Puluhan Juta Penduduk Dunia Tewas (1876 – 1878) Akibat El Nino

ElNino terkuat sepanjang lebih 100 tahun terakhir akan terjadi medio 2026 sampai awal 2027 yag akan mengakibatkan iklim ekstrim di berbagai belahan bumi termasuk Indonesia. Aksi mitigasi dan antisipasi perlu dilakukan sejak dinii (ilustrasi: screenshot)

JAKARTA – KBKNEWS – EL NINO mengakibatkan bencana kelaparan global, menewaskan 30-60 juta orang seperti ditulis oleh imuwan iklim Deepti Singh dari Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia, Amerika Serikat, dikutip dari laman Global Science (GS).

“Kekeringan melanda sebagian besar planet ini, menyebabkan kekurangan pangan mulai dari Brasil hingga India dan Cina, dan memusnahkan sekitar tiga persen populasi penduduk dunia, “ungkap Deepti Singh.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa El Niño sebagian bertanggung jawab atas kelaparan global. Dipicu oleh suhu di Samudra Pasifik khatulistiwa, El Niño adalah pola iklim yang sering disertai dengan kondisi hangat dan kering di India, Australia, dan Amerika Selatan.

Dalam makalahnya, Singh dan rekan-rekannya memberikan beberapa bukti kuantitatif pertama bahwa bencana lingkungan ini kemungkinan besar disebabkan oleh El Niño terkuat yang pernah diukur oleh instrumen manusia. Mereka juga menemukan bahwa kondisi ekstrem lainnya mungkin juga berperan.

Pendapat Singh diperkuat oleh Jurnal American Meteoroligcal Society, yang menuliskan bahwa di antara kelaparan tersebut, yang disebut Kelaparan Global yang berlangsung dari tahun 1876 hingga 1878 adalah yang paling parah dan meluas setidaknya dalam 150 tahun terakhir.

Kelaparan Global menimbulkan penderitaan akut pada penduduk di berbagai bagian Asia Selatan dan Timur, Brasil, dan Afrika, dengan total korban jiwa diperkirakan melebihi 50 juta.

Kelaparan ini dikaitkan dengan kekeringan berkepanjangan di India, Cina, Mesir, Maroko, Ethiopia, Afrika selatan, Brasil, Kolombia, dan Venezuela.

Dokumentasi sejarah menunjukkan angka kematian akibat kelaparan antara 12,2 dan 29,3 juta di India, antara 19,5 dan 30 juta di Cina, dan sekitar 2 juta di Brasil setara sekitar 3 persen dari populasi global pada saat itu.

“Ini bisa dibilang bencana lingkungan terburuk yang pernah menimpa umat manusia dan salah satu malapetaka terburuk dalam setidaknya 150 tahun terakhir, dengan korban jiwa yang sebanding dengan Perang Dunia I dan II serta epidemi influenza 1918/1919.

Pemicu kelaparan adalah kekeringan akut, tetapi faktor politik dan ekonomi, terutama pengabaian atau penghancuran sistem penyimpanan air dan biji-bijian tradisional, bertanggung jawab atas kegagalan panen yang berujung pada kematian massal yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis laman jurnal tersebut.

Paling parah sepanjang 300 tahun
Studi itu mengungkapkan, kekeringan tahun 1876-78 di Tiongkok utara, yang mengakibatkan kegagalan panen berturut-turut, adalah yang paling parah dalam 300 tahun terakhir berdasarkan rekonstruksi curah hujan musiman di cekungan Sungai Kuning.

Kemudian Brasil timur laut mengalami kondisi kekeringan parah, dan sebagian wilayah pesisir barat laut dan Amerika Selatan bagian tenggara mengalami curah hujan yang intens dan banjir yang sering terjadi selama periode 1877-1878.

Studi-studi ini mengaitkan kondisi ekstrem tersebut dengan kondisi mirip El Niño di Pasifik.
“Sejauh pengetahuan kami, tampaknya belum ada analisis dan atribusi penyebab kekeringan skala global sebelumnya pada tahun-tahun sebelum, selama, dan setelah El Niño 1877-78.”

Medio 2026 hingga awal 2027
Fenomena El Nino tahun ini diprediksi kuat akan berkembang pada paruh kedua tahun ini dan berpotensi bertahan hingga awal 2027.

BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau kali ini akan datang lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang, dengan dampak utama yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Oktober.

Pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga global seperti NOAA menunjukkan adanya transisi menuju kondisi El Nino yang dapat meningkat menjadi skala moderat hingga sangat kuat (sering diistilahkan dengan El Nino ekstrem atau “Godzilla”).

Para ilmuwan global bahkan memproyeksikan suhu rata-rata global berpotensi memecahkan rekor tertinggi akibat kombinasi fenomena ini.

Wilayah Paling Terdampak di Indonesia
Dampak El Nino tidak merata, dengan wilayah yang memiliki pola hujan monsun (tipe A) menjadi daerah paling rentan. Dampak kekeringan ekstrem diprediksi meliputi:
Paling Awal Terdampak: Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Perluasan Dampak: Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Wilayah Relatif Aman: Wilayah Indonesia bagian utara seperti Medan dan sebagian Maluku tidak mengalami tekanan kekeringan sebesar wilayah selatan.

Ketahanan Pangan: Penurunan curah hujan secara drastis mengancam wilayah sentra produksi padi utama, seperti di Pulau Jawa, sehingga berpotensi mengganggu pasokan dan harga komoditas pangan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here