
KOREA Utara menjajal lagi rudal balistik antar benua (ICBM) yang diklaim mampu menjangkau sebagian wilayah musuh bebuyutannya, Amerika Serikat, Kamis (24/3) lalu.
Pihak Barat menduga, yang diluncurkan adalah rudal ICBM Hwasong- 17 yang mampu membawa hulu ledak nuklir, berjangkauan sampai lebih 5.000 KM atau berarti bisa mencapai wilayah Alaska di AS.
Korut sebelumnya pernah sukses meluncurkan rudal sejenis, yakni seri Hwasong-15 pada 2017
Namun negara serumpun tetangganya, Korea Selatan yang juga masih dalam status perang sejak Perang Korea 1950 – 1953 menyebutkan, uji coba rudal tersebut hanya akal-akalan sebagai bahan propaganda Korut.
Otoritas Seoul menduga rezim Pyongyang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu di balik sejumlah alasan termasuk kegagalan uji coba rudal ICBM Hwasong-17 sebelumnya (16/3).
Rudal meledak tidak lama setelah diluncurkan, sementara kantor berita Korut KCNA danharian satu-satunya Rodong Sinmun yang biasanya memublikasikannya paling lambat sehari setelah uji coba tidak melakukannya.
Sebaliknya, sehari setelah uji coba peluncuran rudal (24/3), baik Korsel mau pun Jepang sendiri sudah mengonfirmasinya dengan penemuan  sejumlah kepingan rudal di perairan ZEE Jepang.
Rudal jatuh setelah melayang pada ketinggian 6.258M di angkasa pada jarak sekitar 1.100 KM, sebaliknya pihak Pyongyang menyebutkan rudal monster Hwasong-17 yang diujicoba, bisa menjangkau 15.000 Km.
Pihak AS sendiri cukup berhati-hati mengomentari benar-tidaknya uji coba rudal tersebut dengan menyebutkan, AS bersama sekutu-sekutunya masih mempelajari dan menganalisanya.
Pentagon Masih Meneliti
Jubir Pentagon atau Kemenhan AS John Kirby mengaku tidak tau soal pendapat pihak Korsel terkait isu rudal palsu Korut tersebut, hanya menyebutkan uji-uji coba rudal Korut, sangat mencemaskan karena bakal meningkatkan kemampuan nuklirnya.
Uji coba nuklir dan rudal bagi rezim Korut amat penting, selain menunjukkan kekuatan menghadapi ancaman dari luar , sekaligus juga mengalihkan kesulitan ekonomi di dalam negeri.
Jika benar-benar palsu, menurut dosen Hankuk University, Mason Richei, hal itu sangat mengejutkan, karena tidak hanya intelijen (Barat-red), analis independen pun bisa segera mendeteksinya.
Jika itu terjadi, lanjutnya, kredibilitas rezim Korut bakal merosot, karena jika soal terkait uji coba rudal yang mencerminkan citra dan kebanggaan negara saja dilakukan pembohongan, apalagi soal lainnya.
Berbohong atau tidaknya Korut, ditunggu pembuktian lebih jauh lagi. (AFP/Reuters)




