ADA yang bilang bahwa prajurit itu kepanjangan kata: prajurit yang jujur dan irit! Soalnya secara umum gaji anggota TNI tingkat rendahan itu sangat pas-pasan. Untuk berbuat nakal (baca: korupsi) tak mungkin, karena dalam profesi apapun peluang itu hanya ada pada mereka yang punya jabatan dan kewenangan. Oleh karena itu joke tentang kosakata prajurit ada benarnya juga!
Secara umum gaji anggota TNI memang pas-pasan banget. Tingkat tamtama misalnya, dari Prajurit Dua (Prada) hingga Kopral Kepala (Kopka) sebulan hanya terima sekitar Rp 1.643.000,- sampai Rp 2.960.000,- Adapun tingkat Bintara dari Sersan Dua (Serda) hingga Pembantu Letnan Satu (Peltu) sebulan terima Rp 2.100.000,- hingga Rp 4.032.000,- Bagaimana bisa cukup dengan UMP di DKI Jakarta saja kalah. Untungnya mereka masih menerima tukin (tunjangan kinerja) sebagaimana ASN.
Makanya ketika Menhan Prabowo bertekad untuk merekrut tenaga Komcad (Komponen Cadangan) hingga 25.000 personal, dinilai sebagai kegedhen empyak kurang cagak atau nafsu besar tenega kurang. Ketimbang anggaran per anggota Komcad sampai Rp 30 juta, mendingan uang tersebut dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan para prajurit. Ini akan terasa lebih bermanfaat.
Alasan Jubir Kemenhan Dahniel Anzar Simanjuntak bahwa AS memiliki tenaga Komcad lebih banyak ketimbang tentaranya yang resmi, itu pembandingan antara buah anggur dan jamblang, tak masuk akal. Siapapun tahu, AS itu kan negara yang demen cari musuh karena merasa sebagai polisi dunia. Sedangkan kita Indonesia negeri yang aman damai, karena mengutamakan diplomasi.
Tapi meski ada penolakan, faktanya pada 7 Oktober 2021 Menhan Prabowo berhasil “pamer” batalion Komcad yang terdiri dari 3.103 anggota di Lapangan Terbang Suparlan, Pusdiklatpassus Kopassus, Batujajar, Bandung. Bahkan setelah memeriksa barisan bersama Menhan Prabowo, Presiden Jokowi menegaskan, “Pada hari ini, Kamis tanggal 7 Oktober tahun 2021, pembentukan komponen cadangan tahun 2021 secara resmi saya nyatakan ditetapkan.”
Pembentukan Komcad merupakan amanat UUD 1945, UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan UU Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan. Sebenarnya di era Menhan Ryamizard Ryacudu program ini juga sempat digelar, namanya Bela Negara. Saat dibuka pada Oktober 2015, pesertanya sebanyak 4.500 kader dari 45 kabupaten/kota. Sayangnya program kasebut tak ada gaungnya.
Mendukung langkah Menhan Prabowo, Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo mengajak ASN berusia 18-35 tahun untuk ikut menjadi Komcad. Katanya, ini bukan wajib militer karena sekedar sukarela. Latihan juga hanya 3 bulan, dan jangan khawatir status ASN-nya takkan hilang. Sebab setelah latihan dikembalikan ke tugas ASN. Tapi jika negara membutuhkan sewaktu-waktu harus berangkat ke medan tempur, menggempur benteng pertahanan musuh.
Mulai April mendatang pendaftaran dibuka. Kata Menteri PAN-RB Tjahyo Kumolo, Komcad perlu diikuti para ASN muda, karena tujuan utamanya untuk melatih kedisiplinan, di mana muaranya bisa mencegah terorisme dan narkoba. Soalya suda bukan rahasia lagi, meswkipun PNS telah berubah nama jadi ASN, mental lamanya banyak yang belum bisa hilang. Paling sederhana saja, ketika terjadi Harpitnas (hari kejepit nasional), kontan main babat saja, hari kerja yang nyelip itu dianggap hari libur sekalian.
Disiplin ASN masih banyak yang belok menjadi diselipin karena berperilaku korupsi, meski hanya kecil-kecilan. Misalnya pada bulan Mei 2021 lalu, Kepala BKN Bima Hario Wibisono teriak, “Terdapat 97.000 ASN misterius, sudah pensiun tapi masih menerima gaji dari negara.” Lalu siapa pihak yang menerima uang dimaksud?
Jaman Menteri PAN-RB Asman Abnur juga terkuak, ada 289 PNS yang dipenjara karena kasus narkoba. Ganti Mentri Tjahjo Kumolo, penyakit ASN tetap saja sama! Pak Menteri pernah bilang, dalam sebulan kementriannya harus memecat ASN 25 sampai 79 orang gara-gara tindak korupsi dan narkoba. Tjahjo Kumolo juga mengakui, dari 3.826 instansi pusat lan daerah, yang benar-benar bebas korupsi hanya 360.
Sama bahayanya adalah terorisme, yang dimulai dari paham radikal. Tjahjo Kumolo saban bulan harus meneken pemecatan ASN yang tercemar paham radikal. Maka diperingatkan kepada ASN, meski demokrasi memberi kebebasan orang ngomong, tapi sebagai ASN janganm coba-coba nyinyir dan menyerang pemerintah. Paling kasat mata pernah ditemukan ASN dengan pedenya upacara dengan seragam Korpri yang telah dirombak menjadi jubah. Jika Asmuni Srimulat masih hidup, pastilah dipertanyakan, “Ini ASN cap apa?”
Maka dengan mengikuti pelatihan Komcad selama 3 bulan, Mentri PAN-RB berharap ASN memiliki kedisiplinan tinggi. Merasa memiliki negaranya, buklan malah memushi dan ikut menggerogoti. Seia sekata dengan semua komponen anak bangsa, ikut membangun negara melalui tugas masing-masing.
Sayangnya kalangan pengamat pertahanan sebagaimana Rizal Darmaputra dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), menganggap langkah Menhan Prabowo dan Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo hanyalah pekerjaan sia-sia belaka. Program itu menggerogoti uang negara, tapi tak diperoleh manfaatnya.
Rizal mengingatkan, tujuan Menhan Ryamizard Ryacudu dulu membentuk pasukan Bela Negara sekedxar untuk serep anggota komponen utama yakni prajurit TNI reguler. Dengan demikian tidak sembarangan orang bisa diterima, tapi dipilih untuk profesi atau keahlian khusus semisal dokter, tenaga medis, pilot, insinyur. Orang-orang ini dilatih dalam waktu tertentu dan diikat dengan masa dinas tertentu.
Jika pemerintah mrekrut sembarangan orang baik ASN maupun swasta, itu hanya akan menghambur-hamburkan anggaran, karena tentara RI hari-hari ini lebih dari cukup. Jika tentara yang setiap waktu latihan, jika ada bahaya kontan bisa bekerja. Tapi jika tenaga Komcad yang hanya berlatih selama 3 bulan, setelah lama tak latihan pastilah tergagap-gagap kembali.
Selain itu, menurut Rizal Darmaputra jika pasukan Komcad diperintahkan maju perang bersama TNI, malah bikin ribet saja nantinya. Maklum orang baru blajaran dibandingkan dengan yang sudah menjadi kebiasaan. Maka ketimbang anggaran Rp 1triliun lebih itu sia-sia, mendingan uangnya dipakai untuk menambah gaji prajurit TNI yang terkenal jujur dan irit tersebut. (Cantrik Metaram)





