ADA teka-teki lama yang mungkin pembaca belum pernah tahu dan mendengar. Yakni, apa bedanya dalang wayang dan dalang kerusuhan? Mikir dulu, itung-itung sebagai ngabuburit sampai bedug magrib tiba. Tetap nggak ngerti? Jawabannya ternyata; kalau dalang wayang baik kulit maupun golek di bulan Ramadan sepi tanggapan, dalang kerusuhan di bulan Ramadan justru banyak order. Mereka harus mendanai demo-demo, baik berupa uang tunai maupun nasi bungkus.
Kita menyaksikan sendiri, selama Ramadhan 1443 H ini dalang kerusuhan berhasil mengorder 2 demo “legendaris”. Pertama 11 April di Patung Kuda depan Istana Negara, dan halaman gedung DPR Senayan. Yang kedua 21 April lalu di Patung Kuda juga. Topiknya sama-sama basinya, yakni soal menolak pengunduran Pemilu dan Presiden 3 periode. Bagaimana tak disebut basi, pemerintah sudah bersikap sebelum demo itu berlangsung, eh masih ngeyel demo lagi.
Dua demo mahasiswa itu juga disebut legendaris, karena baru kali ini saja ada demo di bulan puasa. Puasa itu kan ujian kesabaran bagi para soimin dan soimat, tapi jika sampai emosi dan pukuli orang, itu berarti para mahasiswa itu tak lagi bisa mengekang hawa nafsunya. Jauuuuh sebelum itu, orang-orang seperti para pendemo disindir hadits Nabi yang berbunyi: banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan haus dan lapar belaka.
Dibanding mahasiswa Mei 1998, mahasiswa pendemo 11 dan 21 April itu bukan apa-apanya. Di Mei 1998 mereka berhasil menurunkan Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Sedangkan mahasiswa yang sekarang ini, hanya berhasil menurunkan celana pegiat sosial Ade Armando. Padahal mereka sesumbar, pada 11 April; 2022 Presiden Jokowi akan turun. Turun dari tangga Istana ngkali!
Mereka bisa-bisanya mengatasnamakan rakyat. Rakyat yang mana, kapan rakyat memberi kuasa para mahasiswa itu untuk demo unfaedah? Paling menggelikan, kordinator BEM-SI ini bilang bahwa di masa Orde Baru rakyat terjamin kesejahteraannya dan kebebasannya. Ini mengingatkan pada lagu Udin Sedunia yang dinyanyikan Udin Sualudin Majnun. “Udin yang kurang baca sejarah, namanya Kaharudin…..!”
Jika sang kordinator BEM-SI ini mau banyak baca sejarah tentang Orde Baru, tak mungkinlah mengatakan begitu. “Petisi 50” misalnya, gara-gara mengritik Pak Harto, para peneken petisi langsung diblack list, gerak-geriknya diawasi, mau bisnis dipersulit, mau kondangan saja diseleksi. Pejabat tinggi negara berpotensi menjadi pesaing yang menghadirkan “matahari kembar” langsung dicopot. Nah, yang begini-begini si kordinator BEM-SI tidak tahu karena kala itu masih di “pucuk pring” alias belum diprogram.
Sebetulnya, jika para pendemo itu ngerti tembung (paham kata) pastilah tak mau buang-buang energi berpanas-panas di bulan puasa, hanya demo yang sudah dijawab tegas oleh pemerintah. Soal Pemilu ditunda, pemerintah sudah menolak. Masalah jabatan presiden 3 perioda, Presiden Jokowi sudah menolak. Soal harga-harga naik menjelang Lebaran, pemerintah juga sedang mengantisipasi. Kurang apa lagi? Jangan-jangan mereka karena sudah kadung terima order, maka untuk “nomer bukti” ya demolah sebisanya.
Diduga keras demo-demo salah mangsa ini karena pesanan, atau ada dalangnya. Ada yang menuding si “Anarko”, ada pula yang menuduh si KAMI, sehingga Gatot Nurmantyo selaku deklaratornya bilang, “Jika ada intelejen mengatakan begitu, itu intelejen yang sudah hilang akal.”
Mahasiswanya sendiri ketika ditanya pers, tentu saja tak mau buka kartu. Tapi yang bikin gemes, Kordinator media BEM-SI Lutfi ketika ditanya siapa dalang kerusuhan jawabnya malah pelaku kerusuhan itu sendiri, yakni pelaku merupakan oknum provokator dan penyusup. Bagaimana ini, yang ditanya soal A kok jawabnya B.
Uniknya media online bikin judulnya juga “menipu” pembacanya: BEM SI Ungkap Dalang Kerusuhan Demo 11 April, Sudah Diduga. Padahal ketika dibaca beritanya, tak ada dalang kerusuhan itu! Yang ada hanyalah para pelaku kerusuhan. Tapi begitulah memang gaya bikin judul media online sekarang, dimanipulasi agar dibaca.
Bagi para mahasiswa calon pewaris bangsa, sudah tahu bahwa demo sering disusupi provokator, mestinya berdemo harus lebih berhati-hati dan bijak. Sesuatu yang sudah dipenuhi pemerintah, bahkan sebelum ada demo, tak perlulah buang-buang energi dengan menggelar demo yang pada akhirnya malah bikin susah masyarakat umum selaku pengguna jalan dan angkutan. (Cantrik Metaram)





