JAKARTA – Krisis air yang terjadi terhadap sekitar 300 juta warga India bisa juga dirasakan warga Indonesia jika tidak segera menghemat penggunaan air dari sekarang.
Bukannya menakut-nakuti, tetapi Wakil Presiden Indonesia pun menyatakan jika di Indonesia juga telah mengalami kekurangan sumber air, sebab sekitar 50 juta hutan tercatat telah berkurang dalam kurun waktu 50 tahun.
Untuk itu, dilansir dari ROL, JK yang membuka pameran IWWEF Watertech di JCC, Jakarta, Selasa (3/5/2016), mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghemat dan mengatur penggunaan air dengan baik.
Menurutmya efisiensi air diperlukan lantaran sumber daya air saat ini juga telah berkurang akibat rusaknya hutan dan lingkungan, sementara kebutuhan air semakin tinggi. Meskipun 75 persen dunia terdiri dari lautan, namun hanya terdapat 0,003 persen air yang dapat dikonsumsi. Sehingga, kata JK, air selalu mengalami keterbatasan.
“Pada saat yang sama, akibat kebutuhan lahan yang makin tinggi juga lingkungan rusak, hutan rusak, sumber air jadi rusak sehingga sumber airnya menjadi berkurang maka terjadilah krisis air di banyak bagian dunia ini,” kata JK saat membuka
JK pun mencontohkan penggunaan air bersih untuk mandi dan mencuci di setiap rumah tangga.
“Kalau golongan menengah, kebutuhan airnya bisa dihitung kurang lebihnya, untuk kebutuhan mandinya kurang lebih 33 persen, kemudian 28 persen atau hampir 30 persen air itu habis untuk toilet. Begitu anda pencet setiap hari, habis juga 2-3 liter. Kemudian baru mesin cuci menghabiskan 18 persen,” contohnya.
Salah satu solusi menurutnya bisa dengan penggunaan teknologi untuk menghematnya. Hal ini dapat terlihat dari penggunaan shower air yang hanya membutuhkan sekitar 12 liter dalam sekali mandi dibandingkan dengan tanpa menggunakan shower, yang membutuhkan 18 liter air.
JK pun meminta operator air dapat mengendalikan serta meningkatkan kualitas air yang disalurkan. Penghematan air, lanjut JK, juga dapat memberikan efek positif lainnya, seperti mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga.
Dengan tegas, ia pun berbicara di depan anggota Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), jika biaya dan pelayanan kebutuhna air harus adil dan merata karena hingga kini harga air masih bervariasi. Bagi masyarakat yang kurang mampu, mereka hanya membutuhkan air sekitar 10-15 kubik per hari dengan harga Rp 2.500 per kubik.
“Berarti yang dibayar masyarakat yang kurang mampu itu yang mempunyai pipa itu sekitar 25 ribu,” kata JK. Sedangkan, masyarakat yang tidak memiliki saluran air pipa harus membayar air sekitar Rp 40 ribu per kalengnya.





