Perang Dingin Baru Barat vs Timur

Jerman dikabarkan akan membekukan proyek pipa gas dari Rusia ke Jerman sepanjang 1.224 Km bernilai 11 milyar dollar AS (Rp156 triliun) sebagai sanksi atas intervensi Rusia di Ukraina.

ERA Perang Dingin baru antara blok Barat dan blok Timur yang berakhir pasca runtuhnya Uni Soviet akhir 1991, bisa muncul lagi jika Rusia bersikeras menginvasi Ukraina.

Rusia yang menempatkan sekitar 150.000 anggota pasukannya dan persenjataan berat di perbatasan dengan Ukraina sejak empat bulan lalu, agaknya mengubah strategi.

Mungkin juga karena perlu mikir-mikir dulu jika harus berhadapan dengan 30 negara anggota NATO dipimpin AS, Rusia mengubah strategi dengan menggeser pasukannya ke timur Ukraina, mendukung gerakan separatis di negara itu.

Di wilayah Donbass, timur Ukraina sejak 2014 sudah terjadi konflik militer antara pasukan pemerintah dan milisi pro-Moskow yang berjuang melepaskan diri, membentuk Republik Rakyat Luhansk (LPR) dan Republik Rakyat Donetsk (DPR).

Sekitar 1.300 kombatan kedua belah pihak (Luhanks, Donetsk dan pasukan pemerintah Ukraina) serta warga sipil tewas dalam konflik yang kabarnya juga melibatkan tentara bayaran Rusia. Pada 2014, Rusia secara sepihak juga mengokupasi wilayah Krimea, Ukraina.

Barat ancam Rusia

Para pemimpin negara Barat, seperti dilaporkan AP, AFP dan Reuters yang dikutip Kompas (23/2), bersiap menjatuhkan sanksi jika Rusia memasuki wilayah Ukraina untuk membantu kelompok separatis.

Penguasa Kremlin sejauh ini mendukung upaya pelepasan diri Luhansk dan Donetsk yang mayoritas dihuni etnis Rusia dari Ukraina, salah satu negeri yang dulunya juga bernaung di bawah Uni Soviet.

Sekjen PBB Antonio Guterres dalam pernyataannya menyebutkan, Rusia telah melanggar keutuhan  wilayah Ukraina dan tidak sesuai  dengan prinsip hubungan antarnegara yang dimuat di Piagam PBB.

Amerika Serikat, Uni Eropa dan Inggeris, menurut kantor-kantor berita tersebut, meminta Rusia menarik pasukannya dari Luhansk dan Donetsk, jika tidak, akan menjatuhkan sejumlah sanksi.

PM Inggeris Boris Jhonson menyebutkan antara lain sanksi pada lima bank dan tiga pengusaha Rusia yang dituding membiayai aksi-aksi separatis Ukraina sebagai “serangan pertama” merespons langkah Rusia.

Jerman dilaporkan juga akan membekukan proyek pipanisasi gas alam Nordstram 2 (NSGP) bernilai 11 milyar dollar AS yang membentang dari Rusia ke Jerman sepanjang 1.224 Km mengalirkan 55 milyar M3   gas alam setahun atau separuh kebutuhan gas Eropa.

Uni Eropa menyasar pemberian sanksi bagi bank-bank yang mendukung operasi Rusia di wilayah Ukraina dan akses keuangan Rusia memasuki pasar Eropa. Ketua Komisi Eropa Ursula von Leyen menyebutkan, sanksi tersebut diajukan secara resmi, Selasa (22/2).

Kali ini ancaman pihak Barat pada Rusia amat berat, selain sanksi yang bakal memukul perekonomiannya, juga jika harus berhadapan dengan kekuatan NATO bersama 30 negara anggotanya.

Beranikah Presiden Putin memikul risiko tersebut?, Let’s wait and see!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement