
WABAH penyakit Ebola muncul lagi di benua hitam Afrika, menyebabkan 65 kematian dari 246 kasus suspek di provnsi terpencil Ituri, Kongo, dan satu kematian di negara tetangganya, Uganda.
Kematian dan kasus suspek tersebut sebagian besar tercatat di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara seperti dilaporkan Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) seperti dilaporkan Detik.com (16/5)
Lembaga itu menyebutkan sejauh ini ada 65 kematian, empat di antaranya sudah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Ebola merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat ditularkan melalui cairan tubuh seperti muntahan, darah, atau air mani. Penyakit yang ditimbulkannya tergolong langka, tetapi parah dan sering kali mematikan.
Para ilmuwan masih berupaya menentukan secara pasti virus apa yang memicu wabah terbaru di Kongo. Virus Ebola, yang juga dikenal sebagai strain Ebola Zaire, sebelumnya mendominasi wabah-wabah di Kongo. Penyakit ini awalnya ditularkan melalui hewan kelelawar atau monyet.
Namun, hasil sementara menunjukkan kemungkinan adanya varian lain selain strain Ebola Zaire, dengan proses pengurutan genetik (sequencing) masih terus dilakukan untuk memberikan kepastian lebih lanjut, kata Africa CDC.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penyakit Ebola disebabkan oleh sekelompok virus, dan tiga di antaranya diketahui dapat memicu wabah besar, yakni virus Ebola, virus Sudan, dan virus Bundibugyo.
Uganda pada Jumat melaporkan satu kasus Ebola yang melibatkan seorang pria asal Kongo yang dirawat di rumah sakit di Kampala tiga hari sebelum meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan pasien tersebut baru diuji setelah meninggal pada Jumat, setelah Kongo mengonfirmasi wabah Ebola di negaranya.
Semua orang yang melakukan kontak dengan pria tersebut telah dikarantina, kata kementerian. Jenazah korban juga telah dipulangkan ke Kongo.
Kementerian itu menambahkan pasien terinfeksi virus Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang memang endemik di Uganda.
WHO tahun lalu menyebut Kongo memiliki stok pengobatan serta sekitar 2.000 dosis vaksin Ebola Ervebo.
Vaksin Ervebo efektif melawan strain Ebola Zaire, yang dianggap paling mematikan, tetapi tidak efektif terhadap virus Sudan maupun virus Bundibugyo, menurut otoritas kesehatan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kepada wartawan pada Jumat, WHO pekan lalu telah mengirim tim untuk membantu Kongo menyelidiki wabah tersebut dan mengumpulkan sampel.
Dikonfirmasi keberadaannya
Meski hasil awal belum mengonfirmasi Ebola, analisis terbaru, Kamis (14/5) akhirnya memastikan keberadaan penyakit tersebut.
“Kongo memiliki rekam jejak yang kuat dalam respons dan pengendalian Ebola,” kata Tedros, seraya menambahkan WHO akan mengucurkan dana sebesar 500 ribu dolar AS untuk membantu penanganan wabah di Kongo.
Wabah virus Ebola pernah melanda Afrika pada 1976 menewaskan 280 orang, lalu pada dekade 1990 sebanyak 370 orang terkonsentrasi di wilayah Zaire, sedangkan di Dallas, Amerika Serikat pada 2014 ada 11 kasus yang menewaskan dua orang.
Virus ebola mematikan, karena bisa menyebabkan kerusakan organ serta pendarahan. Walau penyakit ini jarang terjadi di wilayah endemis, tingkat kematian bila terjangkit sangat tinggi. Masa inkubasi antara dua sampai 21 hari setelah terpapar dengan gejala mirip flu biasa yang bisa berkembang cepat.
Walau pun masih jauh dari pusat wabah, tindakan mitigasi dan antisipasi harus dilakukan. (detikhealth/ns)




