
BERCERMIN dari pengalaman China, negara awal penyebaran Covid-19 yang dibawa virus SARS-CoV-2 menjadi pandemi global, Indonesia jangan sampai lengah dan harus terus measpadai perkembangannya.
Covid-19 yang terdeteksi pertama kali di kota pelabuhan Wuhan, Provonsi Hubei, China, medio Desember 2019, dengan cepat menyeberang ke seluruh negara di lima benua dan sampai hari ini, walau trennya mulai menurun, namun belum teratasi sepenuhnya.
Pemerintah China mendapat pujian int’l yang dengan kebijakan karantina total (lockdown) berhasil menekan laju penyebaran Covid-19 setelah beberapa bulan diberlakukan (sampai awal April 2020).
Namun pujian itu berbalik menjadi hujatan, setelah selang sebulan kemudian (Mei), penyebaran Covid-19 kembali menggila, sehingga China dituding gegabah, terlalu cepat menghentikan lockdown.
Berita teranyar, angka pertambahan harian Covid-19 pada 13 Maret lalu sebanyak 3.393 kasus merupakan yang tertinggi sejak awal pandemi dan dilaporkan kasusnya sudah menyebar di 20 dari 30 provinsi di China.
Setelah mengambil kebijakan lockdown secara ketat, China mengubah strateginya melawan Covid-19 sekitar dua tahun, China memberlakukan strategi pelonggaran, dengan memberikan keleluasaan bagi para kepala daerah.
Kepala daerah bisa melonggarkan prokes, namun harus segera memperketat prokes lagi begitu tren penyebaran Covid-19 meningkat lagi.
Sementara di Indonesia, setelah puncak serangan varian Delta (B1.1.7) pada Juli 2021 terlewati (dengan rekor penyebaran harian 56.575 kasus pada 15 Juli 56.757 kasus dan 2.069 kematian pada 27 Juli), trennya terus melandai sampai Januari 2022.
Namun kemudian, lonjakan serangan Covid-19 terjadi lagi akibat pemunculan varian baru Omicron (B.1.1.529) yang memiliki daya sebar lima-enam kali dari varian Delta dan bisa menginfeksi ulang, walau fatalitasnya lebih ringan.
Mulai Turun
Setelah dihantui serangan varian Omicron yang puncak penyebaran harian terjadi pada 16 Februari lalu dengan 64.718 kasus atau melampaui rekor varian Delta, trennya mulai menurun lagi sampai hari ini (15 Maret).
Menkes Budi Gunadi Sadikin bahkan memperkirakan, puncak pandemi Covid-19 sudah terliwati dan saat ini pandemi sedang beranjak ke endemi, menjadi penyakit musiman seperti flu.
Selain kecenderungan tren penurunan penyebaran di dalam negeri, perkiraan Menkes juga berdasarkan perkembangan di berbagai negara lain yang juga mulai memberlakukan pelonggaran-pelonggaran terhadap prokes dan berbagai pembatasan selama pandemi Covid-19.
Menkes juga mulai memberlakukan berbagai pelonggaran, seperti menurunkan PPKM dari level 3 ke level 2 di sejumlah wilayah yang angka penyebarannya turun secara tajam.
Karantina bagi pelaku perjalanan luar egari (PPLN) juga sudah dihapuskan bagi yang tiba di Bandara di Bali, dan akan menyusul di pintu-pintu masuk lainnya April nanti. Selain untuk kedatangan di Bali, PPKL lain masih diwajibkan mengikuti karantina selama 24 jam.
Sedangkan bagi Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN), baik melalui perjalanan darat, udara dan laut, hanya dipersyaratkan sudah disuntik vaksin lengkap (dosis pertama dan kedua) tidak ada lagi keharusan menjalani tes swab antigen atau PCR.
Sampai 14 Maret, tercatat jumlah positif Covid-19 sebanyak 5.900.124 kasus (betambah 9.629 kasus), total 152.437 meninggal (bertambah 271 orang) dan 5.395.3433 sembuh (bertambah 39.296 orang).
Sementara yang dicemaskan, masyarakat yang sudah jenuh mematuhi prokes 3M saat ini sudah banyak yang melepas masker, mulai berkerumun dan melakukan perjalanan yang tidak mendesak.
Lonjakan penyebaran Covid-19 masih bisa terjadi, baik akibat munculnya varian baru yang lebih ganas atau sikap euforia masyarakat yang menganggap pandemi Covid-19 sudah berlalu.
Waspada dan waspada!




