
TAK tahulah, sejak kapan Islam aliran NU dan Muhammadiyah beda pendapat soal jumlah rokaat salat tarawih. NU bersikukuh pada 23 rokaat (termasuk witir) dan Muhammadiyah lebih mantep dengan 11 rokaat (termasuk witir). Mungkin sejak NU berdiri (1926), menyusul kehadiran Muhammadiyah sebelumnya di tahun 1912. Tapi alhamdulillah, perbedaan itu tak pernah menjadi masalah, karena mereka mampu menemukan solusi atau jalan tengahnya.
Jalan tengahnya adalah, penganut Muhammadiyah menyelesaikan tarawihnya sampai rokaat ke-8 dan kemudian dilanjutkan salat witirnya di rumah atau tetap di mesjid yang sama, tapi setelah keluar dari saf salat tarawih berjamaah. Tapi yang luar biasa di daerah Sidoarum, Godean, Yogyakarta. Ada mesjid yang membagi ruangan menjadi 2 bagian. Sebelah untuk penganut Muhammadiyah dan sebelahnya lagi untuk penganut NU. Tapi uniknya, ketika salat tarawih berakhir bisa dalam waktu yang sama.
Di kampungku kala itu, tarawihnya juga 23 rokaat. Sayang jumlah santrinya terlalu sedikit. Seingatku hanya 8 orang. Dari jumlah tersebut yang menjadi imam tarawih biasanya Mbah Amat Sadali, Siwa Dono, atau Kaum Amat Soderi sendiri. Bila Siwa Dono yang jadi imam, biasanya lebih lama, karena gerakan salatnya pelan. Paling menyenangkan saat diimami Kaum Amat Soderi, bacaan surat maupun gerakan salat begitu cepat, sehingga segera selesai dan itu berarti kami lebih segera menikmati jaburan
Ya, bagi anak-anak, makan jaburan selepas salat tarawih hiburan menarik selama Ramadan. Namun bagi anak-anak kecil seusia penulis di tahun 1960-an, nilai ibadah bukanlah target. Yang dicari adalah jaburan itu tadi, maklumlah daerah Purworejo (Jateng) selatan di masa Orde Lama mayoritas rakyatnya masih elit alias ekonomi sulit.
Di kampung penulis, jaburannya tak pernah berubah; jika bukan mbilworok (kambil tuwa dikerok), juga kolang-kaling yang dipotong kecil-kecil, lalu dicampur air gula Jawa dalam kuwali besar atau pengaron, itupun harus berebut. Banyak yang diminum di tempat, ada pula yang dibawa pulang untuk adik tercinta. Maka ketika aku membawa pulang secangkir jaburan itu, kakakku sering meledeknya. “Hiii, pengarone kuwe tilas nggo ngekum katok (kualinya bekas untuk merendam celana),” kata mbak Yanti menakut-nakuti, tapi aku tak menggubris.
Di masa kecil penulis, anak-anak yang tarawih tak ikut salat, tapi sekadar mengamini ketika Mbah Amat Sadali membaca doa, atau berteriak lantang: amiiiiin, ketika imam selesai membaca surat Alfatihah. Selain itu, ketika salat dua rakaat selesai dan disusul kode Pak Kaum, kami anak-anak ramai-ramai berteriak lantang: soli ‘ala Muhammad, soli ‘ala Muhammad, rosulullaaaah…..!
Sebelum salat Isya dimulai dan disusul tarawih 23 rakaat, diisi dengan puji-pujian, semisal: utawi rukune Islam, yaiku ana limang perkara, kang kapisan maca sahadat…, dst. Kali lain diisi lagu-lagu Islami seperti: wohing dikir isine pentil puji-pujian ya Allah, amin-amin ya Allah robil alamin…., dst. Kami mencoba menyimak lagu-lagu itu, meski mayoritas anak-anak lebih banyak guyon sendiri.
Ketika Gus Dur wafat 30 Desember 2009, nada-nada puji-pujian semacam di masa kecilku juga dikumandangkan seperti para santri-santri di Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Ternyata, santri-santri tempo doeloe dari kampungku memang banyak yang berguru ke Ponpes Tebu Ireng (berdiri sejak 1899). Mbah Abusudjak yang terakhir menjadi bekel di kampung penulis, di masa muda pernah berguru pada KH. Hasyim Azhari (1871-1947), kakek Gus Dur. Karenanya tak mengherankan Mbah Abu pernah menjabat kaum di kampungku.
Maka suasana duka wafatnya Gus Dur kala itu, mengingatkan penulis saat salat tarawih di masa kecil. Ketika salat tarawih selesai, kami siap antri dan saling dorong untuk berebut jaburan yang disiapkan istri Pak Kaum di rumah belakang. Tak lama kemudian kami masuk, antri menerima jaburan yang diciduk dan dimasukkan ke dalam gelas atau cangkir bawaan masing-masing anak. Tetapi bagi yang nakal, bila jaburannya berupa kolang-kaling langsung saja tangannya masuk dalam pengaron, nggogohi (ngobok) mencari kolang-kaling itu. Meski yang lain protes atas kejorokannya, mereka tetap tidak peduli.
Bahkan di tetangga desa Wingkomulyo Kec, Ngombol, kenakalan anak lebih sadis lagi. Jaburan berisi wedang jahe itu diam-diam diisi ikan sepat. Ketika wedang jahe di kuali besar itu hampir habis, menggeleparlah si ikan sepat tersebut. Anak-anak heboh, Mbah Kaum Wongsomungalim marah besar. Aktor intelektualnya segera tertangkap dan dipaksa minum sisa wedang jahe aroma ikan sepat tersebut.
Secara priodik ada juga imam “tamu” mengisi salat tarawih di kampungku. Selain Kiai Mugeni dari Kebumen, ada juga Mas Mashuri, mahasiswa IAIN Yogyakarta yang kala itu masih pacaran dengan gadis kampung penulis. Yang unik adalah salat Tarawih di Walikoro, tetangga desa penulis. Pak Kaum salat tarawih sendirian dalam kamar, sedangkan anak-anak duduk ngumpul di ruang depan. Jadi anak-anak tak melihat gerakan salat Pak Kaum, kecuali mengucap “amin” manakala bacaan surat Alfatekah selesai dibacakan Pak Kaum.
Cara pujian-pujian di Walikoro juga lain dari yang lain, cenderung diplesetkan oleh anak-anak. Kata kanthi tekad diubah menjadi mbokne Tekad, karena di masa itu (1960-an) memang ada anak Walikoro yang bernama Tekad. Dan inilah paling menarik. Ketika salat tarawih usai, anak-anak memperoleh jaburan berupa dawet. Seperti di kampungku, mereka juga berebut. (Cantrik Metaram)




