ANAK muda sekarang memang pemberani, termasuk yang bervivery-very coloso (nyerempet bahaya) sebagaimana kata Bung Karno. Meski sudah dilarang merantau, nasihat Begawan Suwandagni hanya diiyain doang oleh Sumantri. Pas sang ayah tidur siang, dia ngglenes (tanpa pamit) meninggalkan pertapan dengan naik bismalam Rosalia Indah tujuan Maespati. Adik kandung Sokasrana juga ditinggalkan begitu saja, ketika asyik bermain gundu dengan teman-teman.
Pukul 05:00 pagi Bambang Sumantri sudah tiba di depan istana kerajaan Maespati. Ketika ditegur Satpol PR (Satuan Polisi Pengaman Raja) di pos penjagaan dia terus terang mengaku kepengin sowan Prabu Harjuna Sasrabahu. Kebetulan raja Maespati ini tampilannya merakyat banget, sehingga polisi di pos penjagaan tak terlalu ketat memperlakukan rakyat yang ingin ketemu Prabu Harjuna Sasrabahu.
“Jam 06:00 Sinuwun suka jalan-jalan lari pagi lewat sini, kamu tunggu saja, nanti saya pertemukan.” Kata polisi jaga.
“Terima kasih Pak, atas pertolongan bapak.” Jawab Bambang Sumantri sambil membungkuk bungkuk.
Satpol PR tidak bohong, sebab tak lama kemudian sekitar pukul 06:00 Prabu Harjuna Sasrabahu tampak lari-lari pagi di halaman Istana. Satpol PR mendekati sang raja, dan setelah ngomong-ngomong sebentar Prabu Harjuna Sasrabahu nampak ngawe (melambaikan tangan) Bambang Sumantri yang duduk di pos sambil bawa ransel. Putra pertapan Ardisekar itupun lari-lari kecil menghadap.
“Kamu bawa surat keterangan Bebas HTI dan test antigen nggak?” tanya Sang Prabu.
“Alhamdulillah bawa semuanya, Sinuwun. Ini suratnya,” kata Bambang Sumantri.
Ternyata paham radikal juga sudah menyusup ke kerajaan Maespati. Cuma Prabu Harjuna Sasrabahu lebih tegas, bukan saja dibubarkan organisasinya tapi para pentolan dan anggotanya ditangkepi. Untuk mencegah bahaya latent HTI, para pelamar kerja dan politisi yang mau jadi anggota dewan harus punya surat keterangan Bebas HTI dari pihak kepolisian.
Dengan cara demikian situasi politik dan keamanan di Maespati relatif lebih aman. Tak ada demo-demo yang nggak jelas, tak ada pihak yang suka menggoreng isyu, apa lagi harga minyak gorong sedang mahal. Yang ada tinggal ibu-ibu menggoreng iso babat, itupun pakai minyak klentik bikinan sendiri dari kelapa, bukan dari minyak goreng kemasan.
“Lho, kamu hanya lulusan SMK, belum sarjana?” Sang Prabu bertanya penuh keheranan. Di Maespati, sarjana S1 saja pada nganggur, apa lagi hanya lulusan SMK.
“Betul Sinuwun, tapi saya punya keahlian spesial, tidak mempan bacokan dan bisa mematahkan wesi gligen untuk tulangan proyek. Kalau Sinuwun tak percaya, bisa langsung fit and propertest tanpa melalui DPR.” Jawab Bambang Sumantri pede banget.
Pertapan yang mendidik ratusan cantrik memang tidak mengeluarkan ijazah semacam sekolah resmi. Yang membuat Prabu Harjuna Sasrabahu agak percaya, ketika Sumantri menyebut sebagai putra Begawan Suwandagni. Raja Maespati ini sering mendengar nama begawan dari pertapan Ardisekar ini. Dia tokoh kapanditan jalan lurus, tak pernah kritik dan nyinyir ke pemerintah meski tak pernah dapat dana hibah dari negara.
Untuk membuktikan kesaktian Bambang Sumantri, Prabu Harjuna Sasrabahu lalu mengambil besi linggis sepanjang 1 meter untuk dibengkokkannya. Dan ternyata benar, hanya dengan tangan kosong besi itu berhasil dibengkokkan dengan mudah. Ketika Sang Prabu minta untuk dipatahkan, hanya dengan digigit langsung putus itu barang. Raja Maespati ini geleng-geleng kepala. Memang luar biasa ini anak muda.
“Oke, kamu anak muda hebat, lamaran kamu saya terima.” Kata Sang Prabu.
“Terima kasih, Sinuwun. Kapan mulai bekerja dan di bagian apa?” Sumantri mengejar, tak enak memang lama jadi pengangguran.
“Ya hari ini, masak nunggu tahun 2024.”
Prabu Harjuna Sasrabahu pun bercerita tentang sayembera memperebutkan Dewi Citrawati di negri Magada. Jika Sumantri berhasil memenangkan pertandingan itu, artinya berhasil membawa pulang Dewi Citrawati, langsung Sumantri akan diberi jabatan penting di Maespati. Sebaliknya jika gagal, ya terpaksa dia harus kembali ke pertapan Ardisekar, jadi pengojek motor online.
“Boleh tanya Sinuwun, kalau menang putri itu lalu untuk siapa?”
“Ya untuk saya, dong. Masak untuk kamu yang kencing saja belum lempeng.”
“Memangnya peserta sayembara boleh diwakilkan?” Sumantri bertanya lagi karena penasaran.
“Di Magada boleh, asal ada surat kuasa bermeterai Rp 10.000,- Melihat kinerjamu saya yakin bisa memenangkan pasang giri tersebut.” Jawab Prabu Harjuna Sasrabahu.
Bambang Sumantri membatin, enak dong, nggak berjuwang tapi bisa nunggang. Padahal aturan umum di negara manapun, hadiah atau piala kemenangan pastilah jatuh pada sang peserta, bukannya sponsor. Tapi bagaimana lagi, Bambang Sumantri menyadari bahwa dia bukan dalam posisi untuk mengkritisi. Akhirnya dia hanya bersandar pada ungkapan lama: desa mawa cara negara mawa tata.
Selaku mandataris Prabu Harjuna Sasrabahu, berangkatlah Bambang Sumantri ke negeri Magada. Bila kemarin dari kampung naik bis malam, kali ini diantar Timses pakai mobil Pajero sport yang disponsori pabrik rokok Jarum Penthul. Masuk wilayah Magada yang asri, tampak bertebaran baliho bergambar putri cantik Dewi Citrawati. Di situ ada tulisan besar-besar: Kepak Sayap Asmara; Jalan Cepat Menuju Bahagia.
“Sayang, kalau menang yang dapat bukan pelaksana tapi pemberi kuasa. Kalau saya ogah.” Kata kepala kontingan Maespati bisik-bisik pada sopir.
“Nantinya akan terjadi, raja bercinta pesuruh menderita,” tambah si sopir sambil tertawa.
Meski sebetulnya di jok belakang Bambang Sumantri mendengarkan celotehan itu, tapi dia diam saja. Biasa calon pahlawan dinyinyiri orang, meski dari kubu sendiri. Sebab di mana-mana selalu ada orang yang iri dan syirik melihat orang lain sukses, dan Sumantri siap menjadi orang sukses itu. (Ki Guna Watoncarita)



