat daripada jika bertahan di permukaan.

“Dampak penelanan planet tersebut mendorong mayoritas elemen lithium ke dalam lapisan yang lebih dalam, tempat di mana elemen tersebut musnah lebih cepat,” papar penemuan studi tersebut, seperti dikutip BGR.
Jawab teka-teki besar
Temuan ini sekaligus menjawab teka-teki besar yang membingungkan para astronom selama bertahun-tahun. Dalam berbagai sistem bintang lain di galaksi, keberadaan planet jenis Super-Earth sangat umum ditemukan.

Namun, Tata Surya justru tidak memilikinya, yang kemudian kini diduga kuat karena telah ‘dimangsa’ oleh Matahari.

Para peneliti juga menekankan temuan ini masih berbasis model komputasi teoretis. Bukti absolut baru bisa dipastikan jika teknologi masa depan memungkinkan manusia merekonstruksi kejadian miliaran tahun lalu secara rinci. (CNNI/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here