Mudik Aman dan Sehat

Sekitar 85,5 juta orang akan mudik menjelang lebaran dan libur panjang tahun ini. Awas lonjakan Covid di perjalanan, atau di tempat tujuan. Saling jaga keselamatan berkendara agar mudik tidak berujung musibah dan duka.

MENYONGSONG Idul Fitri 1443H, sekitar 85,5 juta orang di kota-kota besar akan mudik ke kampung halaman  masing-masing dengan moda transportasi yang tersedia. Bagaimana menciptakan “Mudik Aman dan Sehat”, itu masalahnya.

Dari sisi penyebaran Covid-19 yang sejak Maret lalu trennya terus turun, dikhawatirkan bakal melonjak lagi seperti pada pengalaman pasca lebaran dua tahun sebelumnya (1442H atau 2021 dan 1442H atau 2022).

Bisa dibayangkan, kesulitan pengaturan atau rekayasa lalin di jalur-jalur angkutan darat terutama di P. Jawa karena arus mudik bakal didominasi oleh kendaraan pribadi dan sepeda motor, sementara jumlah pemudik diprediksi yang terbesar sepanjang masa.

Dalam survei yang digelar Kemenhub  22 sampai 31 Maret saat jumlah pemudik diperkirakan 83,5 juta orang), sekitar 23,1 juta pemudik diperkirakan menggunakan mobil pribadi (26,8 persen), 14,9 juta dengan sepeda motor (18, 7 persen).

Selanjutya , 12,9 juta dengan bus (16,3 persen), 9,6 juta dengan pesawat (12,1 persen), 7,2 juta KA (9,0 persen), 1,1 juta kapal laut (1,4 persen) dan 900-ribu dengan kapal penyeberangan (1,2 persen).

Tak kurang dari Presiden Jokowi mengingatkan para calon pemudik agar menghindari puncak arus mudik yang diperkirakan akan terjadi antara 28 dan 30 April, 2022.

Pemerintah sendiri akan mengantisipasi kemacetan dengan melakukan rekayasa lalin, pengaturan pelat nomor ganjil-genap, pemberlakuan lalu-lintas searah dan larangan bagi kendaraan truk memasuki tol selama musim mudik dan libur lebaran.

Kemenhub seperti dilaporkan jubirnya, Ade Irawati mengemukakan, aspek keselamatan dan kesehatan dari penyebaran Covid-19 menjadi tanggung jawab semua pihak terkait, baik instansi pemerintah mau pun para pemudik. Pihaknya sejauh ini juga sudah melakukan pengecekan terhadap kesiapan pengangkutan termasuk PT Pelni.

 Miliki Antibodi

Terkait penyebaran Covid-19, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengemukakan, berdasarkan survei Covid-19 terbaru, sekitar 92,2 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki antibodi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Selain itu kadar antibodi yang diukur juga sudah cukup tinggi. Jika pada Desember 2001 baru titer antibodinya sekitar 500 sampai 600, kini sudah naik sampai 7.000. “Berarti antibodi dan kadar (titer) antibodi sudah cukup tinggi, “ ujarnya.

Dengan antbodi dan titer antibodi setinggi itu, kata BGS, orang yang tertular cepat sembuh dan yang tertular bergejala ringan, tidak perlu dirawat di RS.

Selain ancaman lonjakan Covid-19 di tengah kerumunan saat mudik, helat dan kumpul-kumpul di kampung halaman serta keramaian di obyek-obyek  wisata juga bakal menjadi ancaman potensi kecelakaan, apalagi yang berkendara dalam jarak jauh.

Siapkan kendaraan sebaik-baiknya, juga kondisi kesehatan. Segera pinggirkan kendaraan dan cari tempat istirahat jika sudah terasa Lelah, jangan memaksa diri!

Jangan sampai kegembiraan dalam suasana Idul Fitri, berkumpul dengan kaum kerabat, berubah menjadi suasana duka atau berujung lonjakan Covd-19! (Kompas/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement