Elang F-15 Juga Bakal Jaga Dirgantara RI

Kongres AS sudah memberi lampu hijau penjualan 36 unit pesawat tempur F-15 ID untuk memperkuat skadron TNI-AU

SELAIN memborong 42 unit pesawat tempur multi peran Rafale buatan Dassault, Perancis, Kongres Amerika Serikat dilaporkan sudah memberi lampu hijau rencana penjualan 36 unit F-15 ID Eagle untuk memperkuat skadron udara TNI-AU.

Dalam situs resmi Boeing, AS (12/2) disebutkan nilai kontrak 14 milyar dollar AS atau setara Rp200 triliun untuk pembelian tiga skadron Elang Tempur seri F-15 ID beserta peralatan penunjangnya.

Satu unit F-15 dibandrol sekitar 82,7 juta dollar AS (sekitar Rp1,25 triliun), lebih murah dibandingkan Rafale dengan harga per unit 115 juta dollar AS (sekitar Rp1,63 triliun), sedangkan biaya terbang F-15 per jam sekitar Rp412 juta, lebih mahal  dibandingkan Rafale Rp234,2 juta.

Menurut catatan sejauh ini, di Asia, baru Jepang, Taiwan dan Korea Selatan serta Singapura yang telah mengoperasikan F-15 yang masuk pesawat generasi 4.0 sampai 4.5 itu, sedangkan negara di luar  AS lainnya: Arab Saudi, Qatar dan Israel.

Keenam negara tersebut selain AS juga mengoperasikan seri F-15 C/D, sementara untuk setiap negara memiliki spesifikasi tambahan, misalnya Korsel F-15 KD dan RI F-15 ID.

F-15 berawak tunggal yang dikembangkan Boeing sejak 1972 mampu terbang dalam pada kecepatan MACH-1.2 (1.450 Km) pada ketinggian rendah dan MACH 2,5 pada ketinggian tinggi dan dilengkapi radar canggih Active electronically Scanned Array (AESA).

Jenis pesawat serang itu mampu menggembol 13,5 ton persenjataan, a.l. kanon 30mm, rudal darat ke udara AIM-7 Sparrow, AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM, bom dan torpedo anti kapal selam serta bom-bom presisi.

Tidak diperoleh pula informasi, kenapa RI akhirnya memilih seri F-15 ID, karena sebelumnya mengincar seri yang lebih canggih yakni  F-15 EX.

Pembelian 42 unit Rafale dan 36 unit Eagle F-15 ID menurut sejumlah pengamat, walau akan meningkatkan kemampuan kekuatan udara RI, tidak akan mempengaruhi keseimbangan militer di kawasan Asia Tenggara.

Negara jiran, Singapura saja, saat ini sudah lebih dulu mengoperasikan 100 unit Eagle F-15 (60 unit seri F-15 C/D dan 40 unit F-15 SG yang sebagian ditempatkan di AS dan Australia karena keterbatasan pangkalan dan koridor udara di negeri pulau itu.

Singapura juga sudah meneken kontrak pembelian 12 unit pesawat tempur generasi 5.0 berkualifikasi siluman  F-35 Super Lightning II dengan nilai kontrak 2,75 milyar dollar AS (sekitar 37,5 triliun).

Pengadaan alutsista khususnya pesawat tempur yang mengaplikasikan teknologi canggih memerlukan anggaran besar, namun sesuai adagium lawas “Si Vis Pacem Para Bellum” atau siapa yang ingin damai harus siap perang, hal itu merupakan keniscayaan.

 

 

 

 

 

Advertisement